Opini
Anomali Gen Z dalam Demokrasi Indonesia
Masyarakat sipil yang dimobilisasi adalah penangkal penting terhadap tren kemunduran demokrasi global yang sedang berlangsung
Bagi generasi yang lahir dalam rentang tahun 1997 – 2012 ini, gagasan dan rekam jejak bukanlah sebuah hal yang utama.
Mereka lebih tertarik dengan persona yang ditampilkan serta gaya kampanye yang disajikan.
Dalam temuan penelitian Muhtadi dkk, Gen Z menjadi penentu utama kemenangan Prabowo – Gibran dalam pilpres 2024 lalu.
Sebanyak 71 persen dari 58,6 persen suara secara keseluruhan Prabowo – Gibran adalah suara Gen Z.
Adapun alasan memilih yang utama adalah karakter “kepemimpinan orang kuat” dan gimmick kampanye “gemoy”.
Tidak mempermasalahkan latar belakang militer, bahkan tidak terlalu percaya dengan keterlibatan Prabowo dengan kejahatan HAM Orde Baru, khususnya penculikan aktivis pro demokrasi.
Agenda Lanjutan
Kegelisahan Muhtadi dkk (2025) sebagai refleksi kuantitatif sekaligus kualitatif atas mayoritas Gen Z di Indonesia memang tidak seoptimis Savirani dkk, (2025) dalam melihat aktivisme Gen Z dalam dua aksi besar #IndonesiaDarurat pada 2024 dan #IndonesiaGelap pada awal 2025.
Gen Z membangun Gerakan rizomatik (rimpang), yang masif dan inovatif, berciri spontan, sporadis dengan praktik senang-senang.
Meskipun begitu Savirani dkk, mencatat bahwa gerakan rimpang Gen Z perlu terhubung agar semakin kuat atau terkonsolidasi.
Menurut Giovanno (2025) rasa puas diri Gen Z bukanlah cacat individu, tetapi gejala pemutusan sistemik.
Terputus dari sejarah. Dari imajinasi moral. Dari rasa perjuangan sebagai cara untuk hidup.
Melanjutkan kegelisahan yang sama dengan Muhtadi, dkk, Giovanno menekankan:
“Bahayanya, kemudian, bukanlah bahwa Gen Z Indonesia tidak liberal atau anti-demokratis. Mereka damai tanpa masalah, puas tanpa refleksi, terlibat tanpa keyakinan. Demokrasi mereka telah menjadi tanpa gesekan.”
Mereka yang terlibat (Gen Z) dalam gerakan #IndonesiaDarurat pada 2024 dan #IndonesiaGelap pada awal 2025 hingga gerakan akhir Agustus – awal September 2025 lalu boleh jadi adalah mereka yang jumlahnya 29 persen yang tidak mendukung Prabowo – Gibran atau berada dalam angka minoritas dari sampel data yang digunakan oleh Muhtadi, dkk.
| Kearifan Lokal Minangkabau Jadi Kunci Keberhasilan Transisi Energi |
|
|---|
| Radical Break: Titik Balik yang Mengubah Nasib Bangsa |
|
|---|
| Keadilan Restoratif: Jalan Tengah antara Kepastian Hukum dan Kemanusiaan |
|
|---|
| Galodo dan Dosa Pembangunan: Saat Negara Diuji oleh Murka Alam |
|
|---|
| Ibu dan Sumber Kehidupan dalam Dialog Getir |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/M-Nurul-Fajri.jpg)