Jembatan Putus di Padang Pariaman

Akses Warga Anduring Terputus, Pemkab Padang Pariaman Rencanakan Pembangunan Jembatan Bailey

Ia menyebut, setiap hari sekitar seribuan sepeda motor dan becak melintasi kawasan tersebut untuk aktivitas sekolah, bekerja hingga ke pasar.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Muhammad Afdal Afrianto | Editor: Rezi Azwar

Sejak jembatan putus akibat banjir bandang, masyarakat setempat menggunakan rakit sederhana dari papan kayu dan drum besi untuk menyeberangi sungai.

Pelajar Seberangi Sungai Pakai Rakit

Embun pagi masih setia menggantung di atap-atap rumah warga Nagari Anduring, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Rabu (6/5/2026) pagi.

Dari balik jajaran perbukitan, suara kokok ayam bersahutan, memecah sunyi pagi yang belum sepenuhnya beranjak. 

Namun, kehidupan di kampung ini sudah bergerak sejak fajar. Sejumlah warga tampak bergegas keluar rumah. 

Jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB, tetapi antrean sudah mulai terbentuk di tepian Sungai Lubuk Aur.

Di hadapan mereka, bukan jembatan kokoh yang menyambungkan dua sisi kampung, melainkan sebuah rakit sederhana tersusun dari papan kayu yang ditopang delapan drum besi. 

Baca juga: Prakiraan Cuaca 7 Kota Sumbar: Waspada Hujan Petir di Sawahlunto dan Hujan Ringan di Padang

JEMBATAN PUTUS - Warga menyeberangi Sungai Lubuk Aur menggunakan rakit darurat, Rabu (6/5/2026). Akses ini digunakan setiap hari sejak jembatan penghubung putus akibat banjir bandang November 2025.
JEMBATAN PUTUS - Warga menyeberangi Sungai Lubuk Aur menggunakan rakit darurat, Rabu (6/5/2026). Akses ini digunakan setiap hari sejak jembatan penghubung putus akibat banjir bandang November 2025. (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

Rakit itu diikat dengan kawat dan katrol seadanya, lalu ditarik manual oleh enam warga.

Pagi itu, arus sungai terlihat deras. Air berwarna kecokelatan mengalir cepat, membawa ancaman yang tak bisa dianggap sepele. 

Namun kondisi tersebut tak menyurutkan langkah warga. Satu per satu, mereka menunggu giliran menyeberang. Tak ada yang menyerobot. 

Semua paham, keselamatan adalah taruhan utama. Sekali terpeleset, tubuh bisa terseret arus dan menghantam batu-batu besar di dasar sungai.

Di antara antrean itu, berdiri Afdal (18), pelajar kelas XI SMA Negeri 1 2x11 Kayu Tanam. 

Baca juga: 3 BERITA POPULER PADANG: SPBU Kurangi Stok BBM, Harga MinyaKIta Stabil dan Tiket GOR H Salim Turun

Dengan seragam pramuka yang dikenakannya, ia tampak sabar menunggu, meski waktu terus berjalan.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.05 WIB. Artinya, ia telah terlambat masuk sekolah yang dimulai pukul 07.30 WIB.

“Dari jam 06.20 WIB sudah di sini. Tapi banyak yang datang lebih dulu, jadi harus antre,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Bagi Afdal, rakit ini adalah satu-satunya akses tercepat menuju sekolah sejak jembatan di dekat rumahnya roboh akibat banjir bandang pada November 2025 lalu.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved