Langgam Sunyi di Batu Busuk: Ketika Harapan Terhimpit Bongkahan Batu

Di atas lahan yang kini mati total itu, pemulihan ekonomi terasa berjalan di tempat.

Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia
PASCA BANJIR - Suasana di Kawasan Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumbar, pasca banjir bandang pada Februari 2026. Hamparan sawah tertutup bongkahan atau sedimen banjir akhir tahun lalu. 

Kategorisasi dibagi menjadi rusak ringan, sedang, dan berat untuk memastikan skala prioritas penanganan.

Fauzan menegaskan bahwa data yang dihimpun tidak berdiri sendiri. Pemerintah memastikan adanya sinkronisasi dengan data Rencana Kontinjensi (RKP3) milik BNPB guna menghindari terjadinya tumpang tindih pemberian bantuan.

Prinsip keadilan dan pemerataan menjadi komitmen utama pemerintah daerah.

"Jangan sampai ada satu orang yang menerima bantuan berkali-kali sementara yang lain tidak mendapatkan sama sekali. Sejauh ini, bantuan yang telah tersalurkan dari berbagai pihak, baik kampus maupun lembaga donor, berjalan lancar tanpa ada komplain berarti. Namun, kami tetap membuka mata terhadap pelaku usaha yang mungkin belum termonitor agar segera masuk ke dalam sistem pendataan," tambahnya.

Langkah pemulihan tidak sekadar berhenti pada pemberian bantuan fisik atau modal. Melalui koordinasi dengan Kementerian terkait, kini hadir program "Klinik UMKM Minang Bangkit".

Baca juga: Jelang Idul Adha, Pemko Padang Periksa Puluhan Kandang dan Latih Panitia Kurban

Inisiatif ini dirancang sebagai command center sekaligus service center yang mengintegrasikan pendampingan usaha secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Program pemulihan ini dirancang melalui tiga fase krusial:

Pemulihan Mental: Melalui trauma healing bagi pelaku usaha agar memiliki resiliensi psikologis pascabencana.
Pemulihan Usaha: Pemberian pelatihan teknis, konsultasi manajemen, hingga fasilitasi perizinan.

Penguatan dan Pertumbuhan: Dukungan pemasaran digital dan memasukkan produk lokal ke dalam E-Katalog pemerintah agar akses pasar semakin terbuka lebar.

Klinik ini diharapkan menjadi ruang konsultasi bagi pelaku usaha di Kota Padang, khususnya di Kecamatan Pauh, Kuranji, Nanggalo, dan Lubuk Minturun yang menjadi wilayah terdampak paling parah. Sinergi dengan perbankan, lembaga non-bank, hingga jaringan perantau Minang terus diperkuat untuk memastikan keberlanjutan program ini.

Fauzan menyadari bahwa memulihkan ekonomi pascabencana bukan sekadar memindahkan lokasi berjualan.
Karakteristik pelaku usaha kecil di Padang menunjukkan daya tahan yang luar biasa; mereka seringkali tetap berupaya berjualan meski dalam kondisi darurat. Namun, intervensi pemerintah harus dilakukan secara hati-hati tanpa mengabaikan aspek sosiologis.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Padang Hari Ini: Sore Hujan Ringan Saat Laga Semen Padang FC vs Persijap

"Konversi kehidupan masyarakat tidak mudah. Kita tidak bisa tiba-tiba menyuruh seorang petani menjadi nelayan hanya karena situasi berubah. Pendekatan kita harus tetap berbasis pada keahlian dan kebiasaan mereka sebelumnya, namun dengan penguatan infrastruktur dan modal yang lebih baik," jelasnya.

Saat ini, Pemerintah Kota Padang di bawah arahan Wali Kota juga tengah mengkaji pemberian bantuan stimulan dalam bentuk modal awal tunai. Bantuan ini diharapkan menjadi pelumas bagi mesin ekonomi warga yang sempat macet akibat bencana.

Dengan integrasi antara bantuan modal, pendampingan mental, dan akses pasar digital, UMKM di Kota Padang diharapkan tidak sekadar kembali berdiri, namun mampu melompat lebih jauh menuju kemandirian ekonomi. (*)

Sumber: Tribun Padang
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved