Opini
Anomali Gen Z dalam Demokrasi Indonesia
Masyarakat sipil yang dimobilisasi adalah penangkal penting terhadap tren kemunduran demokrasi global yang sedang berlangsung
Penulis: M Nurul Fajri*
Kondisi Gen Z di Indonesia secara politik berada pada situasi anomali.
Menurut banyak studi (McKinsey & Company; The Annie E Casey Foundation; BRIN) Gen Z adalah generasi yang progresif dan inklusif secara politik.
Pemikiran yang progresif dan inklusif secara politik ini dalam beberapa waktu terakhir menggeliat di beberapa negara seperti, Kenya, Madagaskas, Peru, Bangladesh, Nepal, Serbi, Prancis, Filipina termasuk Indonesia.
Di Bangladesh, Nepal, Prancis dan Filipina Gen Z menjadi motor utama proses demokratisasi beberapa waktu terakhir.
Studi terbaru berpendapat bahwa masyarakat sipil yang dimobilisasi adalah penangkal penting terhadap tren kemunduran demokrasi global yang sedang berlangsung (Stephan Haggard, 2021).
Sepanjang garis ini, pembaca yang terinformasi mungkin menyimpulkan bahwa protes Gen-Z adalah indikator positif dari perlawanan massa terhadap otoritarianisme, benteng yang meningkat melawan gelombang illiberal global (Erica Chenoweth & Matthew Cebul, 2026).
Di Indonesia Gen Z menjadi anomali.
Sekalipun dalam rentang waktu akhir Agustus – awal September lalu peran Gen Z sangat penting dalam berbagai aksi demonstrasi di berbagai daerah di Indonesia.
Representasi Politik
Delpedro Marhaen, Muzzafar Salim, Muhammad Fakhrurrozi atau Paul, Laras Faizati, Syahdan Husein, Khairiq Anhar, Figha Lesmana beserta ribuan lainnya yang ditahan kemudian menjadi ratusan yang menjalani proses hukum/dikriminalisasi karena tuduhan keterlibatan terhadap aksi demonstrasi beberapa waktu bukanlah korban.
Akan tetapi adalah tumbal untuk melanjutkan agenda kemunduran demokrasi.
Dengan generasi Z (Gen Z) adalah target utamanya.
Dalam temuan penelitian dari Muhtadi, Warburton dan Gammon (2025) menunjukkan bahwa Gen Z hari ini melihat demokrasi sebagai sebuah “given”.
Merasa puas dengan demokrasi ketika kualitas demokrasi sedang menurun, baik di Indonesia maupun secara global.
| Kearifan Lokal Minangkabau Jadi Kunci Keberhasilan Transisi Energi |
|
|---|
| Radical Break: Titik Balik yang Mengubah Nasib Bangsa |
|
|---|
| Keadilan Restoratif: Jalan Tengah antara Kepastian Hukum dan Kemanusiaan |
|
|---|
| Galodo dan Dosa Pembangunan: Saat Negara Diuji oleh Murka Alam |
|
|---|
| Ibu dan Sumber Kehidupan dalam Dialog Getir |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/M-Nurul-Fajri.jpg)