Berita Populer Padang

Berita Populer Padang: Bundo Kanduang Masak Lamang Sambut Ramadan dan Persiapan Perayaan Imlek 2026

Selain itu, terdapat juga berita jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Pauh mulai salat Tarawih pada Senin malam.

Tayang:
Editor: Rezi Azwar
TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia
MALAMANG JELANG RAMADAN- Puluhan perempuan yang tergabung dalam Bundo Kanduang RW 03 Kelurahan Jati, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, malamang menyambut Ramadhan, Senin (16/2/2026). Kemeriahan menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah mulai terasa di Kota Padang, salah satu tradisi yang tetap eksis dilaksanakan adalah "Malamang Basamo" atau memasak lamang bersama-sama. 

"Biayanya dari cara badoncek. Kami kumpulkan bersama-sama, dan nanti setelah matang, disantap bersama-sama pula oleh warga," tambahnya dengan semangat.

Baca juga: Kakanwil KemenHAM Sumbar Pantau Seleksi PPPK, Tekankan Transparansi dalam Merekrut SDM Berkualitas

MALAMANG JELANG RAMADAN: Kemeriahan menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah mulai terasa di Kota Padang, Sumatera Barat. Salah satu tradisi yang tetap eksis dilaksanakan adalah
MALAMANG JELANG RAMADAN: Kemeriahan menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah mulai terasa di Kota Padang, Sumatera Barat. Salah satu tradisi yang tetap eksis dilaksanakan adalah "Malamang Basamo" atau memasak lamang bersama-sama. Suasana hangat penuh kekeluargaan ini terlihat jelas di Lapangan Balai Pemuda Jati Rumah Gadang, RW 03, Kelurahan Jati, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Senin (16/2/2026). (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Untuk tahun ini, jumlah bahan yang diolah terbilang cukup banyak. Bundo Kanduang Jati menyiapkan sebanyak 18 gantang beras ketan sebagai bahan utama pembuatan lamang.

Tak hanya itu, mereka juga menyediakan 40 liter santan kelapa murni. Santan ini menjadi kunci utama untuk menghasilkan rasa lamang yang gurih dan lezat khas Minangkabau.

Adonan ketan dan santan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam 40 ruas bambu atau talang yang telah disiapkan sebelumnya. Bambu-bambu ini berjejer rapi di atas perapian kayu yang membara.

Uniknya, tahun ini ada tiga jenis lamang yang dibuat sekaligus oleh para ibu-ibu Bundo Kanduang. Ketiga jenis tersebut adalah lamang pisang, lamang beras ketan, dan lamang galamai.

"Hari ini kami menyediakan tiga jenis lamang. Ada yang pakai pisang, ada ketan putih biasa, dan ada juga lamang galamai yang rasanya lebih manis," jelas Anizar.

Baca juga: Kemenag Sumbar Gelar Pemantauan Hilal 1 Ramadan 1447 H di 15 Titik, Padang di Masjid Al Hakim

MALAMANG JELANG RAMADAN: Puluhan perempuan yang tergabung dalam Bundo Kanduang RW 03 Kelurahan Jati, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, malamang menyambut Ramadhan, Senin (16/2/2026). Bau khas pembakaran kayu yang bercampur dengan aroma gurih santan dan ketan menyeruak dari Lapangan Balai Pemuda Jati Rumah Gadang, menandakan sebuah tradisi tua sedang dirawat dengan penuh cinta oleh tangan-tangan ibu.
MALAMANG JELANG RAMADAN: Puluhan perempuan yang tergabung dalam Bundo Kanduang RW 03 Kelurahan Jati, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, malamang menyambut Ramadhan, Senin (16/2/2026). Bau khas pembakaran kayu yang bercampur dengan aroma gurih santan dan ketan menyeruak dari Lapangan Balai Pemuda Jati Rumah Gadang, menandakan sebuah tradisi tua sedang dirawat dengan penuh cinta oleh tangan-tangan ibu. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Terkait proses memasak, Anizar membeberkan rahasia waktu pematangan. Menurutnya, durasi memasak sangat bergantung pada kondisi nyala api di perapian.

Jika api stabil dan menyala lancar, proses pembakaran hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam saja. Namun, jika api tersendat, proses pematangan bisa memakan waktu hingga dua jam lamanya.

Meskipun proses persiapannya tergolong lama dan membutuhkan ketelatenan, namun hal itu tidak menjadi beban bagi warga. Pasalnya, pekerjaan berat tersebut dilakukan secara beramai-ramai sehingga terasa ringan.

Anizar berharap agar tradisi malamang ini tidak hilang ditelan zaman. Ia sangat menekankan agar generasi muda mau ikut serta mempertahankan budaya yang kaya akan nilai gotong royong ini.

"Harapan saya, generasi muda bisa mempertahankan tradisi ini. Jangan sampai terlindas zaman karena menganggap prosesnya lama dan rumit. Padahal jika dikerjakan bersama, semuanya akan terasa ringan dan silaturahmi tetap terjaga," pungkasnya.

3. Lampion Merah Hiasi Kawasan Pondok, Klenteng See Hin Kiong Padang Siap Sambut Perayaan Imlek 2026

Persiapan di Klenteng See Hin Kiong, kawasan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang sudah rampung 100 persen jelang perayaan Imlek 2026.

Mulai dari pembersihan Arca, gedung, pemasangan lampion, mempersiapkan lilin dan persiapan lainnya.

Hal ini dikatakan oleh Humas Klenteng See Hin Kiong, Indra Lee kepada TribunPadang.com saat ditemui di lokasi, Senin (16/2/2026).

Persiapan kata Indra Lee, sudah dilakukan seminggu jelang perayaan Imlek 2026 nanti malam. Persiapan juga dilakukan di dua tempat, yakni Klenteng baru dan Klenteng lama See Hin Kiong.

Untuk jaraknya hanya beberapa meter saja dari Klenteng baru See Hin Kiong ke Klenteng lama.

Baca juga: Besok Sidang Isbat Ramadan 2026, Cek 96 Titik Pantau Hilal Termasuk 15 Lokasi di Sumbar

PERAYAAN IMLEK PADANG - Situasi jelang perayaan Imlek di Klenteng See Hin Kiong, kawasan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Senin (16/2/2026). Humas Klenteng See Hin Kiong, Indra Lee sebut persiapan sudah rampung 100 persen, tinggal pelaksanaan ibadah nanti malam.
PERAYAAN IMLEK PADANG - Situasi jelang perayaan Imlek di Klenteng See Hin Kiong, kawasan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Senin (16/2/2026). Humas Klenteng See Hin Kiong, Indra Lee sebut persiapan sudah rampung 100 persen, tinggal pelaksanaan ibadah nanti malam. (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

Klenteng baru ini berlokasi tepat di depan gedung Himpunan Bersatu Teguh (HBT). Di HBT, bakal digelar bazar pada perayaan Imlek nanti malam.

"Persiapan kita sudah 100 persen, tinggal ibadah saja nanti malam di Klenteng baru," ungkapnya saat memberikan keterangan.

Di Klenteng lama, persiapan juga dilakukan untuk pertunjukan seni, seperti tari piring dari Minang, dance, wushu, penampilan musik Gambang dan lain sebagainya.

Diketahui, salah satu instrumen utama dalam orkes Gambang Kromong, yang merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa (Cina) dan budaya Betawi. 

Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Sumbar 16 Februari 2026: Hujan Lebat Intai Padang hingga Agam Selasa Sore

PERAYAAN IMLEK PADANG - Situasi jelang perayaan Imlek di Klenteng See Hin Kiong, kawasan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Senin (16/2/2026). Pantauan TribunPadang.com di lokasi sejak pukul 14:15 WIB, lampion-lampion berwarna merah sudah terpasang di jalanan.
PERAYAAN IMLEK PADANG - Situasi jelang perayaan Imlek di Klenteng See Hin Kiong, kawasan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Senin (16/2/2026). Pantauan TribunPadang.com di lokasi sejak pukul 14:15 WIB, lampion-lampion berwarna merah sudah terpasang di jalanan. (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

"Kita di Padang ini, kalau untuk kebersamaan solid sekali," pungkasnya.

Pantauan TribunPadang.com di lokasi sejak pukul 14:15 WIB, lampion-lampion berwarna merah sudah terpasang di jalanan.

Memasuki Klenteng lama, lampion juga terpasang namun tidak sebanyak di Klenteng See Hin Kiong baru.

Di dalam Klenteng lama, para petugas tampak sedang bekerja, mempersiapkan kebutuhan untuk pertunjukan seni nanti malam.

Sedangkan di Klenteng See Hin Kiong baru, lampion terpasang cukup banyak di bagian luar, lampion itu berwarna merah dengan corak Chinese.

Baca juga: Pasar Timur Payakumbuh Terbakar Senin Dini Hari, 3 Petugas Damkar Sesak Napas Saat Padamkan Api

Kemeriahan tersebut juga mengundang masyarakat, bahkan umat Islam banyak yang mengabadikan momen di depan Klenteng tersebut.

Sementara di bagian dalam, persiapan juga tampak matang, mulai dari lilin, dupa dan perlengkapan ibadah lainnya.

Bahkan, terlihat beberapa jemaat yang melaksanakan ibadah di dalamnya.(*)

4. Jemaah Tarekat Naqsabandiyah Padang Salat Tarawih Malam Ini, Besok Mulai Puasa Ramadan 2026

Suasana khidmat menyelimuti kawasan Pasar Baru, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, pada Senin (16/2/2026) malam. 

Di bawah langit yang menggantung kelabu dan rintik gerimis yang membasahi aspal Jalan Dr. Mohammad Hatta, sejumlah pria paruh baya melangkah perlahan menuju sebuah bangunan bersahaja yang dikenal dengan nama Surau Baru.

Langkah kaki mereka mantap menuju rumah ibadah yang didominasi cat berwarna putih dan hijau dengan aksen kuning tersebut. 

Meski cuaca sedikit kurang bersahabat, semangat untuk menunaikan ibadah di malam pertama bulan suci Ramadhan tidak surut bagi para jemaah Tarekat Naqsabandiyah.

Surau Baru bukan sekadar bangunan biasa. Di dalamnya, aroma kayu tua menyeruak, memberikan kesan magis dan historis. 

Baca juga: 5 Remaja Terjebak Sungai Batang Kandis Padang Dievakuasi Pukul 19.30 WIB, 3 Lagi Masih Dicari

TAREKAT NAQSABANDIYAH PADANG: Senin malam(16/2/2026) itu menjadi momentum penting bagi jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Kecamatan Pauh. Mereka melaksanakan salat Tarawih perdana, menandai dimulainya bulan Ramadhan lebih awal dibandingkan dengan penetapan kalender pemerintah maupun organisasi Islam besar lainnya di Indonesia.
TAREKAT NAQSABANDIYAH PADANG: Senin malam(16/2/2026) itu menjadi momentum penting bagi jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Kecamatan Pauh. Mereka melaksanakan salat Tarawih perdana, menandai dimulainya bulan Ramadhan lebih awal dibandingkan dengan penetapan kalender pemerintah maupun organisasi Islam besar lainnya di Indonesia. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Lantai kayu yang sudah dipoles waktu serta sembilan tonggak penyangga utama yang telah berdiri kokoh selama puluhan tahun menjadi saksi bisu perjalanan spiritual jemaah di pinggiran Kota Padang ini.

Tepat setelah azan Magrib berkumandang, para jemaah yang mayoritas berusia lanjut mulai memadati ruangan. 

Mereka mengenakan baju koko bersih, sebagian besar berwarna putih, mencerminkan kesederhanaan sekaligus kesucian niat untuk memulai rangkaian ibadah panjang selama sebulan penuh.

Senin malam itu menjadi momentum penting bagi jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Kecamatan Pauh. 

Mereka melaksanakan salat Tarawih perdana, menandai dimulainya bulan Ramadhan lebih awal dibandingkan dengan penetapan kalender pemerintah maupun organisasi Islam besar lainnya di Indonesia.

Baca juga: Retribusi Makam di Padang Menunggak Rp1,5 Miliar, Seribu Lebih Diberi Tanda Silang

Imam Surau Baru sekaligus pengurus tarekat, Zahar, menjelaskan bahwa pelaksanaan ibadah ini bukanlah keputusan yang diambil secara mendadak. 

Penetapan awal Ramadan bagi kaum Naqsabandiyah di wilayah tersebut telah diputuskan sejak dua bulan lalu melalui mekanisme yang terukur.

Keputusan tersebut merupakan hasil musyawarah mufakat yang melibatkan para tokoh ulama dan guru-guru tarekat.

"Kami sudah menentukan awal puasa ini jauh hari melalui pertemuan para ulama kami," ujar Zahar saat ditemui di sela-sela persiapan ibadah malam itu.

Bagi jemaah Naqsabandiyah, penentuan 1 Ramadan didasarkan pada perhitungan yang komprehensif. 

Baca juga: BREAKING NEWS 8 Warga Terjebak Aliran Sungai di Balai Gadang Padang, Debit Air Tiba-Tiba Naik

Zahar menyebutkan bahwa para ulama menggunakan metode hisab (perhitungan astronomi tradisional), rukyah (pengamatan hilal), serta berpedoman pada dalil, ijma, dan qiyas.

Kombinasi antara metode perhitungan dan rujukan hukum Islam ini menjadi dasar keyakinan mereka untuk menetapkan bahwa awal puasa jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026. Dengan demikian, salat Tarawih sudah  dimulai pada Senin malam sebelumnya.

Tarekat Naqsabandiyah sendiri dikenal sebagai salah satu ordo Sufi Sunni terbesar yang berakar kuat pada ajaran Bahauddin al-Bukhari an-Naqsyabandi.

Di Sumatera Barat, tarekat ini memiliki basis pengikut yang loyal dan konsisten menjalankan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Fokus utama dari ajaran ini adalah zikir hati atau dzikr al-qalb. Para jemaah ditekankan untuk selalu menjaga ketaatan yang ketat terhadap syariat Islam sembari membersihkan batin dari keterikatan duniawi. 

Baca juga: Hujan Deras Guyur Agam, Banjir 2 Meter Rendam Tapian Kandih hingga Longsor Tutup Jalan Provinsi

Hal inilah yang terlihat dari raut wajah para jemaah yang tenang meski usia mereka tak lagi muda.

Hingga berita ini diturunkan, rangkaian salat Tarawih di Surau Baru berlangsung dengan penuh kekhusyukan.

Di bawah sorot lampu temaram dan di antara tiang-tiang kayu tua yang legendaris, jemaah Naqsabandiyah Pauh telah memulai perjalanan spiritual mereka menuju hari kemenangan.

Kemenag Besok Sidang Isbat

Pemerintah menjadwalkan Sidang Isbat Ramadan 2026 pada Selasa (17/2/2026) besok untuk menetapkan awal puasa 1447 Hijriah.

Kementerian Agama (Kemenag) RI menggelar forum pengambilan keputusan ini di Auditorium H M Rasjidi, Jakarta Pusat.

Kemenag menyebar tim untuk melakukan pemantauan di 96 titik Sidang Isbat Ramadhan 2026 yang berada di seluruh provinsi Indonesia.

Sementara itu, wilayah Sumatera Barat (Sumbar) menjadi salah satu provinsi dengan titik pantau terbanyak, yakni mencapai 15 lokasi strategis.

Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa Sidang Isbat Ramadan 2026 ini menggabungkan data hisab (perhitungan astronomi) dengan hasil rukyatul hilal (pengamatan lapangan).

"Sidang isbat mempertemukan data hisab dengan hasil rukyatul hilal. Pemerintah berupaya memastikan penetapan awal Ramadan dilakukan secara ilmiah, transparan, dan melibatkan seluruh unsur terkait," ujar Abu Rokhmad, dalam keterangan tertulis, Senin (16/2/2026).

Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Sumbar 16 Februari 2026: Hujan Lebat Intai Padang hingga Agam Selasa Sore

Langkah ini bertujuan memberikan kepastian hukum bagi umat Islam dalam mengawali ibadah puasa secara ilmiah dan transparan.

Prediksi Posisi Hilal

Abu mengungkapkan berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadhan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB.

Abu menjelaskan, posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia berada di bawah ufuk, dengan ketinggian berkisar -2° 24 menit 42 detik hingga -0° 58 menit 47 detik, serta sudut elongasi 0° 56 menit 23 detik hingga 1° 53 menit 36 detik. 

Data ini sesuai dengan kriteria visibilitas yang digunakan MABIMS) sehingga hilal belum memenuhi syarat terlihat secara teoritis.

Untuk melengkapi data hisab, Kemenag melaksanakan rukyatulhilal di 96 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Baca juga: Bundo Kanduang Jati Masak 40 Ruas Lamang Hasil Badoncek, Sambut Ramadan di Padang Makin Semarak

Pengamatan ini dilakukan oleh Kantor Wilayah Kemenag provinsi dan Kantor Kemenag kabupaten/kota, bekerja sama dengan Pengadilan Agama, ormas Islam, serta instansi terkait lainnya. Hasil rukyat dari seluruh titik tersebut menjadi bahan utama pembahasan dalam sidang isbat.

 Abu Rokhmad menambahkan, keputusan akhir penetapan 1 Ramadan 1447 H akan diumumkan secara resmi usai sidang selesai, melalui konferensi pers.

"Hasil hisab dan rukyat akan kami bahas bersama. Keputusan akhir disampaikan kepada masyarakat agar menjadi pedoman bersama umat Islam di Indonesia," katanya.(*)

Sumber: Tribun Padang
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved