Opini

Ibu dan Sumber Kehidupan dalam Dialog Getir

Seorang aktor perempuan berusia lanjut berdiri di atas hamparan kantong plastik beraneka warna. Sementara itu, seorang aktor perempuan lain

Tayang:
Editor: Rahmadi
Dok. Syahrul
SENI NAN TUMPAH - Penampilan Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) asal Padangppariaman Sumatra Barat dalam Festival Teater Sumatera yang digelar di Taman Budaya Sriwijaya Palembang, Sumatra Selatan, Kamis, 25/9/2025 

Oleh Syahrul Rahmat, Dosen STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau/Peneliti Regalia Institute

Sebuah Catatan untuk Pementasan Indomiii Rasa Rendang/Sambil Menyelam Minum Plastik

Seorang aktor perempuan berusia lanjut berdiri di atas hamparan kantong plastik beraneka warna. Sementara itu, seorang aktor perempuan lain, berjalan menghampiri perempuan pertama sembari mengobral aneka makanan melalui pelantang di tangannya. Perempuan pertama yang berdiri mematung, posisi anggota tubuhnya diubah sesuka hati oleh perempuan kedua, menekuk kaki, tangan, bahkan mengubah ekspresi wajah yang memancing tawa ringan dari penonton.

Kostum dan laku keduanya, terlihat begitu kontras. Perempuan pertama, mencitrakan sosok perempuan Minang dengan tingkuluak (penutup kepala tradisional Minang) berbahan batik dan berbaju longgar. Sementara itu, perempuan kedua adalah sosok energik yang berdialog dengan lantang. Kepalanya diikat scraft berupa sapu tangan bermotif, sementara badannya ditutupi jaket jeans dengan beberapa tambalan. Jelas, perempuan kedua terkesan ‘gaul’ dan mendominasi sajian pembuka pementasan.

Pada adegan lain, delapan aktor terlihat begitu asik dengan aktivitas mereka. Mengais apa pun dari tumpukan kantong plastik umpama sampah berserakan, kemudian berlaku seolah menemukan sesuatu dan kemudian memakannya dengan lahap. Hal tersebut kemudian dipromosikan seperti seorang food vlogger maupun konten kreator yang mukbang atau sedang mengulas makanan, seperti banyaknya konten makanan yang berseliweran di media sosial.

"Bagi yang suka dibantu like-nya, dibantu tap-tap layar dan jangan lupa support gift nya," ucap seorang aktor pria berambut pendek yang nyaris plontos.

Baca juga: Opini: Melangkah dengan Semangat Optimisme

Sajian visual artistik dan tata panggung yang disajikan Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) dalam Festival Teater Sumatera III pada 25 September 2025 itu, memperlihatkan concern mereka terhadap isu lingkungan hidup. Hal tersebut senada dengan tema festival teater yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Sumatera Selatan yang bertajuk Pangan: Tanah, Air dan Ingatan. Pada pementasan yang digelar di Taman Budaya Sriwijaya Palembang itu, KSNT menampilkan pertunjukan berjudul “Indomiii Rasa Rendang/Sambil Menyelam Minum Plastik”.

Hamparan kantong plastik yang memenuhi panggung adalah bagian penting yang perlu dimaknai secara seksama. Tidak dapat dipungkiri, Indonesia adalah negara darurat sampah, dimana data dari Sistem Pengelolaan Sampah Nasional (SPSN), Kementerian Lingkungan Hidup RI, per 17 April 2025 tercatat sebanyak 33,621 juta ton timbulan sampah per tahun. Sebanyak 39,91 persen dari jumlah tersebut tidak terkelola, artinya, terdapat sebanyak 13,417 juta ton sampah yang tidak terkelola. Tidak hanya itu, mengutip pernyataan Manajer Kampanye Polusi dan Urban Walhi Nasional, Abdul Ghofar, dalam artikel yang diterbitkan Mongabay 19 April 2025, darurat sampah di Indonesia diperparah dengan adanya produk-produk fast moving consumer goods (FMCG) atau produk konsumsi dengan cepat dan harga relatif rendah.

