Sejarah Berdirinya BIM, Bandara Internasional Sumbar yang Dikhawatirkan Turun Kelas jadi Nasional

Dikutip dari laman resmi Angkasa Pura II, sejarah BIM atau Minangkabau International Airport mulai dibangun pada 2002.

Penulis: Rahmadi | Editor: Rahmadi
Angkasa Pura II
Bandara Internasional Minangkabau (BIM) 

Bandara Internasional Minangkabau berdiri di atas tanah seluas 4,27 km⊃2; dengan landasan pacu sepanjang 3.000 meter dengan lebar 45 meter.

Penerbangan domestik dan internasional dilayani oleh terminal seluas 20.568 m⊃2;, yang berkapasitas sekitar 2,3 juta penumpang setiap tahunnya.

Pada tahun 2017, bandara ini diperluas dua tahap hingga mencapai 49.000 m⊃2;. Dengan pengembangan itu BIM bisa menampung sekitar 5,9 juta penumpang per tahun.

Bandar udara ini adalah bandara kedua di Indonesia setelah Soekarno-Hatta yang pembangunannya dilakukan dari awal.

Rencana induk pembangunan bandara ini dilakukan dalam tiga tahap, tahap keduanya dimulai pada tahun 2010.

Baca juga: Bandara Internasional Bakal Dipangkas, Wagub Sumbar: BIM Saya Rasa Tak Akan Dicabut

Setelah semua tahap selesai pengerjaannya, panjang landasan bandara ini diperpanjang menjadi 3.600 meter, yang juga dilengkapi dengan landasan penghubung (taxiway) paralel di sepanjang landasan.

Sejumlah penerbangan yang dilayani bandara ini sama seperti bandara sebelumnya, yaitu Bandar Udara Tabing.

Untuk penerbangan domestik, antara lain dengan Jakarta, Surabaya, Batam, Medan, Bengkulu, Sungaipenuh, Sipora dan Bandung.

Sementara untuk penerbangan internasional yaitu dengan Kuala Lumpur, Malaysia.

Bandar Udara Internasional Minangkabau dapat menampung Pesawat Airbus A300, Airbus A319, Airbus A320,Airbus A330, Airbus A340, Airbus A350, ATR 72, Boeing 747, Boeing 777, dan McDonnell Douglas MD-11.

Baca juga: Persiapan Nataru 2023, PT Angkasa Pura II Buka Posko di Bandara Internasional Minangkabau

Sebelumnya, Gubernur Sumbar Mahyeldi menyatakan mendukung pemerintah pusat memangkas status bandara internasional di Indonesia.

Informasi mengenai pemangkasan bandara internasional itu sudah didengar Mahyeldi sekira lima bulan yang lalu dari seorang menteri, meski wacana itu baru akhir-akhir ini ramai diperbincangkan.

Kata Mahyeldi, rencana pemangkasan status bandara internasional punya nilai positif, untuk mengontrol orang yang masuk ke Indonesia.

"Saya pribadi sangat senang sekali orang yang masuk ke Indonesia ini diawasi secara ketat," kata Mahyeldi pada Rabu (8/2/2023).

Kalau memang dalam rangka pengetatan, mengontrol orang masuk ke Indonesia, ia rasa itu ya sangat baik.

Baca juga: Gubernur Mahyeldi Apresiasi Program Djarum Foundation di Sepanjang Jalur Bypass - BIM

Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi saat dijumpai TribunPadang.com, bertempat di Istana Gubernur Sumbar, Rabu (8/2/2023).
Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi saat dijumpai TribunPadang.com, bertempat di Istana Gubernur Sumbar, Rabu (8/2/2023). (TribunPadang.com/Wahyu Bahar)
Halaman
123
Sumber: Tribun Padang
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved