Ramadan 2026
Ruas Bambu Penanda Datangnya Ramadan: Hangatnya Tradisi Malamang Warga Jati Padang yang Tak Lekang
Asap tipis membubung di antara sela-sela pemukiman padat di kawasan Jati, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang,
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi
Ringkasan Berita:
- Warga Jati Rumah Gadang kembali menggelar tradisi malamang jelang Ramadhan di Lapangan Balai Pemuda
- Seluruh biaya kegiatan berasal dari iuran warga lewat badoncek tanpa bantuan sponsor
- Bundo Kanduang menyiapkan 18 gantang beras ketan dan 40 liter santan untuk 40 ruas bambu
- Tiga jenis lamang dibuat, mulai dari lamang pisang hingga lamang galamai
- Lamang dibagikan ke warga dan dinikmati bersama usai proses memasak selesai
TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Asap tipis membubung di antara sela-sela pemukiman padat di kawasan Jati, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, Senin (16/2/2026).
Bau khas pembakaran kayu yang bercampur dengan aroma gurih santan dan ketan menyeruak dari Lapangan Balai Pemuda Jati Rumah Gadang, menandakan sebuah tradisi tua sedang dirawat dengan penuh cinta oleh tangan-tangan ibu.
Di sana, puluhan perempuan yang tergabung dalam Bundo Kanduang RW 03 Kelurahan Jati tampak sibuk dengan tugas masing-masing.
Ada yang mencuci beras ketan, memeras santan, hingga menyiapkan kayu bakar. Ini bukan sekadar memasak, melainkan ritual tahunan menyambut bulan suci Ramadan yang mereka sebut "Malamang Basamo".
Bagi masyarakat Minangkabau, lamang bukan sekadar kuliner. Ia adalah simbol perekat sosial yang keberadaannya melampaui batas rasa.
Baca juga: Kakanwil KemenHAM Sumbar Pantau Seleksi PPPK, Tekankan Transparansi dalam Merekrut SDM Berkualitas
Di Jati Rumah Gadang, tradisi ini tetap tegak berdiri meski zaman terus berlari menuju serba instan.
Ada satu hal unik yang menjadi ruh dari keriuhan hari itu. Seluruh biaya pembuatan lamang tidak berasal dari anggaran pemerintah atau bantuan sponsor, melainkan dari semangat badoncek.
"Semua ini murni dari hasil badoncek atau iuran sukarela bersama. Tradisi ini kami jaga agar nantik disantap bersama-sama pula," ujar Anizar, Ketua Bundo Kanduang RW 03 Kelurahan Jati Rumah Gadang, saat ditemui di tengah kepulan asap perapian.
Anizar menjelaskan bahwa badoncek adalah perwujudan nyata dari filosofi gotong royong Minangkabau.
Tidak ada angka pasti yang dipatok, karena yang dikejar bukanlah kemewahan materi, melainkan keikhlasan untuk berbagi beban dan kegembiraan.
Baca juga: Mawar Sulit Didapat, Pedagang Bunga Tabur TPU Tunggul Hitam Padang Terpaksa Beli Harga Mahal
Uang yang terkumpul dari kantong-kantong warga kemudian dikonversi menjadi bahan baku yang melimpah.
Tahun ini, mereka menyediakan 18 gantang beras ketan dan 40 liter santan kelapa untuk mengisi sekitar 40 ruas bambu.
Di Lapangan Balai Pemuda tersebut, Bundo Kanduang Jati menyuguhkan tiga varian lamang sekaligus.
Ada lamang pisang yang manis, lamang beras ketan putih yang gurih original, serta lamang galamai.
Lamang pisang menawarkan paduan rasa manis alami buah yang menyatu dengan tekstur ketan.
Sementara itu, lamang galamai menjadi tantangan tersendiri karena memerlukan takaran gula merah dan proses pengadukan yang lebih presisi agar teksturnya pas.
Baca juga: 7 Fakta Arema vs Semen Padang: Singo Edan Tembus Peringkat 8, Kabau Sirah Tertahan Zona Degradasi
"Resepnya tidak ada tambahan yang aneh-aneh, tetap menggunakan cara lama seperti biasa saja. Kekuatannya ada pada kualitas santan dan ketepatan api," tambah Anizar.
Proses membakar atau malamang ini sebenarnya adalah bagian akhir yang paling dinantikan. Anizar menyebutkan, jika api di perapian lancar dan stabil, proses pematangan hanya memakan waktu satu setengah jam saja. Namun, realitanya seringkali berbeda.
“Kalau apinya tidak lancar, bisa sampai dua jam baru matang. Di sinilah kesabaran kita diuji," ungkapnya.
Ketelitian dalam menjaga lidah api agar tidak menghanguskan bambu namun tetap mematangkan isinya secara merata adalah seni tersendiri.
Proses persiapannya memang memakan waktu yang cukup lama, mulai dari membersihkan bambu hingga melapisi bagian dalamnya dengan daun pisang muda. Namun, menurut Anizar, jika dikerjakan bersama-sama, semua beban itu akan terasa ringan.
Baca juga: Puncak Ziarah Kubur Jelang Ramadan 2026: Penjualan Air Mawar di TPU Tunggul Hitam Sepi Peminat
Di balik panasnya api perapian, Anizar menitipkan setumpuk harapan besar. Ia sadar betul bahwa generasi muda saat ini lebih akrab dengan makanan cepat saji yang bisa dipesan lewat gawai hanya dalam hitungan menit.
"Harap generasi muda bisa mempertahankan tradisi ini. Jangan sampai terlindas oleh proses yang lama dan rumit ini. Padahal kalau dikerjakan bersama, kerja akan ringan," tuturnya.
Baginya, malamang adalah sekolah kehidupan. Di sana ada pelajaran tentang cara berbagi, cara berkomunikasi, dan cara menghargai sebuah proses sebelum menikmati hasil yang manis.
Bagi ingin mencoba merawat tradisi ini, berikut adalah panduan pembuatan lamang ala Bundo Kanduang Jati Rumah Gadang:
Baca juga: Prakiraan Cuaca Bukittinggi Senin 16 Februari 2026: Berawan hingga Cerah Berawan Seharian
Bahan-Bahan Utama:
- Beras Ketan kualitas super (18 gantang untuk porsi besar).
- Santan Kelapa kental (40 liter).
- Garam sebagai penguat rasa gurih.
- Bambu (Talang) muda yang masih hijau, dipotong per ruas
- Daun Pisang muda untuk lapisan dalam.
- Pisang raja atau adonan galamai sebagai variasi.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Mentawai Senin 16 Februari 2026: Siang-Sore Berpotensi Hujan Lebat
Langkah-Langkah Pembuatan:
- Cuci bersih bagian dalam bambu talang.
- Masukkan gulungan daun pisang muda ke dalam lubang bambu sebagai pelapis pelindung.
- Campurkan beras ketan dengan santan yang telah diberi garam secukupnya.
- Masukkan adonan ketan ke dalam bambu. Jangan diisi terlalu penuh agar ketan bisa mengembang.
- Sandarkan bambu di dekat api yang menyala stabil menggunakan kayu bakar.
- Putar bambu secara berkala agar panas api mengenai seluruh permukaan secara merata.
- Setelah matang (aromanya harum), belah bambu dengan hati-hati dan sajikan.
Kegiatan di Lapangan Balai Pemuda Jati Rumah Gadang hari itu ditutup dengan makan bersama di bawah naungan langit sore. Lamang-lamang yang baru matang dibagikan secara adil kepada warga yang hadir.
Di atas piring-piring sederhana itu, tidak hanya ada ketan dan santan, melainkan ada keringat, tawa, dan doa yang menyatu dalam balutan silaturahmi.
Tradisi malamang membuktikan bahwa meskipun dunia bergerak cepat, ada nilai-nilai yang hanya bisa dirasakan jika kita mau berjalan pelan dan melakukannya bersama-sama.(*)
| Pemko Padang Salurkan Santunan Rp37 Juta untuk 112 Anak Yatim dan Piatu di Balai Kota |
|
|---|
| Wawako Padang Safari Ramadan ke Bungus, Serahkan Rp40 Juta untuk Bangun Masjid Nurul Amal Jaruai |
|
|---|
| Diduga Tetap Buka Saat Ramadan, Warga Kepung Tempat Karaoke di Simpang Haru Padang |
|
|---|
| Disnakertrans Sumbar Buka Posko Pengaduan THR 2-27 Maret 2026, Pembayaran Maksimal H-7 Lebaran |
|
|---|
| Polda Sumbar Berlakukan One Way di Lembah Anai Selama Arus Mudik Lebaran 2026 |
|
|---|