Hantavirus

Bahaya Hantavirus, Pakar Kesehatan Unand Sebut Penularannya dari Tikus dan Bisa Serang Paru-paru

“Hantavirus memang ada yang bisa menular dari manusia ke manusia, tapi sangat terbatas dan tidak semudah Covid-19,” katanya.

Tayang:
Penulis: Fajar Alfaridho Herman | Editor: Rezi Azwar
Dok. Muhammad Reza
HANTAVIRUS- Pakar Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand), dr. Mohamad Reza, Ph.D. Reza menjelaskan Hantavirus merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. 

Ringkasan Berita:
  • Hantavirus merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia.
  • Menurutnya, hewan utama pembawa virus tersebut adalah tikus dan hewan pengerat lainnya.
  • Seseorang bisa tertular ketika berada di ruangan yang terkontaminasi kotoran tikus.
  • Hantavirus memang ada yang bisa menular dari manusia ke manusia, tapi sangat terbatas dan tidak semudah Covid-19.
  • Dinkes Sumbar memastikan belum menerima laporan adanya kasus Hantavirus di wilayah Sumbar.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Kasus Hantavirus yang belakangan menjadi perhatian publik membuat masyarakat mulai khawatir terhadap potensi penularan virus tersebut.

Pakar Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand), dr. Mohamad Reza, Ph.D., menjelaskan Hantavirus merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia.

Menurutnya, hewan utama pembawa virus tersebut adalah tikus dan hewan pengerat lainnya.

“Hantavirus itu hidup di tubuh tikus. Penularannya bisa melalui urine, air liur, atau partikel dari tubuh tikus yang bercampur di udara,” kata dr Mohamad Reza kepada TribunPadang.com, Selasa (12/5/2026).

Baca juga: 25 Ribu Warga Sumbar Derita TBC, Pemerintah Siapkan Bantuan Renovasi Rumah dan Pangan

Ia menjelaskan, seseorang bisa tertular ketika berada di ruangan yang terkontaminasi kotoran tikus, terutama area tertutup dan berdebu seperti gudang atau bangunan lama.

Partikel virus dapat masuk ke tubuh saat seseorang menghirup udara yang telah tercemar atau menyentuh permukaan yang terkena urine dan air liur tikus, lalu tanpa sadar menyentuh mata maupun hidung.

“Kalau membersihkan ruangan yang banyak tikusnya tanpa pelindung, itu berisiko. Apalagi kalau banyak debu yang tercampur partikel dari kotoran tikus,” ujarnya.

Perbedaan Strain Eurasia dan Strain Andes

Reza menegaskan, pola penularan Hantavirus berbeda dengan Covid-19 yang menyebar secara airborne atau melalui udara secara luas.

Menurutnya, Hantavirus tidak mudah menular antarmanusia, kecuali pada jenis tertentu.

“Hantavirus memang ada yang bisa menular dari manusia ke manusia, tapi sangat terbatas dan tidak semudah Covid-19,” katanya.

Ia menyebut terdapat dua jenis utama atau strain Hantavirus, yakni strain Eurasia dan strain Andes.

Strain Eurasia lebih banyak ditemukan di wilayah Asia dan Eropa. Jenis ini umumnya menyerang ginjal dan menyebabkan gejala mirip demam berdarah.

Baca juga: 4 Berita Populer Sumbar: Kasus Hantavirus hingga Penemuan Korban Tenggelam dan Terseret Arus

“Kalau strain Eurasia biasanya menyebabkan demam berdarah berat, pendarahan organ, trombosit turun, mirip demam hemoragik,” jelasnya.

Sementara strain Andes yang banyak ditemukan di Amerika Selatan dinilai lebih berbahaya karena menyerang paru-paru dan dapat menular antarmanusia dalam kondisi tertentu.

Gejalanya disebut mirip Covid-19, seperti sesak napas hingga gangguan pernapasan berat.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved