Langgam Sunyi di Batu Busuk: Ketika Harapan Terhimpit Bongkahan Batu

Di atas lahan yang kini mati total itu, pemulihan ekonomi terasa berjalan di tempat.

Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia
PASCA BANJIR - Suasana di Kawasan Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumbar, pasca banjir bandang pada Februari 2026. Hamparan sawah tertutup bongkahan atau sedimen banjir akhir tahun lalu. 

Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum (Kasi Trantibum) Kecamatan Pauh, Hendri Yoza, memaparkan data yang mengonfirmasi skala kerusakan lahan tersebut.

Baca juga: Harga Solar Industri Naik, Apindo Sumbar Sebut Pengusaha Hotel hingga Manufaktur Tercekik

Berdasarkan pendataan by name, terdapat ratusan pengelola lahan yang kini kehilangan sumber pendapatan utama mereka.

"Di Kapalo Koto tercatat ada 172 orang yang lahannya terdampak, sementara di Lambung Bukik mencapai 126 orang. Secara total se-kecamatan, ada 392 orang yang kehilangan produktivitas sawah dan kolam mereka," ujar Hendri, Senin (6/4/2026).

Kondisi di Lambung Bukik menjadi yang paling ekstrem karena banyak sawah yang tidak sekadar rusak, tetapi hanyut terbawa arus.

"Sedimen sisa banjir masih ada di sana. Lahan yang tidak rusak berat kami sarankan untuk ditanami komoditas lain seperti sayur atau jagung, jangan dibiarkan kosong," imbuhnya.

Namun, bagi lahan yang tertimbun sedimen tebal, saran diversifikasi tersebut sulit diterapkan tanpa normalisasi lahan terlebih dahulu.

Di tengah kebuntuan tersebut, Pemerintah Kota Padang mulai menjalankan program rehabilitasi menggunakan dana bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan) sebesar Rp 7,6 miliar.

Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yuliani, menjelaskan bahwa dana tersebut dialokasikan untuk memperbaiki ratusan hektare sawah dengan sistem padat karya.

Baca juga: Harga Telur Ayam di Padang Stabil saat BBM Non-Subsidi Naik, Cabai Merah Justru Makin Mahal

"Anggaran yang sudah disupport menteri pertanian untuk Kota Padang yang sudah dialokasikan sekitar Rp 7,6 miliar. Uangnya ditransfer oleh Kementan ke rekening kelompok tani hingga bisa diperbaiki seperti semula," jelas Yoice, Selasa (31/3/2026).

Untuk lahan rusak sedang hingga berat di wilayah seperti Kuranji, dialokasikan Rp 15,5 juta per hektare guna pembersihan sedimen. Namun, Yoice mengakui adanya kendala besar untuk wilayah Pauh, khususnya lahan yang hilang total terbawa arus sungai.

"Sekitar 40 hektare sawah di wilayah tersebut hilang hanyut. Belum ada bantuan pasti dari menteri pertanian dan masih mencari solusi yang cocok untuk sawah hanyut," tambahnya.

Di sisi lain, pemulihan ekonomi juga menyasar sektor non-pertanian.Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Padang, Fauzan Ibnovi saat ditemui di Padang, Kamis (9/4/2026), mengungkapkan bahwa berdasarkan pendataan terbaru, terdapat 660 pelaku UMKM yang terdampak langsung oleh bencana tersebut.

Kerusakan yang dialami bervariasi, mulai dari hilangnya tempat usaha hingga hancurnya alat-alat produksi utama yang selama ini digunakan untuk menyambung hidup.

"Total nilai kerugian fisik yang dialami 660 pelaku usaha ini mencapai Rp5,3 miliar. Kami menerjunkan petugas ke lapangan untuk mendata secara mendalam, dilengkapi dengan bukti foto dan rincian barang-barang yang hanyut atau rusak agar bantuan yang disalurkan tepat sasaran," ujar Fauzan.

Baca juga: Harga Telur Ayam di Padang Stabil saat BBM Non-Subsidi Naik, Cabai Merah Justru Makin Mahal

Dalam mengklasifikasikan kerusakan, Dinas Koperasi dan UMKM merujuk pada barometer yang ditetapkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sumber: Tribun Padang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved