Ekonomi Sumbar
BPS Sumbar Catat NTP Naik 3,93 Persen, Kunjungan Wisatawan ke Sumbar Justru Merosot
Sektor pertanian di Provinsi Sumatra Barat menunjukkan performa yang menggembirakan pada pertengahan triwulan kedua tahun ini.
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi
Untungnya, laju kenaikan pendapatan (It ) yang sebesar 5,17 persen masih jauh lebih tinggi daripada kenaikan pengeluaran (Ib ), sehingga nilai riil bersih yang dipegang petani tetap positif.
Indikator kesejahteraan lain yang turut dipaparkan adalah Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP). Indikator yang mengukur kemampuan pendapatan petani setelah dikurangi biaya konsumsi rumah tangga ini tercatat sebesar 137,36 pada Mei 2026.
Angka NTUP tersebut mengalami lompatan sebesar 4,90 persen dibandingkan dengan bulan April 2026. Hal ini memberikan sinyal kuat bahwa aktivitas usaha tani di Sumatra Barat secara umum masih sangat prospektif dan efisien secara ekonomi.
Berbeda terbalik dengan geliat positif di sektor agraria, sektor pariwisata Sumatra Barat justru sedang menghadapi tantangan yang cukup berat.
Berdasarkan data per April 2026 yang turut dirilis hari ini, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk melalui Gerbang Bandara Internasional Minangkabau (BIM) mengalami kelesuan. Jumlah kunjungan wisman pada April 2026 tercatat hanya sebesar 5.730 kunjungan.
Baca juga: Jadwal Wali Kota Padang Hari Ini, Fadly Amran Bahas Kota Sehat hingga Bertemu William Wongso
Angka kunjungan wisman bulanan tersebut menunjukkan penurunan sebesar 3,99 persen jika disandingkan dengan bulan Maret 2026 (month-to-month) yang sempat mencapai 5.968 kunjungan.
Koreksi yang jauh lebih tajam terlihat pada perbandingan tahunan (year-on-year), di mana kunjungan wisman April 2026 merosot sebesar 8,61 persen dibandingkan dengan April 2025 yang kala itu menyentuh 6.270 kunjungan.
Secara kumulatif dari Januari hingga April 2026, total wisman yang berkunjung ke Sumatra Barat berada di angka 22.375 kunjungan, atau turun 14,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kelesuan arus kunjungan ini tidak hanya melanda pasar internasional, melainkan juga terjadi pada pergerakan wisatawan nusantara (wisnus). Jumlah perjalanan wisnus dengan tujuan Sumatra Barat pada April 2026 tercatat sebesar 1.886.972 perjalanan.
Volume pergerakan domestik ini anjlok sangat dalam, yakni sebesar 32,52 persen dibandingkan dengan bulan Maret 2026 yang sempat melonjak di angka 2.796.192 perjalanan.
Baca juga: Jadwal Wali Kota Padang Hari Ini, Fadly Amran Bahas Kota Sehat hingga Bertemu William Wongso
Jika ditelisik lebih jauh secara tahunan (y-on-y), penurunan jumlah perjalanan wisnus ke Sumatra Barat pada April 2026 mencapai angka 36,79 persen dibandingkan April 2025 yang mencatatkan rekor 2.985.230 perjalanan.
Adapun secara kumulatif dari Januari hingga April (c-to-c), kinerja perjalanan wisnus domestik ini mengalami kontraksi sebesar 2,42 persen. Penurunan tajam pasca-fase libur hari besar keagamaan dituding menjadi faktor musiman utama yang memicu kemerosotan ini.
Dinamika fluktuatif pada arus kunjungan pelancong ini secara langsung memberikan dampak instan terhadap kinerja industri perhotelan di Sumatra Barat. BPS mencatat adanya anomali performa antara hotel klasifikasi bintang dan nonbintang selama April 2026.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) untuk hotel berbintang di Sumatra Barat pada April 2026 justru berhasil tumbuh positif dengan mengalami peningkatan sebesar 2,92 persen poin secara bulanan.
Sebaliknya, nasib kurang beruntung dialami oleh jaringan hotel nonbintang atau akomodasi kelas melati. TPK hotel nonbintang di Sumatra Barat pada periode yang sama terpantau mengalami penurunan sebesar 3,25 persen poin dibandingkan dengan bulan Maret 2026.
Ketimpangan okupansi ini mengindikasikan adanya pergeseran preferensi konsumen atau pasar domestik yang lebih memilih fasilitas akomodasi dengan standar layanan yang lebih tinggi di tengah penurunan volume pelancong secara makro. (*)
BPS Sumbar
Laporan Ekonomi BPS Sumbar
penyebab inflasi
angka inflasi
pengendalian inflasi
Wisata Sumbar
| Rupiah Tembus Rp17.640 per Dolar AS, Ekonom Unand Minta Pemerintah Realistis |
|
|---|
| Rupiah Tembus Rp17.700 per Dolar AS, Guru Besar UNAND Beri Peringatan Keras Soal Nasib Subsidi BBM |
|
|---|
| Ekonom Unand Ingatkan Dampak Rupiah Melemah bagi Sumbar, Harga Barang dan Biaya Produksi Bisa Naik |
|
|---|
| Harga BBM Nonsubsidi Naik di Sumbar, Ekonom Unand: Biaya Angkut Barang dan Orang Makin Mahal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/BPS-SUMBAR-Berdasarkan-rilis-red-BPS-ddResmi-Sdr-di-angka-13073.jpg)