Visualisasi sampah plastik yang menarik perhatian sejak pertama kali lampu dihidupkan ini, menjadi keresahan awal yang akan mengantarkan pada isu lain yang tidak kalah penting untuk disampaikan. Tanpa mengabaikan peran aktor lain, dapat dipahami bahwa kehadiran dua sosok perempuan yang dideskripsikan pada awal tulisan ini adalah kunci penting untuk memahami jalannya pertunjukan. Keduanya tidak hanya akan diulas sebagai peran personalnya sebagai tokoh, melainkan fungsi sosial sosok tersebut dalam masyarakat. 

Kedaulatan atas Pangan dalam Narasi Kenangan

Secara keseluruhan, pertunjukan yang berlangsung selama lebih kurang satu jam ini dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama mengulas tentang fenomena masa sekarang tentang arus globalisasi yang menyasar banyak aspek dalam kehidupan masyarakat, serta ketergantungan masyarakat terhadap hal-hal instan. Bagian kedua masuk pada bagian yang memperlihatkan munculnya kesadaran bahwa modernisasi, globalisasi dan berbagai pengaruh lain sudah membuat masyarakat mulai meninggalkan kearifan lokal, kedaulatan atas tanah dan air sehingga segalanya berakhir menjadi kenangan. Bagian ketiga dari pertunjukan ini memperlihatkan bahwa arus globalisasi dan modernisasi itu adalah hal yang sulit untuk dilawan, dan akan menjadi sebuah siklus.

Baca juga: Opini : Keluarga sebagai Sekolah Pertama: Menakar Ulang Romantisme Pendidikan Pesantren

Tulisan ini lebih lanjut fokus untuk melihat pertunjukan yang disutradarai oleh Mahatma Muhammad ini menyajikan kesadaran akan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Kearifan lokal beserta hubungan manusia dengan lingkungan sosial mereka di masa lalu disajikan dengan dialog-dialog bernada getir. Hal ini dapat terdapat pada salah satu dialog aktor perempuan yang berbunyi sebagai berikut; 

“Bu, aku sudah menggali, tak ada cacing, tak ada akar, hanya plastik, dan serpihan kenangan,” tutur aktor tersebut dengan lirih.

Hal ini memperlihatkan bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia yang pada dasarnya memiliki ketergantungan terhadap lingkungan, terutama terkait ketersediaan bahan makanan. Di masa lalu, terutama di wilayah Sumatera Barat, istilah ketahanan pangan agaknya bukanlah istilah baru. Setiap keluarga pada umumnya memanfaatkan lahan kosong untuk menanam beraneka tumbuhan guna dikonsumsi sehari-hari. 

Jika dilihat kondisi saat ini, lahan kosong, apalagi lahan pertanian, perlahan mulai beralih fungsi. Sawah-sawah mulai beralih menjadi perumahan, tanah-tanah di pinggir jalan mulai beralih menjadi deretan ruko. Perkembangan zaman, pembangunan besar-besaran, serta pertumbuhan masyarakat dalam skala besar perlahan mulai mengikis kebiasaan masyarakat yang sebenarnya mampu bertahan dengan lahan yang mereka miliki. Ketahanan pangan masyarakat lambat laun mulai menjadi kenangan semata, sebagaimana ditekankan dalam potongan dialog “….tak ada ada akar, hanya plastik dan serpihan kenangan,” di atas.

Hal menarik lainnya yang hadir pada bagian ini adalah munculnya sejumlah kritikan yang disampaikan dengan satir. Salah satu kritikan tersebut dengan cukup gamblang ditujukan terhadap otoritas negara atau penyelenggara pemerintahan. Makanan tradisional mulai diinventarisasi, untuk kemudian dicatat sebagai makanan tradisional yang otentik dan menjadi identitas budaya masyarakat lokal. Hanya saja, agaknya hal tersebut kerap lepas dari nilai di balik hadirnya makanan tersebut, dimana setiap hadirnya sebuah makanan tradisional tentunya berkaitan erat dengan tradisi, egalitarianisme dan komunalisme masyarakat Minangkabau.

Baca juga: Opini Ketika Cerita Bertindak Tutur

 “Aku rindu makan dari tanganmu, Bu, tapi tanganmu kini gemetar dan dapurmu sudah jadi museum yang diresmikan pemerintah,” tutur salah seorang aktor.

Terdapat dua poin penting yang perlu dilihat lebih jauh dari dialog ini. Potongan “Aku rindu makan dari tanganmu, Bu, tapi tanganmu kini gemetar,” adalah dialog yang memiliki makna yang dalam bagi setiap individu. Seketika, memori penulis dibawa ke puluhan tahun lalu, ketika tangan seorang perempuan paro baya yang menyiapkan sesuap nasi di tangannya, untuk kemudian melabuhkan suapan itu ke mulut anaknya. Jika nasinya panas, karena baru saja matang setelah ditanak di tungku, maka nasi itu akan dibuat menjadi kepalan dan ditiup hingga dingin. Potongan dialog tersebut jelas telah membangkitkan ingatan akan momen yang sudah terpendam lama.

Sementara itu, kritikan yang cukup pedas kepada pemerintah disampaikan pada dialog “Dapurmu sudah jadi museum yang diresmikan pemerintah”. Kata pemerintah yang disampaikan oleh aktor dalam dialog ini terkesan sangat umum, dan membuat penafsirannya menjadi semakin luas. Di level nasional, urusan permuseuman berada di bawah domain Kementerian Kebudayaan melalui sejumlah UPT di bawahnya. Sementera untuk level daerah, sejumlah museum berada di bawah Dinas Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau pun dinas terkait lainnya.

Terlepas dari pada itu, hal yang perlu ditelisik adalah alasan apa kiranya yang mendasari hal tersebut disinggung dalam dialog ini? Dapur pada dasarnya adalah bagian penting yang harus ada dalam sebuah bangunan rumah. Dapur memiliki peran dan fungsi penting untuk menjamin kelangsungan hidup anggota keluarga. Dalam kebiasaan masyarakat tradisional Minangkabau di masa lalu, apabila dapur sebuah keluarga tidak berasap di pagi hari, maka dapat dipastikan terjadi sesuatu di keluarga tersebut. 

Dapur tentu saja tidak dapat dimaknai secara sempit sebagai tempat memasak makan semata. Dapur adalah simbol dari ketahanan ekonomi dan simbol keberlanjutan hidup bagi masyarakat. Mengingat arti pentingnya, semestinya menjadi masalah besar ketika dapur sudah mulai dijadikan museum. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan jelas menyebutkan bahwa museum memiliki defenisi gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu; tempat menyimpan barang kuno. Pertanyaan besarnya adalah, apakah dapur sebagai simbol nadi kehidupan masyarakat suatu saat hanya akan dipamerkan sebagai bagian dari koleksi etnografi semata? 

Baca juga: Opini Suara Perempuan dalam Kata

Selanjutnya, kritik lain juga disampaikan pada dialog berikut;

“Apa salah ku, Bu, jika aku tidak tau rasa sayur dari ladang sendiri, apa salah ku jika aku lebih mengenal nama-nama influencer makanan dari pada nama-nama tumbuhan,” 

Secara umum, dialog ini dapat dilihat sebagai sebuah protes seorang anak akan kondisi ketidaktahuan akan lingkungan sendiri. Sebagaimana disinggung sebelumnya, laju modernisasi dan globalisasi adalah hal yang sulit untuk dibendung. Tidak dapat dipungkiri, kondisi dimana generasi muda saat ini sudah tidak lagi mengenal lingkungannya, dan sebaliknya malah mengenal sesuatu yang sebenarnya jauh dari lingkungan sosial mereka. Sederhanya, seberapa banyak generasi alfa yang masih mengenali nama beraneka bumbu dapur yang dahulunya sering ditanami di sekitar rumah? Atau jenis-jenis tumbuhan tradisional yang dahulunya sering digunakan orang tua-tua sebagai obat, bahkan sekadar obat penurun panas dalam?

