Berita Populer Padang

4 Berita Populer Padang: Penyebab Panas Menyengat di Siang Hari dan Warga Pasar Ambacang Krisis Air

Ia menambahkan, langit yang relatif cerah tanpa awan turut berkontribusi terhadap meningkatnya paparan radiasi ultraviolet (UV) pada siang hari.

Tayang:
Penulis: Rezi Azwar | Editor: Rezi Azwar
TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman
CUACA PANAS- Kondisi cuaca di sekitar kawasan Jalan Azizi, Kelurahan Andalas, Kota Padang yang tampak cerah, Rabu (21/1/2026). BMKG Stasiun Minangkabau mengungkapkan sejumlah faktor yang menyebabkan cuaca di sekitar Kota Padang terasa lebih panas dalam beberapa hari terakhir. 
Ringkasan Berita:
  • Penyebab suhu udara yang lebih panas dan menyengat pada siang hari di Kota Padang.
  • Warga Komplek Perumahan Durita Asri Sejahtera, Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang mengaku kesulitan akses air bersih.
  • Santri dari Surau Jamiaturrahmah terpaksa belajar di rumah, akibat tempat untuk menimba ilmu agama hanyut terbawa banjir.
  • BWS Sumatera V Padang akan menyurati Pemko Padang untuk meminta menertibkan aktivitas mandi-mandi masyarakat di Sungai Jembatan Ujung Tanah, Padang.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Berikut empat berita Populer Padang yang telah tayang selama 24 jam terakhir di Tribun Padang.

Ada berita terkait penyebab suhu udara yang lebih panas dan menyengat pada siang hari di Kota Padang.

Kemudian, warga Komplek Perumahan Durita Asri Sejahtera, Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang mengaku kesulitan akses air bersih.

Santri dari Surau Jamiaturrahmah terpaksa belajar di rumah, akibat tempat untuk menimba ilmu agama hanyut terbawa banjir.

Baca juga: Cuaca 7 Kota di Sumbar Kamis 22 Januari 2026: Secara Kesuluruhan Berawan

BWS Sumatera V Padang akan menyurati Pemerintah Kota (Pemko) Padang untuk meminta menertibkan aktivitas mandi-mandi masyarakat di Sungai Jembatan Ujung Tanah, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.

Baca berita selengkapnya:

1. Padang Dilanda Panas Menyengat, BMKG Minangkabau Jelaskan Sejumlah Faktor Penyebab

CUACA PANAS- Kondisi cuaca cerah berawan di sekitar kawasan Jalan Azizi, Kelurahan Andalas, Kota Padang yang tampak cerah, Rabu (21/1/2026).
CUACA PANAS- Kondisi cuaca cerah berawan di sekitar kawasan Jalan Azizi, Kelurahan Andalas, Kota Padang yang tampak cerah, Rabu (21/1/2026). (TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman)

Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat Sumatera Barat merasakan suhu udara yang lebih panas dan menyengat, terutama pada siang hari.

Menyikapi kondisi tersebut, Kepala BMKG Stasiun Minangkabau, Decky Irmawan, menjelaskan bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh beberapa faktor meteorologis yang sedang terjadi.

Menurut Decky, salah satu penyebab utama meningkatnya suhu udara adalah posisi gerak semu matahari yang saat ini berada dekat dengan garis khatulistiwa.

Baca juga: Cuaca Mentawai Rabu 21 Januari 2026 Berawan hingga Hujan Ringan, BMKG Imbau Wisatawan Tetap Waspada

Kondisi ini menyebabkan intensitas radiasi matahari yang diterima permukaan bumi menjadi lebih tinggi dibandingkan waktu lainnya.

“Gerak semu matahari yang mendekati khatulistiwa meningkatkan intensitas radiasi matahari. Ditambah dengan rendahnya tutupan awan, sehingga radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa banyak penghalang,” ujar Decky Irmawan kepada TribunPadang.com, Rabu (21/1/2026).

Ia menambahkan, langit yang relatif cerah tanpa awan turut berkontribusi terhadap meningkatnya paparan radiasi ultraviolet (UV) pada siang hari.

Selain itu, kelembaban udara yang cukup tinggi di wilayah Sumatera Barat membuat panas terasa lebih gerah.

Baca juga: Cuaca Kota Padang Rabu 21 Januari 2026 Cerah Berawan, BMKG Imbau Warga Waspada Paparan UV

kondisi cuaca di padang timur 21/1/2026
CUACA PANAS- Kondisi cuaca cerah berawan di sekitar kawasan Jalan Azizi, Kelurahan Andalas, Kota Padang yang tampak cerah, Rabu (21/1/2026).

“Walaupun suhu udara tidak ekstrem, kelembaban yang tinggi menyebabkan keringat sulit menguap. Akibatnya, suhu yang dirasakan tubuh atau heat index menjadi lebih tinggi dibandingkan suhu yang terukur oleh termometer,” jelasnya.

Decky juga menyebutkan, intensitas panas matahari yang tinggi turut mempengaruhi suhu permukaan laut.

Sifat air laut yang lambat menyerap dan melepaskan panas menyebabkan energi panas yang tersimpan dilepaskan kembali pada malam hari, sehingga udara di sekitarnya tetap terasa hangat dan lembab.

Baca juga: Cuaca 7 Kota di Sumbar Rabu 21 Januari 2026, Merata Berawan

Menghadapi kondisi cuaca panas tersebut, BMKG Minangkabau mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam beraktivitas.

Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari dan meminimalkan paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama.

“Jika harus beraktivitas di luar ruangan, gunakan pakaian pelindung seperti lengan panjang, topi, serta tabir surya, dan pastikan kebutuhan cairan tubuh terpenuhi untuk mencegah dehidrasi,” imbaunya.

Selain itu, BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar, karena kondisi angin dapat mempercepat penyebaran api ke permukiman maupun kawasan hutan.

Meski demikian, Decky menegaskan bahwa suhu panas yang terjadi saat ini masih tergolong fenomena cuaca harian yang lazim di Indonesia dan bukan gelombang panas ekstrem seperti yang terjadi di sejumlah negara lain.

“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan selalu merujuk pada informasi resmi BMKG melalui aplikasi InfoBMKG atau media sosial resmi BMKG Minangkabau,” pungkasnya.

2. Warga Pasar Ambacang Padang Krisis Air Bersih, Bantuan Tangki Hanya Cukup untuk Kebutuhan Sehari

AKSES AIR BERSIH - Penyaluran air bersih menggunakan mobil Dompet Dhuafa di Komplek Perumahan Durita Asri Sejahtera, Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Rabu (21/1/2026). Warga mengaku masih kesulitan akses air bersih, bantuan hanya bertahan sehari.
AKSES AIR BERSIH - Penyaluran air bersih menggunakan mobil Dompet Dhuafa di Komplek Perumahan Durita Asri Sejahtera, Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Rabu (21/1/2026). Warga mengaku masih kesulitan akses air bersih, bantuan hanya bertahan sehari. (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

Warga Komplek Perumahan Durita Asri Sejahtera, Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang mengaku kesulitan akses air bersih.

Krisis air bersih ini sudah dirasakan oleh warga sejak akhir November 2025 lalu. Sejumlah warga mengaku kekeringan semenjak galodo yang berpusat di kawasan Batu Busuk, Padang.

Dampaknya, sumur warga kekeringan dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga mengharapkan bantuan dari pemerintah.

Tak hanya itu, air sungai pasca terjadi bencana di beberapa tempat di Kota Padang juga masih keruh sampai saat ini.

Salah satu warga, Intan mengaku daerahnya masih mengalami kekeringan sejak akhir November 2025, hingga saat ini.

Baca juga: Anggota DPRD Sumbar BSN Terancam Jemput Paksa, Tiga Kali Mangkir Panggilan Kejari Padang

Mulai dari Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, Kementrian Pekerjaan Umum (PU) hingga Semen Padang.

Namun untuk bantuan air bersih dari pihak pemerintahan maupun yang lainnya sudah masuk per harinya.

Akan tetapi, pasokan air bersih yang diberikan hanya bertahan dalam sehari. Sedangkan untuk esok harinya, harus menunggu mobil tangki air datang memberikan bantuan.

"Kondisi daerah kami masih kering sampai hari ini, bantuan sudah masuk, namun hanya bertahan dalam sehari," ungkapnya saat dikonfirmasi TribunPadang.com, Rabu (21/1/2026).

Ia mengaku, untuk ke depannya tidak tahu apakah bantuan tetap masuk atau tidak, sebab Intan mengaku ada nomor antrian terhadap penyaluran air bersih.

Baca juga: Target Liga 4 Sumbar, Fadly Amran Lepas Skuad PSP Padang Sang Pandeka Minang

"Untuk besok belum tahu, soalnya di daerah ini, setiap blok butuh air, belum daerah lainnya," tambahnya.

Senada, warga lainnya bernama Winda mengaku bantuan air tidak selalu datang setiap harinya.

Sehingga ia berharap, bantuan air dapat tersalurkan agar bisa mencukupi kebutuhan mandi, memasak, mencuci dan lain sebagainya.

"Masih kering sampai saat ini, mohon bantuan dari pemerintah," sebutnya.

Cara Ajukan Air Bersih

Krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kota Padang, khususnya di Kecamatan Pauh dan Kuranji, kian memprihatinkan. 

Warga di Kelurahan Binuang Kampuang Dalam masih bergantung  pada kiriman bantuan truk tangki.

Kondisi sumur warga yang mengering total pascabencana banjir besar November 2025 lalu membuat kebutuhan akan air bersih menjadi urusan hidup dan mati.

Namun, tidak sedikit warga yang masih bingung bagaimana cara mendapatkan bantuan distribusi air tersebut secara resmi.

Pemerintah Kota Padang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memastikan bahwa layanan distribusi air ini tersedia bagi seluruh masyarakat yang terdampak secara kolektif.

Baca juga: Nasib Korban Galodo Padang, Huntap Kapalo Koto Mulai Dibangun Akhir Januari Usai Hunsela Rampung

Bagi masyarakat yang wilayahnya mengalami krisis air serupa, BPBD Kota Padang telah membuka jalur komunikasi khusus. 

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melaporkan kondisi terkini melalui kontak resmi yang telah disediakan.

Warga dapat menghubungi nomor kontak Pusdalops BPBD Kota Padang di 085891522181. 

Layanan ini siaga untuk menerima laporan terkait titik-titik lokasi yang memerlukan suplai air darurat.

Namun, pelaporan tidak bisa dilakukan secara asal. Albanna, selaku Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Padang, menekankan pentingnya akurasi data dalam setiap laporan yang masuk.

Dalam melaporkan kebutuhan air, warga diminta untuk menyertakan alamat yang jelas dan detail.

Baca juga: 23 Tahun SPSC, Wali Kota Padang Ajak Komunitas Jalan Pagi Jaga Kota Tetap Sehat

Hal ini bertujuan agar armada tangki tidak kesulitan menemukan titik distribusi saat melakukan mobilisasi di lapangan.

Selain alamat, warga juga diwajibkan untuk menyediakan data kependudukan berupa Kartu Keluarga (KK). 

Pendataan ini dilakukan agar penyaluran bantuan tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan secara administrasi oleh pemerintah daerah.

Setelah laporan diterima dan diverifikasi, tim BPBD akan menjadwalkan pengiriman. Di lokasi terdampak seperti di RT 04 RW 04 Binuang Kampuang Dalam, warga biasanya sudah berjejer rapi dengan wadah penampungan.

Warga menyiapkan wadah seperti ember, jeriken, atau bak penampungan darurat di pinggir jalan utama. Penyiapan wadah ini penting untuk mempercepat proses pengisian dan distribusi ke seluruh warga yang mengantre.

Baca juga: Edukasi Keselamatan Listrik Sejak Dini, PLN UP3 Padang Sasar Mahasiswa Politeknik Aisyiah Sumbar

Tidak ada batasan jumlah air yang boleh diambil per kepala keluarga. Selama warga memiliki wadah yang cukup, petugas akan membantu mengisi hingga penuh demi memenuhi kebutuhan domestik mereka.

Satu hal yang perlu dicatat oleh masyarakat adalah mengenai skala prioritas pengisian. BPBD Kota Padang menegaskan bahwa mereka tidak melayani pengisian tandon atau tedmon yang berada di dalam rumah atau area privat.

Kebijakan ini diambil untuk menjamin prinsip keadilan. Fokus utama petugas adalah mengisi wadah-wadah yang diletakkan di luar rumah atau di area publik agar akses air dapat dinikmati oleh orang banyak secara merata.

"Kami memprioritaskan kepentingan orang banyak. Pengisian wadah di luar lebih efisien agar seluruh warga dalam satu kawasan bisa mendapatkan jatah yang adil," jelas Albanna.

Saat ini, BPBD mengerahkan dua unit mobil tangki yang bekerja hampir tanpa henti dari pukul 04.00 WIB dini hari. Dalam satu hari, total distribusi air mencapai sekitar 70.000 liter melalui 14 trip pengiriman.(*)

3. Pilu Santri MDTA Jamiaturrahmah, Mengaji di Rumah Warga Usai Surau Hanyut Disapu Galodo Padang

PASCA BANJIR PADANG: Anak-anak Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Surau Jamiaturrahmah belajar mengaji di rumah warga Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (21/1/2026).  Pantauan di lokasi pada Selasa (20/1/2026), area yang dulunya merupakan pusat pendidikan agama itu kini hanya berupa hamparan puing.
PASCA BANJIR PADANG: Anak-anak Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Surau Jamiaturrahmah belajar mengaji di rumah warga Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (21/1/2026). Pantauan di lokasi pada Selasa (20/1/2026), area yang dulunya merupakan pusat pendidikan agama itu kini hanya berupa hamparan puing. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Suasana sore di Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, tak lagi sama.

Tak ada lagi suara riuh anak-anak yang berlarian menuju teras Surau Jamiaturrahmah untuk mengaji.

Bangunan yang menjadi saksi bisu anak belajar membaca Al-Quran itu kini telah hilang.

Amukan banjir bandang pada akhir November 2025 lalu benar-benar menyapu bersih bangunan surau hingga tak menyisakan satu dinding pun.

Pantauan di lokasi pada Selasa (20/1/2026), area yang dulunya merupakan pusat pendidikan agama itu kini hanya berupa hamparan puing.

Baca juga: SAKSI KATA Puing Doa di Lambung Bukik: Surau Jamiaturrahmah Rata Tanah, Warga Bakal Tarawih di Tenda

PASCA BANJIR PADANG: Anak-anak Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Surau Jamiaturrahmah belajar mengaji di rumah warga Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (21/1/2026).  Pantauan di lokasi pada Selasa (20/1/2026), area yang dulunya merupakan pusat pendidikan agama itu kini hanya berupa hamparan puing.
PASCA BANJIR PADANG: Anak-anak Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Surau Jamiaturrahmah belajar mengaji di rumah warga Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (21/1/2026). Pantauan di lokasi pada Selasa (20/1/2026), area yang dulunya merupakan pusat pendidikan agama itu kini hanya berupa hamparan puing. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Batu-batu sungai berukuran besar dan batang kayu yang melintang memenuhi lokasi, menggantikan saf-saf salat yang dulu tertata rapi.

Kondisi ini menyisakan duka mendalam, terutama bagi para santri Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Surau Jamiaturrahmah. Tempat mereka menimba ilmu agama kini rata dengan tanah.

Guru Ngaji MDTA Surau Jamiaturrahmah, Asmiraldi, tak mampu menyembunyikan kesedihannya saat menceritakan nasib murid-muridnya.

"Anak-anak sangat trauma. Mereka kehilangan tempat mengaji yang selama ini menjadi rumah kedua bagi mereka," ujar Asmiraldi dengan nada lirih saat ditemui di lokasi bekas bencana.

Baca juga: Sungai Ujung Tanah Mendadak Ramai, BWS Sumatera V Minta Pemko Padang Tertibkan Aktivitas Mandi-mandi

PASCA BANJIR PADANG: Anak-anak Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Surau Jamiaturrahmah belajar mengaji di rumah warga Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (21/1/2026). Amukan banjir bandang pada akhir November 2025 lalu benar-benar menyapu bersih bangunan surau hingga tak menyisakan satu dinding pun.
PASCA BANJIR PADANG: Anak-anak Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Surau Jamiaturrahmah belajar mengaji di rumah warga Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (21/1/2026). Amukan banjir bandang pada akhir November 2025 lalu benar-benar menyapu bersih bangunan surau hingga tak menyisakan satu dinding pun. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Sebelum musibah banjir bandang menghantam, tercatat ada sekitar 50 anak yang aktif menimba ilmu di MDTA ini. Mereka datang dari berbagai penjuru kampung untuk belajar mengaji setiap sorenya.

Namun, pascabencana dahsyat tersebut, jumlah murid yang bertahan menyusut drastis. Kini, hanya tersisa sekitar 25 anak yang masih bisa mengikuti aktivitas mengaji.Banyak dari mereka yang harus pindah tempat tinggal.

“Sekitar separuh murid kami terpaksa ikut keluarga mereka tinggal di daerah yang tidak terdampak banjir," jelas Asmiraldi.

Meski bangunan surau sudah hilang ditelan arus, semangat untuk memberikan pendidikan agama tidak boleh padam.

Sudah seminggu terakhir, aktivitas mengaji dialihkan ke tempat darurat.

Baca juga: John Herdman Dinilai Lebih Baik dari Patrick Kluivert, Ridwan Berharap Dongkrak Prestasi Timnas

SURAU HANYUT: Banjir bandang akhir November 2025 lalu menghanyutkan Surau Jamiaturrahmah di Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (20/1/2026). Surau Jamiaturrahmah, sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu pasang surut kehidupan warga, kini benar-benar hilang dari peta pandangan mata.
SURAU HANYUT: Banjir bandang akhir November 2025 lalu menghanyutkan Surau Jamiaturrahmah di Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (20/1/2026). Surau Jamiaturrahmah, sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu pasang surut kehidupan warga, kini benar-benar hilang dari peta pandangan mata. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Anak-anak kini terpaksa mengaji di salah satu rumah warga yang tidak terdampak parah. Rumah tersebut juga difungsikan sebagai posko bencana bagi masyarakat sekitar.

Asmiraldi mengaku harus bekerja ekstra keras untuk membangkitkan mental anak-anak. Mengajar di tengah suasana trauma tentu bukan perkara mudah bagi seorang guru ngaji.

"Saat ini kami fokus memberikan motivasi. Belajar dibuat lebih menyenangkan agar ingatan mereka tentang banjir bandang sedikit teralihkan," ungkapnya.

Baginya, yang terpenting saat ini adalah menjaga agar anak-anak tidak berhenti mengaji meski fasilitas yang mereka miliki sangat terbatas.

Ia tak ingin musibah ini memutus semangat belajar generasi muda Lambung Bukik.

Baca juga: John Herdman Dinilai Lebih Baik dari Patrick Kluivert, Ridwan Berharap Dongkrak Prestasi Timnas

Kisah MDTA Surau Jamiaturrahmah sendiri memiliki akar sejarah yang panjang. Surau ini awalnya dibangun oleh kaum Suku Tanjung pada tahun 1960 dengan material kayu yang sederhana.

Awalnya bernama MDA, lembaga pendidikan ini kemudian berkembang menjadi MDTA seiring dengan kebutuhan masyarakat akan pendidikan agama yang lebih terstruktur.

Kini, warga hanya bisa berharap adanya perhatian serius untuk membangun kembali sarana ibadah dan pendidikan bagi anak-anak mereka.

Warga juga sangat berharap revitalisasi sungai dapat segera dilakukan oleh pihak terkait agar wilayah mereka aman dari ancaman banjir susulan yang sering terjadi sejak 2012. (*)

4. Sungai Ujung Tanah Mendadak Ramai, BWS Sumatera V Minta Pemko Padang Tertibkan Aktivitas Mandi-mandi

WISATA DADAKAN- Penampakan masyarakat ramai mengunjungi lokasi aliran sungai yang menjadi wisata dadakan di Jembatan Ujung Tanah, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Senin (12/1/2026) sore.
WISATA DADAKAN- Penampakan masyarakat ramai mengunjungi lokasi aliran sungai yang menjadi wisata dadakan di Jembatan Ujung Tanah, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Senin (12/1/2026) sore. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang akan menyurati Pemerintah Kota (Pemko) Padang untuk meminta menertibkan aktivitas mandi-mandi masyarakat di Sungai Jembatan Ujung Tanah, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.

Langkah tersebut diambil menyusul ramainya aktivitas warga di lokasi tersebut usai banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Kota Padang beberapa waktu lalu. 

Area sungai yang dipenuhi hamparan pasir mendadak viral dan dimanfaatkan masyarakat sebagai lokasi wisata dadakan.

Baca juga: Sungai Ujung Tanah Padang Mendadak Jadi Tempat Wisata Usai Banjir Bandang, Parkir Gratis

RAPAT- Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang, Naryo Widodo, menyampaikan rencana penertiban aktivitas masyarakat di Sungai Ujung Tanah saat pertemuan dengan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade di Kota Padang, Selasa (20/1/2026).
RAPAT- Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang, Naryo Widodo, menyampaikan rencana penertiban aktivitas masyarakat di Sungai Ujung Tanah saat pertemuan dengan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade di Kota Padang, Selasa (20/1/2026). (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

“Kami akan menyurati Pemko Padang terkait hal ini,” ujar Kepala BWS Sumatera V Padang, Naryo Widodo, saat pertemuan dengan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade, Selasa (20/1/2026).

Menurut Naryo, penyuratan itu bertujuan meminta Pemko Padang melakukan penertiban demi keselamatan masyarakat.

“Kami minta Pemerintah Kota Padang melakukan penertiban. Sementara untuk masyarakat yang beraktivitas di sana akan kita berikan teguran,” jelasnya.

Baca juga: BWS Sumatera V Normalisasi 43 Sungai di Sumbar, 25 Sungai Sudah Masuk Tahap Pengerjaan

Ia menegaskan, pemanfaatan sumber daya air seperti sungai, irigasi, maupun embung tidak bisa dilakukan sembarangan dan harus melalui mekanisme perizinan sesuai aturan yang berlaku.

“Terkait pemanfaatan sumber air, baik sungai, irigasi, maupun embung, itu harus mengajukan perizinan ke bagian perizinan pusat sesuai Peraturan Menteri PUPR. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tegas Naryo.

Sebelumnya diberitakan, kawasan Sungai Ujung Tanah mendadak menjadi perhatian publik setelah material pasir sisa banjir bandang membentuk hamparan luas menyerupai tepian pantai. 

Kondisi ini mengubah wajah sungai yang sebelumnya menyisakan trauma, menjadi ruang rekreasi sementara bagi warga.

Baca juga: Berpotensi Hujan Ringan Sepekan ke Depan, BMKG: Belum Bisa Pulihkan Krisis Air di Padang

Pantauan Wartawan TribunPadang.com, Arif Ramanda Kurnia, pada Senin (12/1/2026) petang, suasana di bawah jembatan Ujung Tanah tampak ramai dikunjungi warga. 

Langit senja yang menyemburat jingga berpadu dengan jernihnya aliran sungai, menciptakan pemandangan yang menenangkan.

Tawa anak-anak terdengar riuh memecah suasana sore, sementara sejumlah pengunjung lainnya memanfaatkan lokasi tersebut untuk berenang dan berswafoto. 

Hamparan pasir lembut di sepanjang sungai membuat kawasan itu dijuluki warga sebagai “Pantai Ujung Tanah”.

Tak hanya itu, deretan pedagang kaki lima pun mulai bermunculan di sekitar lokasi, menjajakan aneka makanan ringan bagi para pengunjung. 

Fenomena ini menjadi berkah tersendiri bagi sebagian warga, meski di sisi lain menyisakan potensi risiko keselamatan yang kini menjadi perhatian serius pihak berwenang.(*)

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved