Ekonomi
Ekonom Unand Beberkan 3 Langkah Strategis Selamatkan Rupiah yang Tembus Rp18.040 per Dolar AS
Ekonom Unand Syafruddin Karimi membeberkan tiga langkah strategis guna menyelamatkan nilai tukar mata uang
Penulis: Muhammad Iqbal | Editor: Rahmadi
Ringkasan Berita:
- Rupiah menyentuh Rp18.040 per dolar AS, mendekati titik terlemah setahun terakhir.
- Ekonom Unand menilai pasar sedang menghitung ulang risiko Indonesia.
- Pelemahan rupiah terjadi saat IHSG turun 3,48 persen, ada apa?
- Investor disebut mulai mengurangi eksposur pada aset-aset Indonesia.
- Ekonom mengungkap tiga langkah yang dinilai penting untuk meredam tekanan rupiah.
TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Ekonom Unand Syafruddin Karimi membeberkan tiga langkah strategis guna menyelamatkan nilai tukar mata uang, setelah data perbankan menunjukkan rupiah tembus Rp18.040 per dolar AS.
Syafruddin menegaskan bahwa formula penyelamatan ini harus berjalan serentak dalam tiga lapis, mulai dari kebijakan moneter, disiplin anggaran pemerintah, hingga pembenahan total di sektor riil nasional agar rupiah tembus Rp18.040 per dolar AS tidak semakin liar.
"Stabilitas rupiah tidak bisa hanya bertumpu pada suku bunga. Rupiah akan lebih kuat jika ekonomi menghasilkan devisa secara berkelanjutan," ucap Syafruddin Karimi saat dikonfirmasi, Kamis (4/6/2026).
Pertama, Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas pasar valuta asing melalui intervensi terukur, pengelolaan likuiditas, operasi moneter yang kredibel, serta komunikasi yang jelas.
Ia menyebut kenaikan BI-Rate ke 5,25 persen menunjukkan bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas.
Baca juga: Ekonom Unand Minta Pemerintah Contoh BJ Habibie dalam Memulihkan Kepercayaan Pasar dan Rupiah
"Langkah ini perlu disertai pesan kebijakan yang konsisten agar pasar tidak menebak-nebak arah otoritas," sebutnya.
Kedua, pemerintah perlu memperkuat disiplin fiskal dengan mengarahkan belanja negara pada sektor produktif, bukan hanya konsumsi jangka pendek.
Menurutnya, defisit, subsidi, dan utang harus dikelola secara hati-hati agar investor tidak meminta premi risiko tambahan.
Ketiga, sektor riil harus memperkuat fondasi rupiah melalui peningkatan ekspor bernilai tambah, pendalaman hilirisasi, penguatan industri domestik, pengurangan impor strategis, serta menarik investasi langsung yang menghasilkan devisa.
"Stabilitas rupiah tidak bisa hanya bertumpu pada suku bunga. Rupiah akan lebih kuat jika ekonomi menghasilkan devisa secara berkelanjutan," tambahnya.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Sumbar 4 Juni 2026: Waspada Hujan di Solok Selatan dan Dharmasraya
Syafruddin Karimi menyebut pelemahan rupiah tidak bisa dibaca hanya sebagai pergerakan teknis pasar valuta asing semata.
Menurutnya, ketika kurs USD/IDR menyentuh sekitar 18.040 dan bergerak sangat dekat dengan titik terlemah 52 minggu di level 18.045, pasar sedang menilai ulang risiko Indonesia.
"Pelemahan rupiah perlu dibaca sebagai sinyal serius, bukan sekadar pergerakan teknis pasar valuta asing. Ketika USD/IDR menyentuh sekitar 18.040 dan bergerak sangat dekat dengan titik terlemah 52 minggu di 18.045, pasar sedang menilai ulang risiko Indonesia," ucapnya.
Kata dia, tekanan terhadap rupiah semakin kuat karena terjadi bersamaan dengan koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau JKSE sekitar 3,48 persen.
Menurut Syafruddin, kondisi tersebut menunjukkan investor tidak hanya melepas rupiah, tetapi juga mengurangi eksposur pada aset Indonesia.
Baca juga: Rupiah Melemah Tembus Rp18.040 per Dolar AS, Ekonom Unand Sebut Alarm Risiko Ekonomi Indonesia
| Ekonom Unand Minta Pemerintah Contoh BJ Habibie dalam Memulihkan Kepercayaan Pasar dan Rupiah |
|
|---|
| Rupiah Melemah Tembus Rp18.040 per Dolar AS, Ekonom Unand Sebut Alarm Risiko Ekonomi Indonesia |
|
|---|
| Pakar Ekonomi UNAND: Tarif Impor Trump Ancam Ekonomi Indonesia: Dampak, Respons & Langkah Strategis |
|
|---|
| Harga Emas Turun, Sementara US Dollar Di PT Uda Metro Money Ex Change Stabil |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Pakar-Ekonomi-dari-Universitas-Andalas-Unand-Prof-Syafruddin-Karim-652026.jpg)