Penjual Koran

Kisah Ida Penjual Koran di Padang Bertahan di Era Digital, Menolak Menyerah pada Perubahan Zaman

Lembaran-lembaran kertas buram itu berkerisik pelan, bergesekan satu sama lain saat angin pagi mengayunnya di bawah payung lapak.

Tayang:
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia
PENJUAL KORAN - Perempuan paruh paya penjual koran bernama Ida ditemui di Lapaknya, Kelurahan Simpang Haru, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Kamis (4/6/2026). Beberapa eksemplar koran dan majalah sengaja ia gantung di sekeliling payung besar yang menaungi lapaknya. 

Ringkasan Berita:
  • Ida masih menjual koran di Padang saat banyak orang beralih ke ponsel.
  • Setiap hari ia membuka lapak sejak pagi hingga sore demi mempertahankan usaha.
  • Penjualan turun, namun lapak koran itu tetap menjadi sumber nafkah keluarga.
  • Dari hasil menjual koran, Ida dan suami berhasil menyekolahkan anak-anaknya.
  • Di tengah era digital, masih ada pelanggan yang datang mencari nostalgia.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Lembaran-lembaran kertas buram itu berkerisik pelan, bergesekan satu sama lain saat angin pagi mengayunnya di bawah payung lapak.

Di atas meja, beberapa potong kayu sengaja diletakkan sebagai pemberat sebuah usaha sederhana agar bait-bait berita utama hari itu tidak terbang tersapu angin. 

Kepungan bising mesin kendaraan dan aroma knalpot yang mulai memadati udara, bau khas tinta cetak dan kertas koran yang basah oleh kelembapan pagi seolah menciptakan ruang sunyinya sendiri.

Di balik tumpukan kertas itu, seorang wanita paruh baya bernama Ida duduk dengan sabar. 

Matanya sesekali menatap lalu lalang kendaraan yang mulai memadati ruas jalan di Padang Timur. Bagi Ida, aroma kertas koran dan tinta cetak sudah menjadi bagian dari napas hidupnya selama puluhan tahun.

Baca juga: 70 Persen Karhutla di Sumbar Dipicu Pembukaan Lahan, Dinas Kehutanan Minta Warga Setop Membakar

Untuk memikat mata para pejalan kaki atau pengendara yang melintas, Ida punya trik sendiri. Beberapa eksemplar koran dan majalah sengaja ia gantung di sekeliling payung besar yang menaungi lapaknya. 

Strategi visual yang sederhana, namun menjadi penanda ringkih bahwa industri literasi cetak masih berdenyut di sudut kota ini.

"Sekarang zaman sudah berubah jauh. Penjualan koran tidak seperti dulu lagi," ujar Ida membuka percakapan dengan nada suara yang tenang namun menyimpan sedikit kerinduan pada masa lalu, Kamis (4/6/2026).

Lapak kecil itu tidak hanya menyediakan berita harian lokal berlokasi di Kelurahan Simpang Haru, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang.

Baca juga: Prakiraan Cuaca 7 Kota Sumbar Hari Ini Jumat 5 Juni 2026, Bukittinggi Wilayah dengan Suhu Terendah

Ida mencoba bertahan dengan keberagaman. Di sana berjejer pula buku Teka-Teki Silang (TTS), majalah anak legendaris Bobo, hingga surat kabar berskala nasional. Ia mencoba merawat sisa-sisa pasar yang kian menyusut.

Soal harga, Ida mematoknya dengan sangat terjangkau. Satu eksemplar koran harian ia jual seharga Rp 5.000 saja.

Sementara untuk majalah Bobo dibanderol Rp 21.000, dan buku TTS yang kerap dicari untuk mengisi waktu luang dijualnya seharga dua Rp5.000.

"Kalau dihitung-hitung, jika terlalu bergantung hidup dari penjualan di lapak ini saja, jelas tidak akan cukup," ucap Ida.

Namun, di balik lembaran-lembaran kertas yang kini mulai sepi peminat itu, tersimpan cerita tentang martabat sebuah keluarga. 

Baca juga: 3 BERITA POPULER PADANG: Harga Plastik Melejit, Kepulangan Jemaah Haji dan Proyektil Peluru Nyasar

Bersama suaminya, Ida telah mengarungi pasang surut dunia distribusi informasi ini sejak lama.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved