Banjir Lahar Dingin Gunung Marapi
Warga Sekitar Gunung Marapi Sumbar Diminta Waspada karena Prediksi BMKG Besok Terjadi Cuaca Ekstrem
Warga di sekitar Gunung Marapi Sumbar dihimbau untuk waspada karena Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) stasiun meteorologi kelas II
Penulis: Panji Rahmat | Editor: Mona Triana
Tak lama kemudian, air bah berwarna hitam pekat bercampur kayu-kayu besar menerjang tempat usahanya.
Kayo hanya bisa pasrah melihat tempat usahanya yang dibangun dengan jerih payahnya selama 24 tahun hancur seketika.
"Kalau saya total ada sekitar Rp 2 miliar modal saya membuat pemandian itu dari 24 tahun lalu hingga sekarang," ujar Kayo.
Baca juga: Kisah Liviya & Kayla yang Selamat dari Banjir Lahar Dingin, Lihat Batu Sebesar Mobil Hantam Rumah
"Tak ada yang tersisa, selain motor yang saya selamatkan. Televisi, lemari yang berisi uang sekitar Rp 25 juta hanyut dibawa air," ungkap Kayo dengan air mata berlinang.
Setelah air mulai surut, Kayo menuruni bukit dan kembali ke tempat usahanya. Pemandangan yang ia saksikan semakin membuatnya pilu. Tak ada yang tersisa dari pemandian Mato Aia.
"Memang tidak ada yang tersisa. Semuanya hanyut. Tempat pemandian saya tidak ada lagi," kata Kayo lirih.
Baca juga: Perjuangan Afdel Nekat Terobos Longsor di Malalak Demi Menemui Orang Tua di Agam Sumbar
Banjir bandang ini tak hanya menghancurkan tempat usahanya, tapi juga melumpuhkan perekonomian Kayo. Ia mengaku, dalam satu tahun terakhir, ia mendapatkan penghasilan sekitar Rp 25 juta per bulan dari pemandian tersebut.
"Hasil itu belum termasuk dengan retribusi ke pemerintahan nagari atau desa," imbuhnya.
Kini, Kayo tak memiliki apa-apa lagi. Tabungannya habis untuk mengembangkan usaha, dan semua pakaiannya hanyut terbawa banjir. Ia pun berharap mendapatkan bantuan untuk bisa bangkit kembali.
Kakak Mencari Adik di Reruntuhan Rumah
Uli, seorang perempuan asal kampung Bukik Batabuah, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tak kuasa menahan tangisnya saat melihat kondisi rumahnya yang hancur akibat banjir bandang lahar dingin Gunung Marapi yang terjadi pada Sabtu (11/5/2024) malam.
Di tengah puing-puing reruntuhan, Uli mencari keberadaan adiknya, Halimah Tusyadiah, yang dinyatakan hilang sejak bencana terjadi.
Diiringi isak tangis, Uli mendekati bagian tengah rumahnya yang sudah tak berbentuk.
Baru pada hari Kamis (9/5/2024) pekan lalu, Uli datang ke rumah kelahirannya untuk mengantarkan sang ibu yang meninggal dunia.
Kini, ia kembali ke rumah yang sama, namun dalam kondisi yang berbeda. Luka hatinya semakin pilu saat mengetahui bahwa dua ponakannya yang terseret banjir telah ditemukan dan dinyatakan meninggal dunia.
Baca juga: 3 Mayat Ditemukan Hanyut di Sijunjung, Seorang di Antaranya Dantia Korban Banjir Limo Kaum Sumbar
| Pemkab Agam Usulkan Ratusan Bantuan Rumah bagi Korban Banjir Lahar Dingin, Pembangunan Bertahap |
|
|---|
| BPBD Agam: Bantuan Rehab Rumah untuk Korban Banjir Lahar Dingin Gunung Marapi Sumbar dalam Proses |
|
|---|
| 5 Bulan Banjir Lahar Dingin Gunung Marapi Sumbar Berlalu, Bantuan dari Presiden Tak Kunjung Cair |
|
|---|
| Pasca Banjir Lahar Dingin Gunung Marapi, Ombudsman: Korban Tagih Janji-Janji Pemerintah |
|
|---|
| Mulai Bisa Dilalui 21 Juli, Perbaikan Jalan Padang-Bukittinggi Lembah Anai Baru 40 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/kondisi-Kapolo-Koto-Sungai-Puar-pasca-banjir-bandang.jpg)