Ekonomi Sumbar

Rupiah Tembus Rp17.640 per Dolar AS, Ekonom Unand Minta Pemerintah Realistis

Ia mendorong pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan dalam satu tahun ke depan melalui bauran fiskal, moneter, nilai tukar, dan sektor riil.

Tayang:
Penulis: Muhammad Iqbal | Editor: Rezi Azwar
ISTIMEWA/DOK.UNAND
EKONOMI SUMBAR- Syafruddin Karimi, Guru Besar Ekonomi Pembangunan, Universitas Andalas (Unand). Ia menilai target kurs rupiah di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 2027 harus dipahami sebagai asumsi makro fiskal, bukan janji kurs tetap. 

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Ekonom Universitas Andalas (Unand), Syafruddin Karimi, menilai target kurs rupiah di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 2027 harus dipahami sebagai asumsi makro fiskal, bukan janji kurs tetap.

Pernyataan tersebut disampaikan Syafruddin Karimi menanggapi target kurs rupiah yang sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto untuk tahun 2027 mendatang.

Menurut Syafruddin Karimi, pemerintah menggunakan asumsi kurs tersebut sebagai dasar penyusunan APBN, termasuk untuk menghitung subsidi energi, beban bunga, penerimaan pajak, belanja impor, dan kebutuhan pembiayaan negara.

"Kondisi aktual menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih cukup berat. Saat ini, kurs rupiah disebut telah berada di level Rp17.640 per dolar AS, melampaui batas atas asumsi 2027," katanya saat dikonfirmasi, Kamis (21/5/2026).

Baca juga: Jadwal DCL 2026 Rilis, Bupati Dharmasraya Targetkan Geliat Ekonomi Nagari

Selain itu, pergerakan pasar juga memperlihatkan rupiah berada dekat area lemah tahun berjalan di kisaran Rp16.685 hingga Rp17.745 per dolar AS.

“Ini memberi sinyal bahwa asumsi 2027 terlalu optimistis jika tekanan hari ini tidak segera reda,” ujar Syafruddin.

Ia menekankan pemerintah tidak boleh mempertahankan asumsi lama secara kaku.

Menurut Syafruddin, rentang kurs tersebut hanya bisa dicapai apabila ekspor pulih, devisa hasil ekspor (DHE) masuk ke sistem domestik, Bank Indonesia menjaga kredibilitas moneter, APBN tetap disiplin, serta premi risiko menurun.

“Tanpa perbaikan itu, target kurs akan berubah dari jangkar ekspektasi menjadi sumber keraguan pasar,” sebutnya.

Baca juga: Gubernur Mahyeldi Sebut Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Naik, Pengangguran Masih Jadi Tantangan

Ia juga mengingatkan bahwa jika nilai tukar aktual terus menjauh dari target, maka implikasi kebijakannya akan sangat serius.

APBN berpotensi menghadapi tekanan akibat subsidi energi, kompensasi, belanja impor, dan pembayaran kewajiban valas yang menjadi lebih mahal.

Selain itu, Bank Indonesia juga disebut akan mendapat tekanan untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

"Sebagai contohnya, suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate yang naik dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen sebagai sinyal bahwa stabilisasi rupiah telah menuntut pengetatan moneter," pungkasnya.

Di sisi lain, pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga dinilai menghadapi risiko kenaikan yield karena investor meminta kompensasi atas risiko kurs.

Baca juga: Antrean Pengisian Biosolar di SPBU Sawahan Padang Picu Kemacetan Panjang

Saat ini, yield SUN 10 tahun berada di level 6,887 persen, sedangkan CDS 5Y Indonesia tercatat 92,788 basis poin dan CDS 10Y sebesar 147,276 basis poin.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved