Citizen Journalism
Opini: Menyorot Minat Baca Gen Z, Cek Fakta, Akar Masalah dan Solusi
ERA digital yang serba cepat ini, kita disuguhi konten dalam berbagai bentuk: video singkat, podcast, hingga meme. Semua tersaji instan dan cepat diko
Oleh: Wahyu Saptio Afrima *)
ERA digital yang serba cepat ini, kita disuguhi konten dalam berbagai bentuk: video singkat, podcast, hingga meme. Semua tersaji instan dan cepat dikonsumsi.
Lalu, bagaimana nasib kebiasaan membaca? Banyak pihak mulai gelisah melihat fakta bahwa generasi muda, khususnya Gen Z (kelahiran 1997–2012), semakin menjauh dari buku dan bacaan panjang.
Benarkah mereka malas membaca? Apa penyebabnya? Dan adakah solusi yang realistis?
Menurut data UNESCO, indeks minat baca di Indonesia hanya 0,001, artinya dari 1.000 orang, hanya satu yang benar-benar gemar membaca.
Sementara itu, survei Program for International Student Assessment (PISA) 2022 juga mencatat bahwa skor kemampuan literasi siswa Indonesia berada di bawah rata-rata negara OECD, yaitu 371 poin, jauh di bawah rata-rata global sebesar 487 poin.
Bukan hanya di Indonesia, fenomena ini juga terjadi secara global. Laporan dari Common Sense Media (2023) menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja Amerika Serikat lebih banyak menghabiskan waktu menonton video di YouTube dan TikTok dibanding membaca buku, bahkan e-book sekalipun.
Apa Penyebabnya?
Paparan gadget sejak dini
Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh bersama teknologi digital. Sejak kecil, mereka sudah terbiasa menonton YouTube dan memainkan game di ponsel. Tanpa disadari, ini membentuk pola pikir instan dan lebih tertarik pada konten visual dibandingkan teks panjang.
Menurut We Are Social & Hootsuite 2024, rata-rata pengguna internet Indonesia menghabiskan 8 jam 36 menit per hari online, dan mayoritas waktunya untuk menonton video pendek.
Perubahan pola konsumsi informasi
Jika dulu orang harus membaca koran atau buku untuk mencari informasi, kini cukup dengan mengetik kata kunci di Google atau melihat ringkasan di media sosial. Bahkan, banyak Gen Z yang mengandalkan TikTok sebagai mesin pencari. Ini membuat bacaan panjang menjadi terasa membosankan.
Kurikulum sekolah yang kurang adaptif
Sebagian pelajar menganggap membaca sebagai kewajiban, bukan kebutuhan. Hal ini diperparah dengan sistem pembelajaran yang kaku, penuh hafalan, dan jarang mengaitkan bacaan dengan kehidupan nyata. Padahal, menurut Kemendikbudristek, minat baca bisa tumbuh jika kurikulum dirancang kontekstual dan menyenangkan.
| PNP Sosialisasikan Prodi Logistik Perdagangan Internasional di SMA Pembangunan UNP |
|
|---|
| Inovasi Digital: Memperkuat Pertumbuhan dan Daya Saing UMK |
|
|---|
| PsyCap: Modal Psikologis Sebagai Sumber Daya Dalam Mendukung Kinerja |
|
|---|
| MAN IC Padang Pariaman Menebar Harapan Jemput Masa Depan: Berakit-rakit ke Hulu, Berenang ke Tepian |
|
|---|
| Kuliah Kerja Nyata: Program Mahasiswa di Indonesia Serupa, Bakti Siswa & Magang Industri di Malaysia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Pauh-Limau.jpg)