Langgam Sunyi di Batu Busuk: Ketika Harapan Terhimpit Bongkahan Batu

Di atas lahan yang kini mati total itu, pemulihan ekonomi terasa berjalan di tempat.

Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia
PASCA BANJIR - Suasana di Kawasan Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumbar, pasca banjir bandang pada Februari 2026. Hamparan sawah tertutup bongkahan atau sedimen banjir akhir tahun lalu. 

 

Ringkasan Berita:
  • Bencana Batu Busuk Padang timbun sawah, warga kehilangan sumber penghasilan
  • Lahan tertutup batu, petani tak bisa tanam meski sudah didata bantuan
  • Warga butuh alat berat, pemulihan lahan belum tersentuh
  • Ratusan petani terdampak, puluhan hektare sawah hilang terbawa arus
  • Pemko siapkan dana dan program UMKM, hasilnya masih ditunggu

TRIBUN PADANG.COM, PADANG - Siang itu, Sabtu (14/3/2026), Syamsuardi berdiri di tepi lahan yang dulu merupakan tumpuan hidup keluarganya.

Matanya menatap nanar hamparan material sisa bencana yang kini menyerupai padang batu gersang di kawasan Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat.

Tak ada lagi hijau daun padi atau aroma tanah basah yang menjanjikan bulir-bulir gabah yang tersisa hanyalah sedimen lumpur yang mengeras dan bongkahan batu besar yang mustahil digeser hanya dengan kekuatan jemari.

Di atas lahan yang kini mati total itu, pemulihan ekonomi terasa berjalan di tempat. Bagi warga seperti Syamsuardi, pemandangan sawahnya yang tertimbun material sisa bencana adalah potret nyata lumpuhnya sumber penghidupan.

Tanpa bantuan alat berat untuk menyingkirkan batu-batu tersebut, mustahil bagi tangan manusia untuk kembali menyentuh tanah dan memulai masa tanam.

Baca juga: Jadwal Bioskop Padang Senin 20 April 2026: Ada Tiba-Tiba Setan hingga Project Hail Mary

"Ada sekitar dua hektar kebun durian yang terdampak, dan sawah yang biasanya menghasilkan 60 karung gabah sekarang tidak bisa dipanen lagi," ujar Syamsuardi dengan nada getir.

Syamsuardi melihat adanya ketimpangan prioritas dalam proses rehabilitasi. Sementara alat berat meraung-raung di sungai untuk normalisasi dan perbaikan jembatan, lahan-lahan pertanian warga dibiarkan terbengkalai.

“Pemerintah masih fokus membangun jembatan dan lainnya. Sementara kami, tidak ada yang bisa dikerjakan lagi. Pemuda di sini terpaksa mengambil batu dan pasir sungai hanya untuk menyambung hidup harian," terangnya.

Realitas pahit di lapangan menunjukkan bahwa bantuan administratif sering kali tidak sinkron dengan kebutuhan fisik lahan.

Murni, seorang warga yang kini menghuni Hunian Sementara (Huntara) Kapalo Koto, menceritakan bagaimana batas-batas antar-lahan sawahnya kini hilang tertimbun pasir tebal.

Baca juga: Kenaikan BBM Non Subsidi Picu Lonjakan Biaya Operasional, Apindo: Industri hingga Hotel Tertekan

PASCA BANJIR - Suasana di Kawasan Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumbar, pasca banjir bandang pada Februari 2026. Di atas lahan yang kini mati total itu, pemulihan ekonomi terasa berjalan di tempat.
PASCA BANJIR - Suasana di Kawasan Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumbar, pasca banjir bandang pada Februari 2026. Di atas lahan yang kini mati total itu, pemulihan ekonomi terasa berjalan di tempat. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Meski telah didata oleh Pemerintah Kota Padang untuk menerima bantuan sektor pertanian, Murni menyimpan keraguan besar.

 “Jika ada bantuan bibit, kami bukan menolak, tapi mau ditanam di mana? Lahan belum bisa diolah karena dipenuhi batu," tuturnya.

 Baginya, memberikan bibit sebelum membersihkan lahan adalah kebijakan yang tidak menyentuh akar masalah.
Keresahan serupa dirasakan Yulizarni, warga Huntara Mandiri. Usaha pembuatan batu lado (cobek) yang menjadi tumpuan hidupnya hanyut tanpa sisa.

"Sudah didata, tapi tidak tahu apa hasilnya nanti. Belum ada pelatihan atau bantuan modal untuk memulai usaha baru. Yang terpenting bagi kami adalah bagaimana mata pencaharian ke depan," katanya.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved