Opini Citizen Journalism
Belajar Online Pascabencana: Mengapa Self-Regulated Learning Digital jadi Kunci Pemulihan Pendidikan
Sebagai pemulihan pasca bencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan bahwa 85% sekolah
3. Dukungan sosio-emosional: Pembentukan komunitas belajar online dan pendampingan psikologis untuk mengatasi trauma pascabencana
Untuk memahami bagaimana siswa dapat mengembangkan SRL dalam pembelajaran daring pascabencana, kita perlu merujuk pada model teoritis yang telah teruji. Barry Zimmerman (2000), salah satu peneliti paling berpengaruh dalam bidang SRL, mengonseptualisasikan SRL sebagai proses siklik yang terdiri dari tiga fase yaitu forethought (pemikiran awal), performance (kinerja), dan self reflection (refleksi diri)(Kitsantas et al., 2025).
a. Fase Forethought (Pemikiran Awal)
Pada fase ini, siswa melakukan analisis tugas (task analysis) dan mengaktifkan keyakinan motivasional (self-motivation beliefs). Saat pembelajaran daring pascabencana, fase ini melibatkan penetapan tujuan yang realistis dengan mempertimbangkan keterbatasan yang ada.
Contoh praktis: “Saya akan menyelesaikan satu modul pembelajaran dalam 20 menit saat sinyal stabil” adalah contoh tujuan yang spesifik, terukur, dan kontekstual. Siswa tidak menargetkan hal yang tidak realistis seperti menyelesaikan semua tugas dalam satu hari, tetapi membagi target menjadi bagian-bagian kecil yang dapat dicapai sesuai kondisi infrastruktur yang tersedia.
Baca juga: Update Korban Bencana Agam: 165 Orang Meninggal Dunia, 32 Warga Masih Hilang
b. Fase Performance (Kinerja)
Fase ini melibatkan dua proses utama yaitu self control (kontrol diri) dan self observation (pengamatan diri). Siswa dengan SRL yang baik menggunakan strategi seperti self instruction (instruksi diri), imagery (pencitraan), dan attention focusing (pemusatan perhatian) untuk mempertahankan fokus di tengah distraksi.
Contoh praktis: Dalam pembelajaran daring, siswa dengan SRL yang baik mampu tetap fokus pada video pembelajaran sambil mengabaikan notifikasi media sosial. Mereka mungkin menggunakan teknik seperti mematikan notifikasi selama sesi belajar, membuat catatan aktif saat menonton video pembelajaran, atau berbicara pada diri sendiri: “Fokus pada penjelasan guru tentang konsep ini selama 15 menit, baru kemudian istirahat.”
Di wilayah pascabencana, strategi ini menjadi lebih penting karena siswa harus belajar di tengah kondisi yang tidak ideal mungkin dengan gangguan suara dari aktivitas pemulihan di sekitar rumah, atau dengan koneksi internet yang sering terputus. Kemampuan self control membantu siswa untuk tidak mudah menyerah ketika menghadapi gangguan teknis.
c. Fase Self Reflection (Refleksi Diri)
Pada fase akhir, siswa melakukan self judgment (penilaian diri) dan self reaction (reaksi diri). Siswa mengevaluasi apakah strategi belajar yang digunakan efektif, mengidentifikasi faktor penyebab keberhasilan atau kegagalan, dan mengalami reaksi emosional yang akan mempengaruhi motivasi untuk sesi belajar berikutnya.
Baca juga: Jalur Sumbar-Riau di Pangkalan Kembali Normal, Pengendara Bisa Lewat Dua Jalur Usai Longsor
Contoh praktis: Siswa dengan SRL yang baik membuat atribusi yang adaptif. Ketika siswa mengalami kesulitan memahami materi, mereka berpikir:
“Saya tidak paham karena strategi saya kurang tepat mungkin saya perlu membaca ulang atau bertanya kepada guru” atribusi yang dapat diubah). Berbeda dengan siswa yang berpikir: “Saya tidak paham karena saya bodoh”
Pascabencana, fase refleksi ini membantu siswa untuk tidak menyalahkan diri sendiri atas kesulitan yang sebenarnya disebabkan oleh kondisi eksternal (seperti sinyal internet buruk atau trauma psikologis).
Mereka belajar untuk membedakan: “Saya tidak bisa fokus hari ini karena masih terbayang peristiwa banjir” adalah berbeda dari “Saya tidak mampu belajar.”Pernyataan pertama membuka ruang untuk mencari dukungan psikologis, yang kedua menutup pintu perbaikan.
Jadi,ketiga fase ini saling mempengaruhi secara berkesinambungan, refleksi dari sesi belajar sebelumnya akan mempengaruhi perencanaan di sesi berikutnya. Saat pembelajaran daring yang berlangsung berhari-hari atau berminggu-minggu, siklus ini menjadi mekanisme adaptasi yang memungkinkan siswa untuk terus memperbaiki pendekatan belajar mereka.
Pembelajaran daring pascabencana bukan sekadar solusi darurat, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk membangun keterampilan penting abad ke-21, terutama self regulated learning digital.
Referensi
| Pemberdayaan Perempuan Semu: Kritik Komunikasi Pembangunan dalam Kasus Kekerasan Seksual di Kampus |
|
|---|
| Opini : Menemukan Keheningan yang Menyentuh: Belajar dari Sunyinya Rumah Ibadah |
|
|---|
| Opini: Ombudsman Sumatera Barat Giat Kampanyekan Layanan Pengaduan Terkait Penyerahan Ijazah |
|
|---|
| Opini : Uang Kuliah Tunggal yang tak Masuk Akal, Persempit Akses Pendidikan |
|
|---|
| Opini : Pelayanan Publik di Persimpangan Jalan: Antara Kewajiban Negara, dan Kegelisahan Rakyat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Rahmi-Padilla-NIM-24371027-MahasiswaDs.jpg)