Citizen Journalism
Opini : Betulkah? Kita Sudah Merdeka
ADA hal yang menarik ungkapan Presiden kita tentang istana negara berbau Kolonial. Selanjutnya, imbuh beliau, kiranya perlu mendirikan ibu kota negara
Oleh: Dr Hendra Naldi M.Hum, Penulis Alumni Jurusan Sejarah Universitas Andalas Padang angkatan 1989 - kini mengajar di - Departemen Sejarah FIS Universitas Negeri Padang
ADA hal yang menarik ungkapan Presiden kita tentang istana negara berbau Kolonial. Selanjutnya, imbuh beliau, kiranya perlu mendirikan ibu kota negara yang lebih mencirikan ke arifan lokal. Begitu kira kira pernyataan (statement) dari pimpinan bangsa yang kita cintai ini. Tidak ada yang salah idea dan kata-kata itu.
Penulis sebagai sejarawan, jadi agak keki juga dengan pandangan itu, khusus bila dikaitkan dengan kondisi bangsa pada hari ini. Mengingat sebagai sejarawan ada konsep yang di kenal dengan Zeidgeist, atau bahasa Indonesia-nya dengan Jiwa zaman.
Bagi sejarawan, dimanapun pandangannya akan sama dalam melihat situs masa lalu. Sejarawan merasa peninggalan Kolonial sebaik jangan diganggu malah sebaliknya tetap dirawat, dan berdiri sebagai monumen, agar bisa jadi pelajaran bagi generasi pelanjut.
Bangunan peninggalan kolonial yang sekarang menjadi kantor Presiden bisa menunjukkan pada kita bangsa ini pernah terjajah. Serta pernah di bawah kekuasaan Kolonial.
Makanya pada hari ini mereka harus merasakan sebagai bangsa yang merdeka. Tapi kepindahan Kantor Presiden ke ruangan baru bahkan kota baru juga tidak masalah asal kantor lama itu tetap dibiarkan jadi monumen.
Akan tetapi realita hari ini sepertinya zeidgeist-nya berbeda. Negara dalam pandangan banyak ahli, sesungguhnya baru sekitar sepuluh persen lah penduduknya yang merdeka.
Sementara sisanya belum. Zaman kolonial dulu, lapisan kekuasaan itu dipegang oleh bangsa Kolonial atau kulit putih. Sementara lapisan lapisan lainnya dalam kekuasaan kulit putih itu, begitulah JS Furnivall, Sosiolog Belanda menggambarkan daerah Indonesia zaman Kolonial.
Pada saat kondisi seperti di atas masih terawat secara baik. Namun, dengan masih maraknya kasus kasus korupsi, politik uang, kolusi untuk oligarki tertentu dan gejala dinasti politik yang masif, menunjukkan sejurus dengan gejala seperti yang digambarkan Furnivall tersebut.
Kemerdekaan menurut saya hanya "jargon", tidak sampai menyentuh rakyat kecil. Mayoritas masyarakat Indonesia hari ini secara zeidgeist belum merasakan kemerdekaan.
Rasa belum merdeka itu kental mereka rasakan. Bagi pemegang amanah rakyat -mungkin- sektor pembangunan ekonomi, Politik yang lebih demokratis serta Penerapan hukum yang baik dan pendidikan murah, jauh lebih penting dipikirkan pemimpin pemimpin bangsa ini.
Sampai sejauh ini, kiranya struktur feodalistik masih kental terasa dalam masyarakat. Diduga pimpinan birokrat lebih berperan seperti priyayi yang menjauhkan dirinya dari masyarakat. Begitupun lembaga peneliti negara sibuk dengan birokrasi, dan administrasi dari pada berkulindan dengan masyarakat.
Paling mengerikan hari ini, banyak muncul politisi yang lahir dari berapa banyak uang kepada masyarakat, dari pada berjuang menyebarkan nilai-nilai dan inovasi inovasi. Masyarakat menyebutnya dengan politik uang. Persis era Kolonial.
Belum lagi kasus kasus hukum yang morat-marit, misalnya kasus yang lagi viral, sehingga hukum sedang diuji, dan hukum-pun mulai diterima masyarakat secara skeptis.
Artinya, pernyataan pimpinan bangsa yang mulia itu, menjauhkan bangsa ini dari rasa Kolonialis, rasanya berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat yang justru makin merasakan makin maraknya sikap sikap arogan seperti dalam periode Kolonial.
| PNP Sosialisasikan Prodi Logistik Perdagangan Internasional di SMA Pembangunan UNP |
|
|---|
| Inovasi Digital: Memperkuat Pertumbuhan dan Daya Saing UMK |
|
|---|
| PsyCap: Modal Psikologis Sebagai Sumber Daya Dalam Mendukung Kinerja |
|
|---|
| MAN IC Padang Pariaman Menebar Harapan Jemput Masa Depan: Berakit-rakit ke Hulu, Berenang ke Tepian |
|
|---|
| Kuliah Kerja Nyata: Program Mahasiswa di Indonesia Serupa, Bakti Siswa & Magang Industri di Malaysia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/sejumlah-siswa-SD-di-Kota-Pariamh-memeriahkan-pawai-di-Kota-Pariaman-Jumat-1782023.jpg)