Harga BBM Naik

Imbas Harga Pertamax Naik Jadi Rp17.000 per Hari Ini, Antrean Pertalite di Padang Membludak

Sebaliknya, pada koridor pengisian untuk produk Pertamax maupun Pertamax Turbo, suasana tampak lengang dan sepi dari aktivitas berarti.

Tayang:
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rezi Azwar
TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia
ANTREAN PERTALITE- Kondisi antrean kendaraan yang akan melakukan pengisian BBM jenis Pertalite di SPBU Pertamina Kayu Gadang, kawasan Simpang Kampus, Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang pada Rabu (10/6/2026) sekitar pukul 10.33 WIB. 

"Penyesuaian harga untuk Pertamax memang sudah mulai diaplikasikan semenjak tadi malam menjadi Rp17.000 per liternya. Dampaknya bisa dilihat sendiri, dari pagi tadi antrean kendaraan di dispenser Pertalite luar biasa padat, terutama sekali untuk antrean jalur kendaraan roda dua," ujar Gilang di sela-sela kesibukannya melayani konsumen.

Siasat Konsumen: Kurangi Literan hingga Putar Haluan ke Subsidi

Semburan keluhan mulai terdengar dari para pemilik kendaraan roda empat yang terbiasa menggunakan bahan bakar berkualitas tinggi.

Andreas, seorang warga Kota Padang yang tengah mengisi tangki mobil pribadinya, mengaku sangat terkejut saat melihat angka nominal rupiah per liter yang tertera pada mesin dispenser digital.

Meskipun merasa terbebani dengan lonjakan harga yang mendadak ini, ia mengaku terpaksa tetap membeli komoditas tersebut demi menjaga performa mesin kendaraannya.

Strategi yang ia terapkan adalah menetapkan nominal anggaran pembelian yang sama, kendati konsekuensinya kuantitas liter BBM yang didapatkan berkurang banyak.

"Saya jujur baru tahu kalau harga minyak Pertamax ini naik hari ini saat mau isi. Akhirnya saya putuskan tetap mengisi dengan nominal seperti biasanya saja, yakni Rp 250 ribu. Walaupun konsekuensinya jelas, jumlah literan BBM yang masuk ke tangki mobil jadi berkurang jauh dari sebelumnya," tutur Andreas.

Baca juga: Breaking News: BNNP Sumbar Musnahkan 145 Kg Ganja di Krematorium HBT Padang, 4 Tersangka Dihadirkan

Fenomena perpindahan konsumsi akibat disparitas harga ini juga dikonfirmasi oleh Wandi, seorang pengendara sepeda motor yang melintas di kawasan Kuranji.

Pria yang biasanya setia mengisi kendaraan roda duanya dengan varian Pertamax ini sekarang memilih memutar kemudi untuk mengantre di lajur Pertalite yang padat merayap.

Bagi Wandi, perbedaan selisih harga yang mencapai ribuan rupiah per liter memaksa dirinya untuk lebih rasional dalam mengelola pengeluaran harian.

Ia rela menyisihkan waktu lebih lama berdiri di bawah terik matahari demi menghemat anggaran bahan bakar yang kian menguras dompet.

"Biasanya saya malas mengantre panjang, makanya selalu langsung masuk ke jalur Pertamax. Tapi kalau harganya sudah naik begini, tentu harus berpikir dua kali dulu. Selagi tidak sedang tergesa-gesa atau mengejar waktu, lebih baik bersabar sedikit ikut antrean Pertalite yang harganya tidak mengalami kenaikan," beber Wandi.

Nasib Solar Angkutan Logistik dan Jeritan Pengendara Ojol

Keresahan akibat spekulasi kenaikan harga komoditas energi ini rupanya tidak hanya dirasakan oleh para pengguna BBM bensin.

Di sudut lain area SPBU, seorang pengemudi armada truk pengangkut pasir bernama Fauzi tampak menyandarkan tubuhnya di kemudi kendaraan setelah terjebak antrean bahan bakar jenis Solar selama berjam-jam.

Mendengar kasak-kusuk mengenai adanya kenaikan harga produk Pertamax di lokasi, ia langsung berinisiatif menanyakan stabilitas harga Solar kepada petugas lapangan.

Beruntung baginya, kebijakan penyesuaian harga kali ini belum menyentuh sektor BBM bersubsidi untuk angkutan logistik masyarakat tersebut.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved