Citizen Journalism
Opini Isyarat Nonverbal di Jalanan, Mengulik Gaya Berkendara di Indonesia dan Malaysia
KENDATI Pengendara Indonesia dan Malaysia sama-sama menerapkan sistem mengemudi di sebelah kiri jalan dengan posisi setir di sebelah kanan.
Oleh Noor Syahira, Mahasiswa Jurusan Linguistik UKM-Unand yang magang di TribunPadang.com
KENDATI Pengendara Indonesia dan Malaysia sama-sama menerapkan sistem mengemudi di sebelah kiri jalan dengan posisi setir di sebelah kanan. Namun, cara dan suasana berkendara di Indonesia ternyata cukup berbeda jika dibandingkan dengan di Malaysia.
Perbedaan ini tidak hanya terletak pada kondisi fisik jalan, tetapi juga mencakup gaya mengemudi, penegakan peraturan, serta budaya lalu lintas yang unik.
Hal menarik adalah tentang dalam hal berinteraksi antara pengguna jalan banyak bergantung pada isyarat nonverbal, seperti anggukan kepala, gerakan tangan dan penggunaan klakson.
Sampai sejauh ini pengguna jalan dan pengendara kendaraan bermotor di Malaysia kiranya teratur dan terstruktur. Para pengemudi cenderung mematuhi aturan seperti batas kecepatan, penggunaan lajur, dan lampu lalu lintas.
Sistem jalan di Malaysia juga dilengkapi dengan rambu yang jelas, jalan layang modern, serta teknologi pengawasan seperti kamera AES.
Klakson jarang digunakan dan biasanya hanya untuk keadaan darurat. Di Malaysia, klakson biasanya digunakan sebagai tanda peringatan atau teguran saat pengemudi melakukan kesalahan.
Dan, terkadang dianggap sebagai bentuk kemarahan. Mengingat ramainya pengemudi menggunakan klakson secara minim kecuali dalam situasi yang sesuai.
Baca juga: Satu Pekan Operasi Patuh 2025, Pelanggar Tak Pakai Helm dan Melawan Arus Terbanyak di Sumbar
Baca juga: 108 Pelanggar Ditilang Polisi Selama Operasi Patuh Singgalang 2025 di Solok Sumbar
Namun di Indonesia, cara mengemudi lebih spontan dan adaptif. Pengemudi sering menggunakan klakson sebagai alat komunikasi – bukan semata-mata untuk marah. Akan tetapi sebagai cara memberikan isyarat, meminta jalan, atau memberi tahu keberadaan mereka.
Di tengah jalanan yang sempit dan padat, terutama di sekitar pasar dan kawasan kota lama, pengemudi biasanya bermanuver secara fleksibel tanpa terlalu bergantung pada rambu atau aturan formal.
Keberagaman jenis kendaraan di Indonesia juga memengaruhi suasana jalan. Selain mobil dan sepeda motor, transportasi tradisional seperti angkot (angkutan kota) dan becak motor masih digunakan secara luas.
Hal ini membuat lalu lintas tampak lebih ramai dan dinamis. Sebaliknya, jalan raya di Malaysia lebih didominasi oleh mobil pribadi dan layanan transportasi daring seperti Grab, bus dan taksi dengan penggunaan transmisi otomatis yang semakin umum.
Tanggapan dari mahasiswa Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yang saat ini menjalani magang di Padang, mengemukakan adanya perbedaan dalam beberapa hal.
Di antaranya, kondisi jalan di Padang yang lebih kecil dan sempit menuntut kewaspadaan yang lebih tinggi dibandingkan di Malaysia. Hal ini karena tidak semua persimpangan dilengkapi dengan lampu lalu lintas dan rambu yang lengkap.
Baca juga: Operasi Patuh: Polresta Bukittinggi Tilang 510 Pengendara, Pelanggar Tanpa Helm dan SIM Mendominasi
Isyarat NonVerbal
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/salip-bilas.jpg)