Ekonomi Sumbar
Rupiah Tembus Rp17.640 per Dolar AS, Ekonom Unand Minta Pemerintah Realistis
Ia mendorong pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan dalam satu tahun ke depan melalui bauran fiskal, moneter, nilai tukar, dan sektor riil.
Penulis: Muhammad Iqbal | Editor: Rezi Azwar
“Angka ini menunjukkan premi risiko sudah meningkat. Jika target kurs makin tidak kredibel, investor akan meminta yield lebih tinggi, IHSG dapat kembali tertekan, dan biaya pembiayaan pemerintah serta korporasi ikut naik,” jelasnya.
Untuk itu, ia mendorong pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan dalam satu tahun ke depan melalui bauran fiskal, moneter, nilai tukar, dan sektor riil.
Dari sisi fiskal, pemerintah dinilai perlu memakai asumsi kurs yang lebih realistis dalam APBN, memperbesar bantalan risiko subsidi energi, serta mengalihkan belanja ke sektor yang memperkuat produksi, pangan, logistik, ekspor, dan UMKM.
"Dari sisi moneter, Bank Indonesia perlu menjaga rupiah melalui intervensi valas terukur, DNDF, operasi moneter, dan komunikasi yang konsisten tanpa membekukan kredit produktif," katanya.
Ia juga menilai pemerintah harus memperkuat devisa hasil ekspor, menekan under-invoicing, mempercepat repatriasi DHE, dan memberi insentif kepada eksportir yang menempatkan valas di dalam negeri.
Baca juga: Soroti Dugaan Kongkalikong Sopir Bus dan Pelaku Pungli di Lembah Anai, Polisi Dalami Kebenarannya
Langkah tersebut dinilai mendesak karena pertumbuhan ekspor April tercatat minus 3,1 persen, sementara impor secara tahunan masih tumbuh 1,51 persen.
“Kombinasi ekspor turun dan impor tetap tumbuh membuat pasokan dolar melemah. Jika pemerintah ingin membawa rupiah kembali ke rentang asumsi, kebijakan tidak cukup berbentuk imbauan," tuturnya.
"Pemerintah harus menunjukkan disiplin fiskal, kekuatan devisa, kepastian regulasi, dan keberanian menutup kebocoran ekspor,” sambung Syafruddin.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/karimi-Sya5.jpg)