Harga BBM di Sumbar

Harga Solar Industri Naik, Apindo Sumbar Sebut Pengusaha Hotel hingga Manufaktur Tercekik

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, khususnya solar industri, dinilai memberikan dampak signifikan

Tayang:
Penulis: Muhammad Afdal Afrianto | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/ist
DAMPAK BBM NAIK - Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumbar, Rina Pangeran. Dia mengatakan kenaikan tersebut paling dirasakan oleh sektor industri yang sangat bergantung pada penggunaan solar, terutama untuk operasional cadangan seperti genset. 

Ringkasan Berita:
  • Kenaikan BBM non-subsidi picu lonjakan biaya usaha di Sumbar
  • Industri dan hotel paling terdampak akibat harga solar naik
  • Apindo sebut pelaku usaha mulai sesuaikan harga jual
  • Daya beli melemah, tekanan ke dunia usaha makin terasa
  • Apindo minta pemerintah bebaskan PPN solar industri sementara

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, khususnya solar industri, dinilai memberikan dampak signifikan terhadap dunia usaha di Sumatera Barat.

Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumbar, Rina Pangeran, mengatakan kenaikan tersebut paling dirasakan oleh sektor industri yang sangat bergantung pada penggunaan solar, terutama untuk operasional cadangan seperti genset.

“Yang paling besar pengaruhnya itu solar industri. Dunia usaha sangat terdampak, termasuk hotel dan manufaktur. Mereka harus standby genset saat listrik padam, dan itu pakai solar,” ujar Rina Pangeran saat diwawancarai TribunPadang.com, Senin (20/4/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan harga solar industri dari Rp28.150 menjadi Rp30.550 per liter atau naik sekitar Rp2.400 per liter, belum termasuk pajak pertambahan nilai (PPN), semakin membebani pelaku usaha.

“Kalau ditambah PPN 10 persen, tentu akan sangat memberatkan dunia industri,” katanya.

Baca juga: Padang Kurang 5.000 Sapi Kurban, Dinas Pertanian Datangkan Pasokan dari Medan hingga NTT

Menurutnya, lonjakan harga tersebut berdampak langsung terhadap meningkatnya biaya operasional di berbagai sektor, seperti manufaktur, perhotelan, logistik, hingga pertambangan.

Akibatnya, pelaku usaha terpaksa menyesuaikan harga jual produk maupun jasa untuk menutup kenaikan biaya tersebut.

“Dampaknya luar biasa. Biaya operasional naik, akhirnya harga jual juga naik,” ujarnya.

Rina menambahkan, kondisi ini terjadi di tengah melemahnya daya beli masyarakat, sehingga berpotensi menekan kinerja dunia usaha secara keseluruhan.

“Daya beli masyarakat saat ini sedang lemah. Kalau harga jual ikut naik, tentu ini menjadi tekanan tambahan bagi pelaku usaha,” jelasnya.

Baca juga: Harga Telur Ayam di Padang Stabil saat BBM Non-Subsidi Naik, Cabai Merah Justru Makin Mahal

Tak hanya sektor industri, kenaikan BBM non-subsidi juga berdampak pada perusahaan logistik dan transportasi yang dipastikan akan mengalami kenaikan biaya distribusi.

“Logistik dan transportasi pasti akan naik juga. Ini efek berantai,” katanya.

Ia menegaskan, sektor yang paling merasakan dampak adalah industri karena kenaikan biaya operasional yang signifikan akan langsung memengaruhi harga jual di pasar.

“Yang paling terasa itu di industri. Biaya operasional naik, harga jual ikut naik, sementara daya beli masyarakat menurun,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Apindo Sumbar meminta pemerintah untuk mengambil langkah strategis guna meringankan beban pelaku usaha, salah satunya dengan membebaskan PPN atas solar industri selama harga masih tinggi.

“Kami berharap pemerintah bisa membebaskan PPN solar industri sementara waktu, apalagi kenaikan ini dipicu oleh kelangkaan impor BBM akibat situasi global,” tutupnya. (*)

 

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved