Ramadan 2026

Ruas Bambu Penanda Datangnya Ramadan: Hangatnya Tradisi Malamang Warga Jati Padang yang Tak Lekang

Asap tipis membubung di antara sela-sela pemukiman padat di kawasan Jati, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang,

Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi

Sementara itu, lamang galamai menjadi tantangan tersendiri karena memerlukan takaran gula merah dan proses pengadukan yang lebih presisi agar teksturnya pas.

Bau khas pembakaran kayu yang bercampud ketan menyedebuah s
MALAMANG JELANG RAMADAN: Puluhan perempuan yang tergabung dalam Bundo Kanduang RW 03 Kelurahan Jati, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, malamang menyambut Ramadhan, Senin (16/2/2026). Bau khas pembakaran kayu yang bercampur dengan aroma gurih santan dan ketan menyeruak dari Lapangan Balai Pemuda Jati Rumah Gadang, menandakan sebuah tradisi tua sedang dirawat dengan penuh cinta oleh tangan-tangan ibu.

Baca juga: 7 Fakta Arema vs Semen Padang: Singo Edan Tembus Peringkat 8, Kabau Sirah Tertahan Zona Degradasi

"Resepnya tidak ada tambahan yang aneh-aneh, tetap menggunakan cara lama seperti biasa saja. Kekuatannya ada pada kualitas santan dan ketepatan api," tambah Anizar.

Proses membakar atau malamang ini sebenarnya adalah bagian akhir yang paling dinantikan. Anizar menyebutkan, jika api di perapian lancar dan stabil, proses pematangan hanya memakan waktu satu setengah jam saja. Namun, realitanya seringkali berbeda. 

“Kalau apinya tidak lancar, bisa sampai dua jam baru matang. Di sinilah kesabaran kita diuji," ungkapnya. 

Ketelitian dalam menjaga lidah api agar tidak menghanguskan bambu namun tetap mematangkan isinya secara merata adalah seni tersendiri.

Proses persiapannya memang memakan waktu yang cukup lama, mulai dari membersihkan bambu hingga melapisi bagian dalamnya dengan daun pisang muda. Namun, menurut Anizar, jika dikerjakan bersama-sama, semua beban itu akan terasa ringan.

Baca juga: Puncak Ziarah Kubur Jelang Ramadan 2026: Penjualan Air Mawar di TPU Tunggul Hitam Sepi Peminat

Di balik panasnya api perapian, Anizar menitipkan setumpuk harapan besar. Ia sadar betul bahwa generasi muda saat ini lebih akrab dengan makanan cepat saji yang bisa dipesan lewat gawai hanya dalam hitungan menit.

"Harap generasi muda bisa mempertahankan tradisi ini. Jangan sampai terlindas oleh proses yang lama dan rumit ini. Padahal kalau dikerjakan bersama, kerja akan ringan," tuturnya.

Baginya, malamang adalah sekolah kehidupan. Di sana ada pelajaran tentang cara berbagi, cara berkomunikasi, dan cara menghargai sebuah proses sebelum menikmati hasil yang manis.

Bagi ingin mencoba merawat tradisi ini, berikut adalah panduan pembuatan lamang ala Bundo Kanduang Jati Rumah Gadang:

Baca juga: Prakiraan Cuaca Bukittinggi Senin 16 Februari 2026: Berawan hingga Cerah Berawan Seharian

Bahan-Bahan Utama:

  • Beras Ketan kualitas super (18 gantang untuk porsi besar).
  • Santan Kelapa kental (40 liter).
  • Garam sebagai penguat rasa gurih.
  • Bambu (Talang) muda yang masih hijau, dipotong per ruas 
  • Daun Pisang muda untuk lapisan dalam.
  • Pisang raja atau adonan galamai sebagai variasi.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Mentawai Senin 16 Februari 2026: Siang-Sore Berpotensi Hujan Lebat

Langkah-Langkah Pembuatan:

  • Cuci bersih bagian dalam bambu talang.
  • Masukkan gulungan daun pisang muda ke dalam lubang bambu sebagai pelapis pelindung.
  • Campurkan beras ketan dengan santan yang telah diberi garam secukupnya.
  • Masukkan adonan ketan ke dalam bambu. Jangan diisi terlalu penuh agar ketan bisa mengembang.
  • Sandarkan bambu di dekat api yang menyala stabil menggunakan kayu bakar.
  • Putar bambu secara berkala agar panas api mengenai seluruh permukaan secara merata.
  • Setelah matang (aromanya harum), belah bambu dengan hati-hati dan sajikan.

Kegiatan di Lapangan Balai Pemuda Jati Rumah Gadang hari itu ditutup dengan makan bersama di bawah naungan langit sore. Lamang-lamang yang baru matang dibagikan secara adil kepada warga yang hadir.

Di atas piring-piring sederhana itu, tidak hanya ada ketan dan santan, melainkan ada keringat, tawa, dan doa yang menyatu dalam balutan silaturahmi. 

Tradisi malamang membuktikan bahwa meskipun dunia bergerak cepat, ada nilai-nilai yang hanya bisa dirasakan jika kita mau berjalan pelan dan melakukannya bersama-sama.(*)

Sumber: Tribun Padang
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved