Inflasi Sumbar
Dharmasraya Jadi Wilayah Inflasi Tertinggi di Sumbar, Tembus 3,44 Persen per April 2026
BPS Sumatera Barat (Sumbar) mencatat Dharmasraya jadi wilayah inflasi tertinggi di Sumbar pada periode April 2026
Penulis: Rahmadisuardi | Editor: Rahmadi
Ringkasan Berita:
- Dharmasraya catat inflasi tertinggi di Sumbar, capai 3,44 persen
- Angka ini melampaui inflasi Sumbar yang hanya 1,97 persen
- Kenaikan harga terjadi di 11 kelompok pengeluaran utama
- Emas, beras, hingga transportasi dorong lonjakan inflasi
- Beberapa komoditas justru turun, tapi belum tahan laju kenaikan
TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mencatat Dharmasraya jadi wilayah inflasi tertinggi di Sumbar pada periode April 2026.
Berdasarkan data terbaru, angka inflasi di Kabupaten Dharmasraya melonjak hingga 3,44 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,81.
Capaian ini menempatkan Dharmasraya jauh di atas rata-rata inflasi tahunan (year-on-year) Provinsi Sumatera Barat yang berada di angka 1,97 persen.
Kepala BPS Provinsi Sumatera Barat, Nurul Hasanudin, dalam laporan BPS Sumbar Senin (4/5/2026) menjelaskan bahwa Dharmasraya jadi wilayah inflasi tertinggi di Sumbar di tengah tren kenaikan harga pada 11 kelompok pengeluaran.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat lonjakan paling signifikan sebesar 10,85 persen secara provinsi.
Baca juga: Jemaah Haji Pasaman Tiba di Asrama Haji Padang Tengah Malam, Sampai Usai Terjebak Macet di Silaiang
Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau ikut memberikan andil besar terhadap pergerakan harga di pasar.
"Pada April 2026 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Sumatera Barat sebesar 1,97 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,93. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 3,44 persen," tulis laporan resmi BPS Sumbar tersebut.
Fakta bahwa Dharmasraya jadi wilayah inflasi tertinggi di Sumbar ini menjadi perhatian karena kenaikannya hampir dua kali lipat dari angka provinsi.
Kenaikan harga emas perhiasan menjadi pemicu utama inflasi di Sumatera Barat dengan sumbangan andil sebesar 0,53 persen.
Selain logam mulia, komoditas pangan seperti daging ayam ras, beras, dan jengkol turut mengerek harga di tingkat konsumen.
Baca juga: BREAKING NEWS: SPSI Sumbar Geruduk Kantor Gubernur, Buruh Desak Penuntasan PHK Sepihak
Di sektor transportasi, kenaikan tarif angkutan udara dan harga mobil juga memberikan tekanan pada daya beli masyarakat sepanjang April 2026.
Secara rinci, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi sebesar 2,36 persen.
Komoditas seperti nasi dengan lauk, ayam goreng, dan gulai menjadi penyumbang tetap dalam kelompok ini.
Meskipun demikian, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga (deflasi) seperti cabai merah, bawang putih, dan kentang yang sedikit menahan laju inflasi lebih dalam.
Data BPS juga menunjukkan perbandingan antarwilayah di Sumatera Barat. Jika Kabupaten Dharmasraya menempati urutan teratas, Kota Bukittinggi menyusul dengan inflasi 2,48 persen.
Kota Padang mencatat inflasi sebesar 1,97 persen, sementara Kabupaten Pasaman Barat menjadi wilayah dengan inflasi terendah, yakni hanya 1,03 persen.
Meskipun secara tahunan terjadi kenaikan, Sumatera Barat mencatat deflasi year-to-date (y-to-d) atau sejak awal tahun sebesar 0,43 persen. Hal ini menunjukkan dinamika harga yang fluktuatif di pasar lokal. (*)
| Tarif Travel dan Harga BBM Ikut Sumbang Inflasi Sumatera Barat Maret 2026, Ayam Ras Teratas |
|
|---|
| Daging Ayam Ras Pemicu Inflasi di Sumatera Barat Maret 2026, BPS Catat Kenaikan Harga |
|
|---|
| Inflasi Sumatera Barat Februari 2026 Tembus 4,39 Persen, Kota Bukittinggi Catat Angka Tertinggi |
|
|---|
| Cabai Merah Picu Inflasi Sumbar Februari 2026, Dharmasraya Catat Kenaikan Harga Paling Tinggi |
|
|---|
| Harga Emas hingga Listrik Melejit, Inflasi Sumatera Barat Januari 2026 Tembus 3,92 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Inflasi-Padang-685-Persen-Peringkat-Kedua-di-Sumatera-Didi-Ariyadi-Sebut-3-Faktor-Pendorong.jpg)