Ibu adalah Sumber Kehidupan!

Jika diurai satu persatu, pertunjukan ini tentu tidak hanya fokus pada satu atau dua isu semata, maupun satu atau dua kritikan belaka. Akan tetapi, hal yang cukup umum dan agaknya menjadi benang merah dari pertunjukan ini adalah sosok seorang ibu. Ibu dalam konteks ini tidak hanya ibu dalam artian sosok dalam hubungan biologis. Lebih jauh, ibu di sini juga dapat mengacu pada konteks yang lebih luas, tidak hanya dengan satu individu, tapi satu entitas masyarakat. 

Tanah, air, bumi dan alam secara umum adalah ibu bagi entitas masyarakat tertentu. Bagi masyarakat Minangkabau yang menganut matrilineal, perempuan yang secara spesifik mengacu pada sosok bundo kanduang memiliki peran yang sangat krusial. Salah satu peran penting dari sosok seorang bundo kanduang adalah sebagai pemegang kuasa atas tanah ulayat atau pun harta pusaka tinggi kaum. Dalam hal ini, terlihat sangat jelas bahwa sosok bundo kanduang memiliki kaitan erat dengan tanah yang menjadi sumber penghidupan bagi anggota kaumnya.

Baca juga: Opini : Pelayanan Publik di Persimpangan Jalan: Antara Kewajiban Negara, dan Kegelisahan Rakyat

Sosok ibu dalam pertunjukan ini tidak hanya disebut dalam dialog, tapi juga sebagai tokoh. Sosok perempuan yang memainkan tokoh ibu, atau kerap dipanggil ibu oleh aktor lain menjadi tempat menyampaikan keluh kesah, tempat mengadu, tempat memulangkan segala keresahan. Jika dimaknai lebih jauh, ibu tidak hanya dapat dilihat sebagai personal, akan tetapi simbol dari alam, tempat bermula segala kehidupan.

Kehadiran sosok perempuan di salah satu sudut panggung memperkuat narasi tentang betapa krusialnya ibu dalam kehidupan. Di samping para aktor yang sibuk dengan lakon dan dialognya masing-masing, terdapat sesosok perempuan yang sedang mengamati, mendengar dan meyimak dialog dari aktor lain. Sekalipun hadirnya sosok perempuan tersebut dihadirkan dalam dimensi yang berbeda dengan pemain lain, akan tetapi emosinya saling terhubung satu sama lain, diperlihatkan dengan respon yang diberikan, baik berupa laku atau sekedar ekspresi wajah. 

Oleh karenanya, isu kerusakan lingkungan, ketahanan pangan, ketersediaan tanah dan air tidak terlepas dari arti penting alam sebagai sumber kehidupan. Seperti seorang ibu biologis, ibu tentu akan menjajikan kehidupan yang baik dan layak bagi anak-anaknya. Hanya saja, untuk memastikan ibu dapat memberikan kehidupan, sudah sejauh mana manusia memberikan perlindungan terhadap seorang ibu? Sebagaimana ditekankan pada dialog berikut;

“Aku ini ibu! Aku ini tanah! Aku ini tubuh yang ditanami janji lalu dicabut sebelum panen. Kalian pikir kalian saja yang lapar? Ibu pun juga lapar, lapar akan kalian yang mengerti bahwa dunia ini butuh penjaga, bukan pemilik”.*****

 

 

 

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved