Opini
Ibu dan Sumber Kehidupan dalam Dialog Getir
Seorang aktor perempuan berusia lanjut berdiri di atas hamparan kantong plastik beraneka warna. Sementara itu, seorang aktor perempuan lain
Hal menarik lainnya yang hadir pada bagian ini adalah munculnya sejumlah kritikan yang disampaikan dengan satir. Salah satu kritikan tersebut dengan cukup gamblang ditujukan terhadap otoritas negara atau penyelenggara pemerintahan. Makanan tradisional mulai diinventarisasi, untuk kemudian dicatat sebagai makanan tradisional yang otentik dan menjadi identitas budaya masyarakat lokal. Hanya saja, agaknya hal tersebut kerap lepas dari nilai di balik hadirnya makanan tersebut, dimana setiap hadirnya sebuah makanan tradisional tentunya berkaitan erat dengan tradisi, egalitarianisme dan komunalisme masyarakat Minangkabau.
Baca juga: Opini Ketika Cerita Bertindak Tutur
“Aku rindu makan dari tanganmu, Bu, tapi tanganmu kini gemetar dan dapurmu sudah jadi museum yang diresmikan pemerintah,” tutur salah seorang aktor.
Terdapat dua poin penting yang perlu dilihat lebih jauh dari dialog ini. Potongan “Aku rindu makan dari tanganmu, Bu, tapi tanganmu kini gemetar,” adalah dialog yang memiliki makna yang dalam bagi setiap individu. Seketika, memori penulis dibawa ke puluhan tahun lalu, ketika tangan seorang perempuan paro baya yang menyiapkan sesuap nasi di tangannya, untuk kemudian melabuhkan suapan itu ke mulut anaknya. Jika nasinya panas, karena baru saja matang setelah ditanak di tungku, maka nasi itu akan dibuat menjadi kepalan dan ditiup hingga dingin. Potongan dialog tersebut jelas telah membangkitkan ingatan akan momen yang sudah terpendam lama.
Sementara itu, kritikan yang cukup pedas kepada pemerintah disampaikan pada dialog “Dapurmu sudah jadi museum yang diresmikan pemerintah”. Kata pemerintah yang disampaikan oleh aktor dalam dialog ini terkesan sangat umum, dan membuat penafsirannya menjadi semakin luas. Di level nasional, urusan permuseuman berada di bawah domain Kementerian Kebudayaan melalui sejumlah UPT di bawahnya. Sementera untuk level daerah, sejumlah museum berada di bawah Dinas Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau pun dinas terkait lainnya.
Terlepas dari pada itu, hal yang perlu ditelisik adalah alasan apa kiranya yang mendasari hal tersebut disinggung dalam dialog ini? Dapur pada dasarnya adalah bagian penting yang harus ada dalam sebuah bangunan rumah. Dapur memiliki peran dan fungsi penting untuk menjamin kelangsungan hidup anggota keluarga. Dalam kebiasaan masyarakat tradisional Minangkabau di masa lalu, apabila dapur sebuah keluarga tidak berasap di pagi hari, maka dapat dipastikan terjadi sesuatu di keluarga tersebut.
Dapur tentu saja tidak dapat dimaknai secara sempit sebagai tempat memasak makan semata. Dapur adalah simbol dari ketahanan ekonomi dan simbol keberlanjutan hidup bagi masyarakat. Mengingat arti pentingnya, semestinya menjadi masalah besar ketika dapur sudah mulai dijadikan museum. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan jelas menyebutkan bahwa museum memiliki defenisi gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu; tempat menyimpan barang kuno. Pertanyaan besarnya adalah, apakah dapur sebagai simbol nadi kehidupan masyarakat suatu saat hanya akan dipamerkan sebagai bagian dari koleksi etnografi semata?
Baca juga: Opini Suara Perempuan dalam Kata
Selanjutnya, kritik lain juga disampaikan pada dialog berikut;
“Apa salah ku, Bu, jika aku tidak tau rasa sayur dari ladang sendiri, apa salah ku jika aku lebih mengenal nama-nama influencer makanan dari pada nama-nama tumbuhan,”
Secara umum, dialog ini dapat dilihat sebagai sebuah protes seorang anak akan kondisi ketidaktahuan akan lingkungan sendiri. Sebagaimana disinggung sebelumnya, laju modernisasi dan globalisasi adalah hal yang sulit untuk dibendung. Tidak dapat dipungkiri, kondisi dimana generasi muda saat ini sudah tidak lagi mengenal lingkungannya, dan sebaliknya malah mengenal sesuatu yang sebenarnya jauh dari lingkungan sosial mereka. Sederhanya, seberapa banyak generasi alfa yang masih mengenali nama beraneka bumbu dapur yang dahulunya sering ditanami di sekitar rumah? Atau jenis-jenis tumbuhan tradisional yang dahulunya sering digunakan orang tua-tua sebagai obat, bahkan sekadar obat penurun panas dalam?
Ibu adalah Sumber Kehidupan!
Jika diurai satu persatu, pertunjukan ini tentu tidak hanya fokus pada satu atau dua isu semata, maupun satu atau dua kritikan belaka. Akan tetapi, hal yang cukup umum dan agaknya menjadi benang merah dari pertunjukan ini adalah sosok seorang ibu. Ibu dalam konteks ini tidak hanya ibu dalam artian sosok dalam hubungan biologis. Lebih jauh, ibu di sini juga dapat mengacu pada konteks yang lebih luas, tidak hanya dengan satu individu, tapi satu entitas masyarakat.
Tanah, air, bumi dan alam secara umum adalah ibu bagi entitas masyarakat tertentu. Bagi masyarakat Minangkabau yang menganut matrilineal, perempuan yang secara spesifik mengacu pada sosok bundo kanduang memiliki peran yang sangat krusial. Salah satu peran penting dari sosok seorang bundo kanduang adalah sebagai pemegang kuasa atas tanah ulayat atau pun harta pusaka tinggi kaum. Dalam hal ini, terlihat sangat jelas bahwa sosok bundo kanduang memiliki kaitan erat dengan tanah yang menjadi sumber penghidupan bagi anggota kaumnya.
Baca juga: Opini : Pelayanan Publik di Persimpangan Jalan: Antara Kewajiban Negara, dan Kegelisahan Rakyat
Sosok ibu dalam pertunjukan ini tidak hanya disebut dalam dialog, tapi juga sebagai tokoh. Sosok perempuan yang memainkan tokoh ibu, atau kerap dipanggil ibu oleh aktor lain menjadi tempat menyampaikan keluh kesah, tempat mengadu, tempat memulangkan segala keresahan. Jika dimaknai lebih jauh, ibu tidak hanya dapat dilihat sebagai personal, akan tetapi simbol dari alam, tempat bermula segala kehidupan.
Kehadiran sosok perempuan di salah satu sudut panggung memperkuat narasi tentang betapa krusialnya ibu dalam kehidupan. Di samping para aktor yang sibuk dengan lakon dan dialognya masing-masing, terdapat sesosok perempuan yang sedang mengamati, mendengar dan meyimak dialog dari aktor lain. Sekalipun hadirnya sosok perempuan tersebut dihadirkan dalam dimensi yang berbeda dengan pemain lain, akan tetapi emosinya saling terhubung satu sama lain, diperlihatkan dengan respon yang diberikan, baik berupa laku atau sekedar ekspresi wajah.
Oleh karenanya, isu kerusakan lingkungan, ketahanan pangan, ketersediaan tanah dan air tidak terlepas dari arti penting alam sebagai sumber kehidupan. Seperti seorang ibu biologis, ibu tentu akan menjajikan kehidupan yang baik dan layak bagi anak-anaknya. Hanya saja, untuk memastikan ibu dapat memberikan kehidupan, sudah sejauh mana manusia memberikan perlindungan terhadap seorang ibu? Sebagaimana ditekankan pada dialog berikut;
“Aku ini ibu! Aku ini tanah! Aku ini tubuh yang ditanami janji lalu dicabut sebelum panen. Kalian pikir kalian saja yang lapar? Ibu pun juga lapar, lapar akan kalian yang mengerti bahwa dunia ini butuh penjaga, bukan pemilik”.*****
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Penampilan-Komunitas-Sd.jpg)