Jembatan Putus di Padang Pariaman

Akses Warga Anduring Terputus, Pemkab Padang Pariaman Rencanakan Pembangunan Jembatan Bailey

Ia menyebut, setiap hari sekitar seribuan sepeda motor dan becak melintasi kawasan tersebut untuk aktivitas sekolah, bekerja hingga ke pasar.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Muhammad Afdal Afrianto | Editor: Rezi Azwar

Di tengah ketidakpastian itu, harapan tetap hidup.

Afdal dan Alif, seperti warga lainnya, hanya menginginkan satu hal sederhana yaitu jembatan yang kembali berdiri, agar mereka bisa menyeberang tanpa rasa cemas, dan tiba di sekolah tepat waktu.

“Semoga cepat dibangun lagi, supaya tidak telat sekolah,” kata mereka. 

Baca juga: Hardiknas 2026, UIN Imam Bonjol Padang Perkuat Pendidikan Karakter dan Kepedulian Lingkungan

Akses Tiga Nagari Terputus, 30 Ribu Warga Terdampak

Putusnya akses penghubung tiga nagari yakni Nagari Kayu Tanam, Nagari Anduriang, dan Nagari Guguak ini berdampak pada sekitar 30 ribu warga, termasuk para pelajar di Padang Pariaman.

Sejak jembatan utama roboh akibat galodo November 2025, mobilitas ekonomi dan distribusi hasil pertanian masyarakat menjadi terhambat.

Sejak putusnya jembatan, warga terpaksa menggunakan rakit sederhana berbahan drum sebagai sarana penyeberangan darurat.

Meski membantu memangkas jarak tempuh dan biaya transportasi, fasilitas ini dinilai jauh dari standar keselamatan.

Ketua Pemuda Nagari Anduriang, Afrizal, menyebutkan bahwa inisiatif pembuatan rakit berasal dari para pemuda setempat sebagai solusi sementara.

“Awalnya jembatan ini putus, lalu kami pemuda berinisiatif membuat rakit supaya masyarakat tidak perlu memutar jauh. Ini bisa menghemat waktu dan bahan bakar,” ujarnya dikutip dari laman Pemkab Padang Pariaman, Rabu (6/5/2026).

Baca juga: Ekonomi Sumbar Tumbuh 5,02 Persen, Sektor Pariwisata dan Ekspor CPO Melejit Tajam di Awal 2026

Ia menambahkan, layanan penyeberangan tersebut bersifat sukarela dengan biaya seikhlasnya. “Ada yang bayar Rp5.000, ada Rp2.000, bahkan ada yang gratis seperti anak sekolah,” katanya.

Namun demikian, ia mengakui risiko keselamatan tetap tinggi, terutama saat kondisi arus sungai tidak stabil. (*)

Sumber: Tribun Padang
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved