Kesehatan
Virus Nipah Belum Ditemukan di Padang, Dinkes Minta Warga Tetap Waspada
Ia menjelaskan, secara umum gejala Virus Nipah hampir menyerupai influenza, seperti demam dan batuk.
Penulis: Fajar Alfaridho Herman | Editor: Rezi Azwar
“Virus Nipah ini sama seperti COVID-19, Ebola, dan beberapa virus lain yang berasal dari hewan dan kemudian ‘melompat’ ke manusia. Reservoir utamanya adalah kelelawar, dan pada kasus Nipah, faktor perantaranya sering kali adalah babi,” ujar Reza kepada TribunPadang.com.
Ia menjelaskan, wabah pertama Virus Nipah tercatat pada 1998 di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Nama Nipah sendiri diambil dari Sungai Nipah di Negeri Sembilan, Malaysia, lokasi awal ditemukannya kasus.
Meski tidak pernah menimbulkan pandemi berskala besar, Reza menegaskan tingkat kematian Virus Nipah tergolong sangat tinggi.
Baca juga: Warga Kuranji Padang Cemaskan Wabah Penyakit, Sungai Kian Surut hingga Limbah Berbau Busuk
“Fatality rate Virus Nipah itu sangat tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen. Artinya, dari 100 orang yang terinfeksi, bisa sampai setengah bahkan tiga perempatnya meninggal dunia,” ungkapnya.
Dari sisi klinis, gejala Virus Nipah pada tahap awal menyerupai influenza, seperti demam, meriang, dan rasa tidak enak badan. Namun pada fase lanjut, virus ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut dan radang otak (ensefalitis) yang mematikan.
“Dulu bahkan sempat disangka sebagai Japanese Encephalitis karena gejalanya mirip, tapi fatalitasnya ternyata jauh lebih tinggi,” jelas Reza.
Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada bukti kuat terjadinya penularan antar manusia (human to human transmission). Penularan umumnya terjadi akibat kontak dengan hewan terinfeksi atau konsumsi daging yang tidak diolah secara sempurna.
Baca juga: Imunisasi Campak di Lubuk Lintah Kota Padang Hanya 40 Persen, Puskesmas Ambacang Kebut Vaksinasi
"Penularan pada manusia memungkinkan, namun masih jarang terjadi, berbeda dengan COVID-19 yang sudah massif penularannya secara human to human. Namun kita harus mewaspadai pandemi skala besar karena virus sangat mudah bermutasi," jelasnya.
“Kalau sudah terbukti menular antar manusia seperti COVID-19, lonjakan kasus akan sangat cepat. Fakta bahwa kasus masih terbatas menunjukkan kemungkinan besar penularan masih dari hewan ke manusia,” tambahnya.
Meski demikian, Reza menilai kewaspadaan tetap harus ditingkatkan mengingat potensi virus untuk bermutasi.
“Antisipasi mutlak perlu dilakukan, terutama memperketat pengawasan di pintu masuk negara, karantina, serta pemantauan ketat terhadap pasien dengan gejala yang mengarah ke Virus Nipah,” ujarnya.
Ia juga menyarankan pengetatan perjalanan dari negara terdampak seperti India dan Malaysia, mengingat mobilitas wisatawan yang tinggi.
“Tidak perlu panik atau ekstrem, tapi kesiapsiagaan harus ada. Di bandara dan fasilitas umum, pengawasan kesehatan perlu diperketat lagi. Karena kemungkinan penularan antar manusia itu selalu ada,” pungkasnya. (TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman)
| Waspada Virus Nipah, BKK Padang Perketat Pengawasan di Bandara dan Pelabuhan |
|
|---|
| Waspadai Virus Nipah, Pakar Unand: Fatalitas Tinggi Meski Belum Ditemukan Menular Antarmanusia |
|
|---|
| Tips Mengusir Bau Pesing Kloset : Periksa segel dan Perbaiki Flensa hingga Kamar Mandi Wangi |
|
|---|
| Pemerintahan Presiden Prabowo Bertekad Hapus TBC Lewat Gerakan Bersama dari Desa dan Kelurahan |
|
|---|
| Indonesia Libatkan 2.095 Partisipan, Uji Klinik Global Vaksin TBC M72 Masuki Tahap Kunci |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Efek-kabut-asap-di-Padang-disampaikan-Kepala-Dinas-Kesehatan-Kota-Padang.jpg)