PPKM Padang

Ungkap Titik Lengah Penularan Covid-19, Ferimulyani: Minta Karyawan Kafe yang Bersangkutan Ikut Swab

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Padang Ferimulyani, mengatakan penularan kasus covid-19 terjadi pada titik lengah, seperti buka masker

Penulis: Rima Kurniati | Editor: Emil Mahmud
TRIBUNPADANG.COM/RIMA KURNIATI
Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Ferimulyani 

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Padang Ferimulyani, mengatakan penularan kasus covid-19 terjadi pada titik lengah, seperti buka masker saat makan dan berbicara.

"Kondisi ini (relatif) banyak terjadi di tempat umum, seperti di kafe dan restoran, risiko penularannya tinggi," kata Ferimulyani, Kamis (12/8/2021).

Menurutnya, hasil pantauan harian kasus Covid-19 di Padang beberapa orang yang positif diduga berasal dari karyawan kafe.

Untuk itu, bagi pemilik kafe diminta merumahkan karyawan yang bergejala, apabila ada keluhan sakit kepala, pusing, batuk dan filek.

"Kemudian minta karyawan (kafe) bersangkutan ikut swab," ujar Ferimulyani.

Menurutnya, titik lengah penularan covid-19 di Padang banyak di tempat umum, seperti kafe dan restoran, untuk itu perlu jaga jarak.

Ferimulyani menambahkan, sejak 5 Juli 2021 hingga saat ini kasus positif covid-19 Padang memang menunjukan tren penurunan, sementara tren kesembuhan terus meningkat.

Baca juga: Wako Hendri Septa Bakal Siapkan Aturan Lokal PPKM Level IV di Padang, Termasuk Soal Bukti Vaksin

Terpapar Covid-19

Dilansir TribunPadang.com, Ahli Epidemiologi dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat (Sumbar) Defriman Djafri menyebutkan kematian akibat terpapar Covid-19 di Sumbar cukup tinggi.

Secara akumulatif kasus meninggal dunia karena Covid-19 di Sumbar sebanyak 1.718 orang hingga, Rabu (11/8/2021).

Menurut Defriman Djafri, risiko kematian menjadi tinggi apabila pasien menderita gejala lebih banyak dan memiliki penyakit bawaan atau komorbid.

Baca juga: Mahyeldi Soal Komitmen Kepala Daerah Tangani Covid-19: dari 4 Daerah PPKM Level 4 Kini Tinggal Satu

Baca juga: Setelah Melantik Sekda, Gubernur Sumbar Mahyeldi akan Lakukan Rotasi dan Mutasi Jabatan

"Angka kematian paling tinggi itu adalah usia rentang 60-69 tahun," katanya.

Ia juga menyebutkan, risiko kematian pasien yang tidak divaksin dan baru mendapatkan vaksin pertama juga lebih tinggi dibandingkan yang telah mendapatkan dua kali suntikan vaksin.

"Kami merekomendasikan agar ada upaya kategori penilaian indeks penerapan prokes sehingga bisa dipantau secara berkala dan dijadikan dasar untuk mengambil kebijakan," harapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Padang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved