Kesehatan
Virus Nipah Belum Ditemukan di Padang, Dinkes Minta Warga Tetap Waspada
Ia menjelaskan, secara umum gejala Virus Nipah hampir menyerupai influenza, seperti demam dan batuk.
Penulis: Fajar Alfaridho Herman | Editor: Rezi Azwar
Ringkasan Berita:
- Dinkes Padang memastikan belum ditemukannya kasus Virus Nipah di Kota Padang.
- Secara umum gejala Virus Nipah hampir menyerupai influenza, seperti demam dan batuk.
- Namun tingkat keparahan gejalanya lebih berat dibandingkan influenza biasa.
- Masyarakat agar tetap menjaga pola hidup sehat, istirahat yang cukup, berolahraga agar imunitas tubuh tetap terjaga, mengonsumsi sayur dan buah, minum air putih yang cukup, serta istirahat yang cukup.
TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Padang memastikan hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus maupun masyarakat yang terindikasi terpapar Virus Nipah di Kota Padang.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Srikurnia Yati, menyusul meningkatnya kewaspadaan terhadap Virus Nipah setelah dilaporkan muncul kembali di sejumlah negara.
“Kalau sampai saat ini, kami belum ada mendapatkan informasi terkait adanya masyarakat yang terindikasi atau terdampak Virus Nipah. Sejauh ini belum ada kasus di Kota Padang,” kata Srikurnia Yati, Senin (2/2/2026).
Baca juga: Waspadai Virus Nipah, Pakar Unand: Fatalitas Tinggi Meski Belum Ditemukan Menular Antarmanusia
Ia menjelaskan, secara umum gejala Virus Nipah hampir menyerupai influenza, seperti demam dan batuk. Namun tingkat keparahan gejalanya lebih berat dibandingkan influenza biasa.
“Gejalanya hampir sama dengan influenza, demam dan batuk, tetapi kondisinya bisa lebih berat. Penularan virus ini biasanya melalui hewan, terutama kelelawar,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi potensi penularan, Srikurnia Yati mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kesehatan dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengonsumsi sayur dan buah, minum air putih yang cukup, serta istirahat yang cukup,” ujarnya.
Baca juga: Warga Terdampak Banjir Terserang Penyakit, Sidokkes Polresta Padang Beri Layanan Kesehatan Gratis
Selain itu, masyarakat juga diminta menghindari kebiasaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, seperti begadang, serta tetap melakukan aktivitas fisik atau olahraga, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem.
“Jaga pola hidup sehat, istirahat yang cukup, dan tetap berolahraga agar imunitas tubuh tetap terjaga,” tambahnya.
Pakar Unand: Fatalitas Tinggi
Menyusul kemunculan kembali penyakit Virus Nipah di India, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menerbitkan Surat Edaran kewaspadaan kepada seluruh jajaran kesehatan di Indonesia.
Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang Kewaspadaan Terhadap Penyakit Virus Nipah itu ditandatangani Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Murti Utami pada 30 Januari 2026, dan ditujukan kepada seluruh kepala dinas kesehatan provinsi, kabupaten/kota hingga kepala puskesmas.
Dalam edaran tersebut dijelaskan, Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik emerging yang disebabkan oleh virus Nipah dari genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae.
Virus ini memiliki reservoir alami pada kelelawar buah (Pteropus sp.) dan dapat menular ke manusia secara langsung maupun melalui hewan perantara seperti babi, serta melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Baca juga: Wako Padang Dampingi Komisi IX DPR RI Tinjau RSUD dr Rasidin, Bahas Layanan Kesehatan Usai Banjir
“Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi penyakit Virus Nipah pada manusia di Indonesia,” kata Murti Utami dalam keterangan resminya yang dilansir dari TribunNews.com, Senin (2/2/2026).
Menanggapi hal tersebut, Pakar Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand), dr. Mohamad Reza, Ph.D, menyebut Virus Nipah memiliki karakteristik mirip dengan sejumlah virus zoonotik berbahaya lainnya.
“Virus Nipah ini sama seperti COVID-19, Ebola, dan beberapa virus lain yang berasal dari hewan dan kemudian ‘melompat’ ke manusia. Reservoir utamanya adalah kelelawar, dan pada kasus Nipah, faktor perantaranya sering kali adalah babi,” ujar Reza kepada TribunPadang.com.
Ia menjelaskan, wabah pertama Virus Nipah tercatat pada 1998 di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Nama Nipah sendiri diambil dari Sungai Nipah di Negeri Sembilan, Malaysia, lokasi awal ditemukannya kasus.
Meski tidak pernah menimbulkan pandemi berskala besar, Reza menegaskan tingkat kematian Virus Nipah tergolong sangat tinggi.
Baca juga: Warga Kuranji Padang Cemaskan Wabah Penyakit, Sungai Kian Surut hingga Limbah Berbau Busuk
“Fatality rate Virus Nipah itu sangat tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen. Artinya, dari 100 orang yang terinfeksi, bisa sampai setengah bahkan tiga perempatnya meninggal dunia,” ungkapnya.
Dari sisi klinis, gejala Virus Nipah pada tahap awal menyerupai influenza, seperti demam, meriang, dan rasa tidak enak badan. Namun pada fase lanjut, virus ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut dan radang otak (ensefalitis) yang mematikan.
“Dulu bahkan sempat disangka sebagai Japanese Encephalitis karena gejalanya mirip, tapi fatalitasnya ternyata jauh lebih tinggi,” jelas Reza.
Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada bukti kuat terjadinya penularan antar manusia (human to human transmission). Penularan umumnya terjadi akibat kontak dengan hewan terinfeksi atau konsumsi daging yang tidak diolah secara sempurna.
Baca juga: Imunisasi Campak di Lubuk Lintah Kota Padang Hanya 40 Persen, Puskesmas Ambacang Kebut Vaksinasi
"Penularan pada manusia memungkinkan, namun masih jarang terjadi, berbeda dengan COVID-19 yang sudah massif penularannya secara human to human. Namun kita harus mewaspadai pandemi skala besar karena virus sangat mudah bermutasi," jelasnya.
“Kalau sudah terbukti menular antar manusia seperti COVID-19, lonjakan kasus akan sangat cepat. Fakta bahwa kasus masih terbatas menunjukkan kemungkinan besar penularan masih dari hewan ke manusia,” tambahnya.
Meski demikian, Reza menilai kewaspadaan tetap harus ditingkatkan mengingat potensi virus untuk bermutasi.
“Antisipasi mutlak perlu dilakukan, terutama memperketat pengawasan di pintu masuk negara, karantina, serta pemantauan ketat terhadap pasien dengan gejala yang mengarah ke Virus Nipah,” ujarnya.
Ia juga menyarankan pengetatan perjalanan dari negara terdampak seperti India dan Malaysia, mengingat mobilitas wisatawan yang tinggi.
“Tidak perlu panik atau ekstrem, tapi kesiapsiagaan harus ada. Di bandara dan fasilitas umum, pengawasan kesehatan perlu diperketat lagi. Karena kemungkinan penularan antar manusia itu selalu ada,” pungkasnya. (TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman)
| Waspada Virus Nipah, BKK Padang Perketat Pengawasan di Bandara dan Pelabuhan |
|
|---|
| Waspadai Virus Nipah, Pakar Unand: Fatalitas Tinggi Meski Belum Ditemukan Menular Antarmanusia |
|
|---|
| Tips Mengusir Bau Pesing Kloset : Periksa segel dan Perbaiki Flensa hingga Kamar Mandi Wangi |
|
|---|
| Pemerintahan Presiden Prabowo Bertekad Hapus TBC Lewat Gerakan Bersama dari Desa dan Kelurahan |
|
|---|
| Indonesia Libatkan 2.095 Partisipan, Uji Klinik Global Vaksin TBC M72 Masuki Tahap Kunci |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Efek-kabut-asap-di-Padang-disampaikan-Kepala-Dinas-Kesehatan-Kota-Padang.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.