Langgam Sunyi di Batu Busuk: Ketika Harapan Terhimpit Bongkahan Batu
Di atas lahan yang kini mati total itu, pemulihan ekonomi terasa berjalan di tempat.
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi
Ringkasan Berita:
- Bencana Batu Busuk Padang timbun sawah, warga kehilangan sumber penghasilan
- Lahan tertutup batu, petani tak bisa tanam meski sudah didata bantuan
- Warga butuh alat berat, pemulihan lahan belum tersentuh
- Ratusan petani terdampak, puluhan hektare sawah hilang terbawa arus
- Pemko siapkan dana dan program UMKM, hasilnya masih ditunggu
TRIBUN PADANG.COM, PADANG - Siang itu, Sabtu (14/3/2026), Syamsuardi berdiri di tepi lahan yang dulu merupakan tumpuan hidup keluarganya.
Matanya menatap nanar hamparan material sisa bencana yang kini menyerupai padang batu gersang di kawasan Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat.
Tak ada lagi hijau daun padi atau aroma tanah basah yang menjanjikan bulir-bulir gabah yang tersisa hanyalah sedimen lumpur yang mengeras dan bongkahan batu besar yang mustahil digeser hanya dengan kekuatan jemari.
Di atas lahan yang kini mati total itu, pemulihan ekonomi terasa berjalan di tempat. Bagi warga seperti Syamsuardi, pemandangan sawahnya yang tertimbun material sisa bencana adalah potret nyata lumpuhnya sumber penghidupan.
Tanpa bantuan alat berat untuk menyingkirkan batu-batu tersebut, mustahil bagi tangan manusia untuk kembali menyentuh tanah dan memulai masa tanam.
Baca juga: Jadwal Bioskop Padang Senin 20 April 2026: Ada Tiba-Tiba Setan hingga Project Hail Mary
"Ada sekitar dua hektar kebun durian yang terdampak, dan sawah yang biasanya menghasilkan 60 karung gabah sekarang tidak bisa dipanen lagi," ujar Syamsuardi dengan nada getir.
Syamsuardi melihat adanya ketimpangan prioritas dalam proses rehabilitasi. Sementara alat berat meraung-raung di sungai untuk normalisasi dan perbaikan jembatan, lahan-lahan pertanian warga dibiarkan terbengkalai.
“Pemerintah masih fokus membangun jembatan dan lainnya. Sementara kami, tidak ada yang bisa dikerjakan lagi. Pemuda di sini terpaksa mengambil batu dan pasir sungai hanya untuk menyambung hidup harian," terangnya.
Realitas pahit di lapangan menunjukkan bahwa bantuan administratif sering kali tidak sinkron dengan kebutuhan fisik lahan.
Murni, seorang warga yang kini menghuni Hunian Sementara (Huntara) Kapalo Koto, menceritakan bagaimana batas-batas antar-lahan sawahnya kini hilang tertimbun pasir tebal.
Baca juga: Kenaikan BBM Non Subsidi Picu Lonjakan Biaya Operasional, Apindo: Industri hingga Hotel Tertekan
Meski telah didata oleh Pemerintah Kota Padang untuk menerima bantuan sektor pertanian, Murni menyimpan keraguan besar.
“Jika ada bantuan bibit, kami bukan menolak, tapi mau ditanam di mana? Lahan belum bisa diolah karena dipenuhi batu," tuturnya.
Baginya, memberikan bibit sebelum membersihkan lahan adalah kebijakan yang tidak menyentuh akar masalah.
Keresahan serupa dirasakan Yulizarni, warga Huntara Mandiri. Usaha pembuatan batu lado (cobek) yang menjadi tumpuan hidupnya hanyut tanpa sisa.
"Sudah didata, tapi tidak tahu apa hasilnya nanti. Belum ada pelatihan atau bantuan modal untuk memulai usaha baru. Yang terpenting bagi kami adalah bagaimana mata pencaharian ke depan," katanya.
evakuasi banjir di Padang
Update Banjir di Padang
banjir di Padang
lahan pertanian
Batu Busuk
Banjir Batu Busuk
| Mata Pencaharian yang Terkubur: Menagih Janji Pemulihan Ekonomi di Batu Busuk Padang |
|
|---|
| Petani Terdampak Bencana Diminta Bertahan, Sarankan Tanam Ubi di Lokasi Lahan Pertanian Rusak |
|
|---|
| Nasib Petani Sumbar Menggantung, Anggaran Perbaikan Lahan Rusak Berat Akibat Bencana Belum Ada |
|
|---|
| Kementan Targetkan Pemulihan Lahan Pertanian Sumbar Rampung Satu Bulan, Dinas Percepat Cairkan Dana |
|
|---|
| BREAKING NEWS: Satu Korban Banjir Bandang Pasaman Ditemukan Meninggal, Satu Lagi Masih Hilang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/PASCA-BANJIR-Suasana-di-Kawasan-Batu-d6-Had.jpg)