Citizen Journalism

Opini: Menyorot Minat Baca Gen Z, Cek Fakta, Akar Masalah dan Solusi

ERA digital yang serba cepat ini, kita disuguhi konten dalam berbagai bentuk: video singkat, podcast, hingga meme. Semua tersaji instan dan cepat diko

Tayang:
Editor: Emil Mahmud
Dok.Pribadi/Wahyu Saptio Magang Unand
DOSEN & MAHASISWA DISKUSI - Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas atau FIB Unand bersama dosen sedang melakukan diskusi di Minangkabau Corner lantai 3 di Perpustakaan Unand di Kampus Limau Manis, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). 

Konten digital yang lebih menarik

Kekuatan algoritma membuat video pendek terasa lebih menyenangkan dan personal. Gen Z cenderung lebih menyukai hiburan visual yang cepat dan tidak membutuhkan usaha besar untuk dipahami. Bandingkan dengan buku atau artikel panjang yang menuntut fokus dan waktu.

Solusi: Membaca Tidak Harus dari Buku

Kabar baiknya, minat baca Gen Z bukan benar-benar hilang. Mereka hanya berubah cara dan medianya. Berikut beberapa solusi yang bisa ditempuh untuk menumbuhkan kembali budaya membaca:

Literasi digital sebagai jembatan

Mengintegrasikan literasi digital dengan literasi teks adalah langkah awal. Platform seperti Wattpad, Medium, atau aplikasi e-book seperti Perpusnas Digital dapat menjadi sarana membaca alternatif. Bahkan, membaca thread informatif di Twitter/X juga bisa menjadi pintu masuk.

Gunakan format yang disukai Gen Z 

Inovasi seperti komik edukatif, infografik, dan podcast berbasis naskah bisa digunakan untuk menanamkan minat baca. Beberapa sekolah di Indonesia sudah mulai menggunakan komik pelajaran dan audiobook untuk anak-anak, dan hasilnya cukup menjanjikan.

Jadikan membaca sebagai aktivitas sosial

Ciptakan komunitas membaca yang berbasis minat atau tren terkini. Misalnya, book club daring di Discord atau TikTok Live “bedah buku bareng.” Ketika membaca menjadi aktivitas sosial yang menyenangkan, bukan tugas individual yang berat, Gen Z lebih mudah tertarik.

Peran orang tua dan sekolah

Orang tua dan guru tetap memegang peranan penting. Menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini, memberi teladan, dan menciptakan suasana rumah/sekolah yang mendukung membaca sangatlah vital. Sesederhana menyediakan buku-buku menarik di ruang keluarga bisa menjadi awal yang baik.

Kolaborasi dengan influencer literasi

Libatkan tokoh-tokoh muda yang disukai Gen Z untuk mempromosikan literasi. Influencer dengan pendekatan storytelling dan bahasa yang akrab bisa membuat membaca terasa keren. Misalnya, akun seperti @zenzabook atau @literasiana di TikTok dan Instagram telah berhasil memperkenalkan buku dengan cara menyenangkan.

Kesimpulan: Bukan Malas, Tapi Perlu Didekati dengan Cara Baru

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved