Ekonomi
Rupiah Melemah Tembus Rp18.040 per Dolar AS, Ekonom Unand Sebut Alarm Risiko Ekonomi Indonesia
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus berlanjut, dinilai sebagai sinyal serius
Penulis: Muhammad Iqbal | Editor: Rahmadi
Ringkasan Berita:
- Rupiah tembus Rp18.040 per dolar AS, pasar disebut kirim sinyal serius.
- Ekonom Unand menilai risiko Indonesia sedang dihitung ulang investor.
- Pelemahan rupiah terjadi saat IHSG turun 3,48 persen dalam sehari.
- Faktor global dan ketergantungan impor disebut ikut menekan rupiah.
- Ekonom ungkap tiga langkah yang dinilai penting untuk menjaga stabilitas.
TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus berlanjut, dinilai sebagai sinyal serius bagi perekonomian Indonesia.
Ekonom Unand, Syafruddin Karimi menyebut pelemahan rupiah tidak bisa dibaca hanya sebagai pergerakan teknis pasar valuta asing semata.
Menurutnya, ketika kurs USD/IDR menyentuh sekitar 18.040 dan bergerak sangat dekat dengan titik terlemah 52 minggu di level 18.045, pasar sedang menilai ulang risiko Indonesia.
"Pelemahan rupiah perlu dibaca sebagai sinyal serius, bukan sekadar pergerakan teknis pasar valuta asing. Ketika USD/IDR menyentuh sekitar 18.040 dan bergerak sangat dekat dengan titik terlemah 52 minggu di 18.045, pasar sedang menilai ulang risiko Indonesia," ucap Syafruddin Karimi saat dikonfirmasi, Kamis (4/6/2026).
Kata dia, tekanan terhadap rupiah semakin kuat karena terjadi bersamaan dengan koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau JKSE sekitar 3,48 persen.
Baca juga: Kodam Cari Saksi, Minta Warga Laporkan Suara Dentuman Terkait Kasus Peluru Nyasar di UNP
Menurut Syafruddin, kondisi tersebut menunjukkan investor tidak hanya melepas rupiah, tetapi juga mengurangi eksposur pada aset Indonesia.
"Situasi ini menunjukkan pola risk-off: pasar meminta premi risiko lebih tinggi karena menilai stabilitas rupiah, prospek laba emiten, dan kredibilitas kebijakan sedang diuji," ujarnya.
Ia juga menilai Indonesia masih memiliki sejumlah bantalan ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi yang tetap positif dan inflasi yang relatif terkendali.
Akan tetapi, pasar tidak hanya melihat kondisi saat ini, melainkan juga mempertimbangkan berbagai risiko ke depan, termasuk biaya impor, beban utang valas, arus modal, serta kemampuan kebijakan dalam menjaga kepercayaan.
Perihal penyebab pelemahan rupiah, Syafruddin menyebut kondisi tersebut merupakan kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Baca juga: Polisi Bakar Pondok Tambang Emas Ilegal di Pasaman Barat, Sita Puluhan Jeriken Solar
Dari sisi eksternal, gejolak global, suku bunga internasional yang tinggi, harga energi, ketegangan geopolitik, serta meningkatnya permintaan terhadap aset aman membuat dolar AS tetap kuat.
Sedangkan dari sisi domestik, rupiah menghadapi tekanan karena Indonesia masih bergantung pada impor strategis, mulai dari bahan baku industri, energi, pangan tertentu, obat-obatan hingga barang modal.
"Ketika rupiah melemah, kebutuhan dolar dari importir dan korporasi meningkat. Investor asing juga menghitung return dalam dolar AS. Jika rupiah turun lebih dalam, keuntungan saham atau obligasi dalam rupiah bisa hilang setelah dikonversi ke dolar," jelasnya.
Ia menambahkan, data kawasan menunjukkan rupiah lebih rentan dibandingkan beberapa mata uang negara ASEAN lainnya.
Menurut Syafruddin, hal tersebut menunjukkan pasar tidak hanya merespons kekuatan dolar AS, tetapi juga menilai risiko spesifik Indonesia.
Baca juga: Daftar Jenis Pelanggaran Incaran Polisi dalam Operasi Patuh Singgalang 2026
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/karimi-Sya5.jpg)