Inflasi Sumbar

BPS Sumbar Catat Inflasi Tahunan Sumatera Barat Tembus 3,91 Persen per Mei 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat mencatat inflasi tahunan Sumatera Barat menyentuh angka 3,91 persen pada Mei 2026.

Tayang:
Penulis: Rahmadisuardi | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Fuadi Zikri
INFLASI BULANAN SUMBAR - Ilustrasi inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat mencatat inflasi tahunan Sumatera Barat menyentuh angka 3,91 persen pada Mei 2026. 

Ringkasan Berita:
  • BPS catat inflasi Sumbar Mei 2026 naik 3,91 persen, harga apa paling memicu?
  • Dharmasraya jadi daerah dengan inflasi tertinggi di Sumbar, tembus 5,31 persen.
  • Harga beras, cabai merah, minyak goreng hingga emas ikut dorong inflasi.
  • Kota Padang catat inflasi terendah, beda angkanya cukup jauh dari Dharmasraya.
  • BPS ungkap 11 kelompok pengeluaran naik, makanan dan tembakau paling besar.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat mencatat inflasi tahunan Sumatera Barat menyentuh angka 3,91 persen pada Mei 2026.

Kenaikan harga berbagai komoditas pokok memicu lonjakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,69 pada Mei 2025 menjadi 112,94 pada Mei 2026.

Berdasarkan data BPS dikutip Selasa (2/6/2026), inflasi Sumatera Barat Mei 2026 terjadi setelah Indeks Harga Konsumen (IHK) naik menjadi 112,94. 

Dari empat wilayah cakupan IHK di Sumbar, Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi tertinggi.

Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi Sumatera Barat tertinggi sebesar 5,31 persen dengan IHK 114,84.

Baca juga: Polres Agam Tangkap Bandar Sabu di Lubuk Basung, Polisi Sita Lima Paket Siap Edar

Sementara Kota Padang menjadi wilayah dengan inflasi terendah sebesar 3,52 persen dan IHK 112,43.

BPS Sumbar mencatat kenaikan harga terjadi pada 11 kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang besar dengan inflasi 6,24 persen.

Selain itu, kelompok transportasi mengalami inflasi 2,79 persen, kelompok pendidikan 2,18 persen, kelompok restoran 3,63 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencapai 10,48 persen.

Dalam rilisnya, BPS Sumbar menyebut inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 11 kelompok pengeluaran.

Sejumlah komoditas memberi andil terhadap kenaikan inflasi tahunan di Sumbar. Komoditas tersebut meliputi emas perhiasan, beras, cabai merah, minyak goreng, daging ayam ras, bawang merah, angkutan udara, nasi dengan lauk, ikan nila hingga kontrak rumah.

BPS juga mencatat beberapa komoditas yang memberi andil deflasi atau penurunan tekanan harga. Komoditas itu antara lain kentang, bawang putih, kelapa, santan segar, sabun cair pencuci piring, susu bubuk, serta udang basah.

Baca juga: Ketua DPRD Sumbar Dukung Langkah Hukum Tokoh Minang Soal Pernyataan Abu Janda

Secara bulanan atau month to month (m-to-m), Provinsi Sumatera Barat mengalami inflasi sebesar 0,90 persen pada Mei 2026. Sementara inflasi year to date (y-to-d) hingga Mei 2026 tercatat 0,47 persen.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi kelompok dengan andil inflasi tahunan terbesar, yakni 2,06 persen. Kenaikan harga beras, cabai merah, rokok, minyak goreng, dan daging ayam ras ikut memengaruhi pergerakan inflasi.

Untuk perbandingan antarwilayah, Kabupaten Pasaman Barat mencatat inflasi 4,61 persen dengan IHK 113,98. Kota Bukittinggi mengalami inflasi 3,73 persen dengan IHK 112,29.

BPS Sumbar dalam laporannya menyebut seluruh wilayah cakupan IHK di provinsi tersebut mengalami inflasi tahunan pada Mei 2026.

Data inflasi Sumatera Barat ini menunjukkan pergerakan harga masih terjadi di berbagai kelompok pengeluaran hingga Mei 2026, dengan Dharmasraya menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di Sumbar. (*)

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved