Cuaca di Sumbar
Cuaca Panas Melanda Sumatra, BMKG Ungkap Penyebab dan Imbau Warga Waspada Karhutla hingga Dehidrasi
Cuaca panas dan gerah tengah dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Pulau Sumatra dalam beberapa hari terakhir
Penulis: Fajar Alfaridho Herman | Editor: Fajar Alfaridho Herman
Ringkasan Berita:
- Cuaca panas dan gerah tengah melanda sebagian besar wilayah Pulau Sumatra.
- Kota Pekanbaru mencatat suhu tertinggi mencapai 41 derajat Celsius, disusul Medan, Palembang, dan Bengkulu dengan 40 derajat Celsius.
- BMKG menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi oleh pergerakan angin dari Australia menuju Asia yang membawa sedikit uap air. Akibatnya, pembentukan awan hujan berkurang sehingga cuaca cerah lebih dominan dan suhu terasa lebih panas.
TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Cuaca panas dan gerah tengah dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Pulau Sumatra dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pemantauan suhu pada siang hari, sejumlah kota besar di Sumatra mencatat suhu yang cukup tinggi sehingga aktivitas masyarakat di luar ruangan terasa lebih menyengat dibanding biasanya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu atau dua daerah, melainkan hampir merata di berbagai wilayah Sumatra. Bahkan, berdasarkan data suhu yang dirasakan tubuh manusia atau feels like temperature, beberapa kota besar mencatat angka yang tergolong ekstrem.
Dilansir dari akun informasi cuaca regional @infoandalas, berdasarkan data satelit cuaca pada Jumat (5/6/2026) pukul 13.00 WIB, suhu yang dirasakan tubuh manusia di sejumlah kota besar di Sumatra mencapai angka yang jauh lebih tinggi dibanding suhu udara yang tercatat pada termometer.
Pekanbaru Catat Suhu Tertinggi
Dari data yang dirilis tersebut, Kota Pekanbaru menjadi wilayah dengan suhu feels like tertinggi di Pulau Sumatra, yakni mencapai 41 derajat Celsius.
Tingginya suhu yang dirasakan masyarakat itu menunjukkan adanya kombinasi antara suhu udara permukaan dengan tingkat kelembapan yang cukup tinggi.
Baca juga: Satpol PP Gerebek Kos dan Hotel Melati di Padang, 13 Orang Terjaring Razia Trantibum
Akibatnya, hawa panas yang dirasakan menjadi lebih menyengat dibandingkan suhu udara sebenarnya.
Tidak hanya Pekanbaru, sejumlah kota besar lainnya juga mencatat suhu yang cukup tinggi.
Kota Medan, Palembang dan Bengkulu sama-sama mencatat suhu feels like sebesar 40 derajat Celsius. Sementara itu, Kota Jambi berada di angka 38 derajat Celsius dan Banda Aceh mencapai 37 derajat Celsius.
Adapun Kota Padang mencatat suhu feels like sebesar 35 derajat Celsius. Meski lebih rendah dibanding sejumlah kota besar lainnya di Sumatra, kondisi cuaca di Kota Padang tetap terasa panas dan gerah, terutama pada siang hingga sore hari.
Dataran Rendah Sumatra Didominasi Warna Merah Pekat
Visualisasi peta termal yang dirilis turut menunjukkan sebaran suhu panas yang melanda Pulau Sumatra.
Pada peta tersebut, warna merah pekat mendominasi wilayah dataran rendah di sepanjang pesisir timur Sumatra, mulai dari Sumatra Utara, Riau, Jambi hingga Sumatra Selatan.
Sementara itu, wilayah yang berada di kawasan Pegunungan Bukit Barisan terlihat memiliki gradasi warna yang lebih terang, menandakan suhu yang relatif lebih rendah dibandingkan kawasan dataran rendah.
Fenomena serupa juga terjadi di negara-negara tetangga. Kuala Lumpur dan Singapura masing-masing tercatat memiliki suhu feels like sebesar 39 derajat Celsius.
BMKG Jelaskan Penyebab Cuaca Panas
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau, Jeni Andrian, menjelaskan kondisi cuaca panas yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh pola pergerakan angin musiman yang sedang berlangsung.
Menurutnya, saat ini matahari berada di belahan bumi utara sehingga arah pergerakan angin berasal dari wilayah selatan atau Australia menuju Asia.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Sumbar Hari Ini Sabtu 6 Juni 2026: Sejumlah Daerah Diguyur Hujan Ringan
"Jadi matahari sekarang berada di belahan utara. Pergerakan angin dari selatan. Massa udara yang datang dari Australia tidak membawa banyak uap air sehingga energi untuk pembentukan awan-awan hujan menjadi berkurang," kata Jeni saat dikonfirmasi, Sabtu (6/6/2026).
Akibat berkurangnya pasokan uap air tersebut, pembentukan awan hujan menjadi tidak optimal sehingga curah hujan di sejumlah wilayah Sumatera Barat ikut berkurang.
Kondisi ini menyebabkan cuaca cerah lebih dominan dan suhu udara pada siang hari terasa lebih panas dibandingkan saat curah hujan tinggi.
"Kalaupun terjadi hujan, biasanya hanya bersifat lokal dan tidak berlangsung lama," ujarnya.
Merupakan Siklus Tahunan
Jeni menegaskan bahwa kondisi cuaca panas yang terjadi saat ini bukan merupakan fenomena baru ataupun kejadian yang tidak biasa.
Menurutnya, pola tersebut merupakan siklus tahunan yang rutin terjadi setiap memasuki bulan Juni.
Pada periode ini, posisi matahari berada di belahan bumi utara sehingga pola pergerakan angin berbeda dengan kondisi pada Desember atau Januari.
Ketika memasuki akhir tahun, angin bergerak dari Asia menuju Australia dan melewati wilayah samudra yang luas sehingga membawa banyak uap air. Kondisi tersebut mendukung pembentukan awan hujan yang lebih banyak di wilayah Indonesia.
Baca juga: Padang Terapkan E-Audit Terintegrasi, Pengawasan Keuangan dan Pengadaan Dilakukan Secara Real Time
Sebaliknya, pada periode sekarang, massa udara dari Australia cenderung lebih kering sehingga peluang terbentuknya awan hujan menjadi lebih sedikit.
"Ini memang siklus tahunan. Untuk bulan Juni curah hujan di Sumatera Barat umumnya berkurang dibanding periode musim hujan," jelasnya.
Potensi Hujan Meningkat pada 8 Juni 2026
Meski cuaca panas masih mendominasi, BMKG memprediksi adanya peningkatan potensi hujan pada 8 Juni 2026.
Wilayah yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat antara lain Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Padang Pariaman, Kota Padang dan Pesisir Selatan.
Sementara itu, untuk periode 6 hingga 12 Juni 2026 secara umum sebagian besar wilayah Sumatera Barat masih berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang.
Menurut Jeni, tanggal 8 Juni menjadi periode yang perlu diperhatikan karena potensi hujan diperkirakan lebih tinggi dibanding hari-hari lainnya dalam sepekan ke depan.
Selain itu, untuk Kota Padang sendiri masih terdapat peluang terjadinya hujan ringan mulai sore hingga malam hari, bahkan berlanjut hingga dini hari.
Waspadai Dehidrasi dan Risiko Karhutla
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap dampak yang dapat ditimbulkan oleh kondisi cuaca panas yang berlangsung saat ini.
Masyarakat yang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan diminta untuk memperbanyak konsumsi air putih guna menghindari dehidrasi.
Baca juga: Dipicu Truk Rusak, Kendaraan Mengular Panjang di Sitinjau Lauik Sejak Sore hingga Malam
Selain itu, masyarakat yang beraktivitas di sektor pertanian maupun perkebunan diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Menurut Jeni, berkurangnya curah hujan menyebabkan kondisi lahan menjadi lebih kering sehingga api dapat dengan mudah merambat apabila terjadi pembakaran.
"Yang perlu diantisipasi adalah pembukaan lahan dengan cara membakar. Saat hujan berkurang dan lahan kering, api bisa cepat menyebar dan memicu kebakaran hutan dan lahan serta bencana asap," katanya.
Karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi cuaca selama beraktivitas serta menghindari tindakan yang dapat memicu kebakaran lahan di tengah kondisi cuaca yang relatif kering saat ini.
| Cuaca 7 Kota di Sumbar Hari Ini: Mayoritas Berawan, Kota Padang Berpotensi Diguyur Hujan Ringan |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Sumbar Hari Ini Sabtu 6 Juni 2026: Sejumlah Daerah Diguyur Hujan Ringan |
|
|---|
| Cuaca Cerah Berawan Sambut Warga Padang di Akhir Pekan, Siang Berpotensi Hujan Ringan |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca 19 Kabupaten dan Kota di Sumbar Hari Ini, Hanya Dharmasraya Diprediksi Hujan |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Sumatera Barat Senin 18 Mei 2026, Waspada Hujan di Pesisir Selatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/060626-cuaca-panas-di-sumbar.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.