Berita Populer Padang
4 Berita Populer Padang: Penyebab Panas Menyengat di Siang Hari dan Warga Pasar Ambacang Krisis Air
Ia menambahkan, langit yang relatif cerah tanpa awan turut berkontribusi terhadap meningkatnya paparan radiasi ultraviolet (UV) pada siang hari.
Penulis: Rezi Azwar | Editor: Rezi Azwar
Warga dapat menghubungi nomor kontak Pusdalops BPBD Kota Padang di 085891522181.
Layanan ini siaga untuk menerima laporan terkait titik-titik lokasi yang memerlukan suplai air darurat.
Namun, pelaporan tidak bisa dilakukan secara asal. Albanna, selaku Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Padang, menekankan pentingnya akurasi data dalam setiap laporan yang masuk.
Dalam melaporkan kebutuhan air, warga diminta untuk menyertakan alamat yang jelas dan detail.
Baca juga: 23 Tahun SPSC, Wali Kota Padang Ajak Komunitas Jalan Pagi Jaga Kota Tetap Sehat
Hal ini bertujuan agar armada tangki tidak kesulitan menemukan titik distribusi saat melakukan mobilisasi di lapangan.
Selain alamat, warga juga diwajibkan untuk menyediakan data kependudukan berupa Kartu Keluarga (KK).
Pendataan ini dilakukan agar penyaluran bantuan tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan secara administrasi oleh pemerintah daerah.
Setelah laporan diterima dan diverifikasi, tim BPBD akan menjadwalkan pengiriman. Di lokasi terdampak seperti di RT 04 RW 04 Binuang Kampuang Dalam, warga biasanya sudah berjejer rapi dengan wadah penampungan.
Warga menyiapkan wadah seperti ember, jeriken, atau bak penampungan darurat di pinggir jalan utama. Penyiapan wadah ini penting untuk mempercepat proses pengisian dan distribusi ke seluruh warga yang mengantre.
Baca juga: Edukasi Keselamatan Listrik Sejak Dini, PLN UP3 Padang Sasar Mahasiswa Politeknik Aisyiah Sumbar
Tidak ada batasan jumlah air yang boleh diambil per kepala keluarga. Selama warga memiliki wadah yang cukup, petugas akan membantu mengisi hingga penuh demi memenuhi kebutuhan domestik mereka.
Satu hal yang perlu dicatat oleh masyarakat adalah mengenai skala prioritas pengisian. BPBD Kota Padang menegaskan bahwa mereka tidak melayani pengisian tandon atau tedmon yang berada di dalam rumah atau area privat.
Kebijakan ini diambil untuk menjamin prinsip keadilan. Fokus utama petugas adalah mengisi wadah-wadah yang diletakkan di luar rumah atau di area publik agar akses air dapat dinikmati oleh orang banyak secara merata.
"Kami memprioritaskan kepentingan orang banyak. Pengisian wadah di luar lebih efisien agar seluruh warga dalam satu kawasan bisa mendapatkan jatah yang adil," jelas Albanna.
Saat ini, BPBD mengerahkan dua unit mobil tangki yang bekerja hampir tanpa henti dari pukul 04.00 WIB dini hari. Dalam satu hari, total distribusi air mencapai sekitar 70.000 liter melalui 14 trip pengiriman.(*)
3. Pilu Santri MDTA Jamiaturrahmah, Mengaji di Rumah Warga Usai Surau Hanyut Disapu Galodo Padang
Suasana sore di Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, tak lagi sama.
Tak ada lagi suara riuh anak-anak yang berlarian menuju teras Surau Jamiaturrahmah untuk mengaji.
Bangunan yang menjadi saksi bisu anak belajar membaca Al-Quran itu kini telah hilang.
Amukan banjir bandang pada akhir November 2025 lalu benar-benar menyapu bersih bangunan surau hingga tak menyisakan satu dinding pun.
Pantauan di lokasi pada Selasa (20/1/2026), area yang dulunya merupakan pusat pendidikan agama itu kini hanya berupa hamparan puing.
Baca juga: SAKSI KATA Puing Doa di Lambung Bukik: Surau Jamiaturrahmah Rata Tanah, Warga Bakal Tarawih di Tenda
Batu-batu sungai berukuran besar dan batang kayu yang melintang memenuhi lokasi, menggantikan saf-saf salat yang dulu tertata rapi.
Kondisi ini menyisakan duka mendalam, terutama bagi para santri Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Surau Jamiaturrahmah. Tempat mereka menimba ilmu agama kini rata dengan tanah.
Guru Ngaji MDTA Surau Jamiaturrahmah, Asmiraldi, tak mampu menyembunyikan kesedihannya saat menceritakan nasib murid-muridnya.
"Anak-anak sangat trauma. Mereka kehilangan tempat mengaji yang selama ini menjadi rumah kedua bagi mereka," ujar Asmiraldi dengan nada lirih saat ditemui di lokasi bekas bencana.
Baca juga: Sungai Ujung Tanah Mendadak Ramai, BWS Sumatera V Minta Pemko Padang Tertibkan Aktivitas Mandi-mandi
Sebelum musibah banjir bandang menghantam, tercatat ada sekitar 50 anak yang aktif menimba ilmu di MDTA ini. Mereka datang dari berbagai penjuru kampung untuk belajar mengaji setiap sorenya.
Namun, pascabencana dahsyat tersebut, jumlah murid yang bertahan menyusut drastis. Kini, hanya tersisa sekitar 25 anak yang masih bisa mengikuti aktivitas mengaji.Banyak dari mereka yang harus pindah tempat tinggal.
“Sekitar separuh murid kami terpaksa ikut keluarga mereka tinggal di daerah yang tidak terdampak banjir," jelas Asmiraldi.
Meski bangunan surau sudah hilang ditelan arus, semangat untuk memberikan pendidikan agama tidak boleh padam.
Sudah seminggu terakhir, aktivitas mengaji dialihkan ke tempat darurat.
Baca juga: John Herdman Dinilai Lebih Baik dari Patrick Kluivert, Ridwan Berharap Dongkrak Prestasi Timnas
Anak-anak kini terpaksa mengaji di salah satu rumah warga yang tidak terdampak parah. Rumah tersebut juga difungsikan sebagai posko bencana bagi masyarakat sekitar.
Asmiraldi mengaku harus bekerja ekstra keras untuk membangkitkan mental anak-anak. Mengajar di tengah suasana trauma tentu bukan perkara mudah bagi seorang guru ngaji.
"Saat ini kami fokus memberikan motivasi. Belajar dibuat lebih menyenangkan agar ingatan mereka tentang banjir bandang sedikit teralihkan," ungkapnya.
Baginya, yang terpenting saat ini adalah menjaga agar anak-anak tidak berhenti mengaji meski fasilitas yang mereka miliki sangat terbatas.
Ia tak ingin musibah ini memutus semangat belajar generasi muda Lambung Bukik.
Baca juga: John Herdman Dinilai Lebih Baik dari Patrick Kluivert, Ridwan Berharap Dongkrak Prestasi Timnas
Kisah MDTA Surau Jamiaturrahmah sendiri memiliki akar sejarah yang panjang. Surau ini awalnya dibangun oleh kaum Suku Tanjung pada tahun 1960 dengan material kayu yang sederhana.
Awalnya bernama MDA, lembaga pendidikan ini kemudian berkembang menjadi MDTA seiring dengan kebutuhan masyarakat akan pendidikan agama yang lebih terstruktur.
Kini, warga hanya bisa berharap adanya perhatian serius untuk membangun kembali sarana ibadah dan pendidikan bagi anak-anak mereka.
Warga juga sangat berharap revitalisasi sungai dapat segera dilakukan oleh pihak terkait agar wilayah mereka aman dari ancaman banjir susulan yang sering terjadi sejak 2012. (*)
4. Sungai Ujung Tanah Mendadak Ramai, BWS Sumatera V Minta Pemko Padang Tertibkan Aktivitas Mandi-mandi
Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang akan menyurati Pemerintah Kota (Pemko) Padang untuk meminta menertibkan aktivitas mandi-mandi masyarakat di Sungai Jembatan Ujung Tanah, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.
Langkah tersebut diambil menyusul ramainya aktivitas warga di lokasi tersebut usai banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Kota Padang beberapa waktu lalu.
Area sungai yang dipenuhi hamparan pasir mendadak viral dan dimanfaatkan masyarakat sebagai lokasi wisata dadakan.
Baca juga: Sungai Ujung Tanah Padang Mendadak Jadi Tempat Wisata Usai Banjir Bandang, Parkir Gratis
“Kami akan menyurati Pemko Padang terkait hal ini,” ujar Kepala BWS Sumatera V Padang, Naryo Widodo, saat pertemuan dengan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade, Selasa (20/1/2026).
Menurut Naryo, penyuratan itu bertujuan meminta Pemko Padang melakukan penertiban demi keselamatan masyarakat.
“Kami minta Pemerintah Kota Padang melakukan penertiban. Sementara untuk masyarakat yang beraktivitas di sana akan kita berikan teguran,” jelasnya.
Baca juga: BWS Sumatera V Normalisasi 43 Sungai di Sumbar, 25 Sungai Sudah Masuk Tahap Pengerjaan
Ia menegaskan, pemanfaatan sumber daya air seperti sungai, irigasi, maupun embung tidak bisa dilakukan sembarangan dan harus melalui mekanisme perizinan sesuai aturan yang berlaku.
“Terkait pemanfaatan sumber air, baik sungai, irigasi, maupun embung, itu harus mengajukan perizinan ke bagian perizinan pusat sesuai Peraturan Menteri PUPR. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tegas Naryo.
Sebelumnya diberitakan, kawasan Sungai Ujung Tanah mendadak menjadi perhatian publik setelah material pasir sisa banjir bandang membentuk hamparan luas menyerupai tepian pantai.
Kondisi ini mengubah wajah sungai yang sebelumnya menyisakan trauma, menjadi ruang rekreasi sementara bagi warga.
Baca juga: Berpotensi Hujan Ringan Sepekan ke Depan, BMKG: Belum Bisa Pulihkan Krisis Air di Padang
Pantauan Wartawan TribunPadang.com, Arif Ramanda Kurnia, pada Senin (12/1/2026) petang, suasana di bawah jembatan Ujung Tanah tampak ramai dikunjungi warga.
Langit senja yang menyemburat jingga berpadu dengan jernihnya aliran sungai, menciptakan pemandangan yang menenangkan.
Tawa anak-anak terdengar riuh memecah suasana sore, sementara sejumlah pengunjung lainnya memanfaatkan lokasi tersebut untuk berenang dan berswafoto.
Hamparan pasir lembut di sepanjang sungai membuat kawasan itu dijuluki warga sebagai “Pantai Ujung Tanah”.
Tak hanya itu, deretan pedagang kaki lima pun mulai bermunculan di sekitar lokasi, menjajakan aneka makanan ringan bagi para pengunjung.
Fenomena ini menjadi berkah tersendiri bagi sebagian warga, meski di sisi lain menyisakan potensi risiko keselamatan yang kini menjadi perhatian serius pihak berwenang.(*)
| 3 Berita Populer Padang: Kesiapan Tour de Singkarak 2027, Pemilik Sabu 47 Kg Lolos dari Hukuman Mati |
|
|---|
| 3 Berita Populer Padang: Warga Gunung Sarik Tewas Ditikam Kerabat Sendiri & 23 Motor Hangus Terbakar |
|
|---|
| 3 Berita Populer Padang: Orang Tua Alceo Kirim Surat ke Presiden hingga Penangkapan Pelaku Curanmor |
|
|---|
| 4 Berita Populer Padang: Demo Kematian Karim, Cekcok Pengunjung dengan Juru Parkir hingga Harga Emas |
|
|---|
| 3 Berita Populer Padang: Warga Minta Plang Larangan di Lokasi 2 Bocah Tenggelam dan Simulasi Tsunami |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/cuaca-di-jalan-Azizi-padang-2112026.jpg)