Jembatan Putus di Padang Pariaman

Akses Warga Anduring Terputus, Pemkab Padang Pariaman Rencanakan Pembangunan Jembatan Bailey

Ia menyebut, setiap hari sekitar seribuan sepeda motor dan becak melintasi kawasan tersebut untuk aktivitas sekolah, bekerja hingga ke pasar.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Muhammad Afdal Afrianto | Editor: Rezi Azwar

Ringkasan Berita:
  • Pemkab Padang Pariaman membuka peluang pembangunan Jembatan Bailey di Nagari Anduring.
  • Saat ini, Pemkab Padang Pariaman masih berkoordinasi dengan Pemprov Sumbar.
  • Keberadaan Jembatan Bailey dinilai penting untuk memulihkan akses masyarakat yang selama ini bergantung pada rakit penyeberangan.
  • Setiap hari sekitar seribuan sepeda motor dan becak melintasi kawasan tersebut untuk aktivitas sekolah, bekerja hingga ke pasar.
  • Pemkab Padang Pariaman saat ini sedang fokus melakukan normalisasi sungai.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG PARIAMAN - Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman membuka peluang pembangunan Jembatan Bailey di Nagari Anduring, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, sebagai solusi sementara pasca putusnya Jembatan Sungai Lubuk Aur akibat banjir bandang November 2025 lalu.

Saat ini, Pemkab Padang Pariaman masih berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terkait realisasi pembangunan jembatan darurat tersebut.

Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Padang Pariaman, Hendra Aswara, mengatakan keberadaan Jembatan Bailey dinilai penting untuk memulihkan akses masyarakat yang selama ini bergantung pada rakit penyeberangan.

"Untuk pembangunan Jembatan Bailey, kami masih berkoordinasi dengan provinsi. Mudah-mudahan segera datang untuk Nagari Anduring," kata Hendra Aswara kepada TribunPadang.com saat meninjau lokasi, Rabu (6/5/2026) sore.

Baca juga: Apes! Curanmor di Padang Jatuh Tabrak Kendaraan Lain Saat Dikejar Korban, Berakhir Diamankan Warga

Menurutnya, jalur penghubung tersebut menjadi akses utama masyarakat Nagari Anduring, Nagari Kayu Tanam, hingga Nagari Guguak.

Ia menyebut, setiap hari sekitar seribuan sepeda motor dan becak melintasi kawasan tersebut untuk aktivitas sekolah, bekerja hingga ke pasar.

"Kurang lebih ada seribuan kendaraan roda dua dan becak yang melintas setiap hari," ujarnya.

Hendra mengatakan, sebelum pembangunan jembatan darurat dilakukan, pemerintah terlebih dahulu memprioritaskan normalisasi Sungai Lubuk Aur.

Langkah itu diambil setelah adanya masukan dari masyarakat dan anggota DPRD Padang Pariaman terkait kondisi aliran sungai yang dinilai membahayakan saat hujan deras.

Pemkab Padang Pariaman Dahulukan Normalisasi Sungai

"Kita fokus dulu melakukan normalisasi sungai. Karena kondisi sungai sekarang cukup berisiko ketika debit air meningkat," jelasnya.

Ia menyebutkan, alat berat milik Pemkab Padang Pariaman mulai dikerahkan untuk pengerjaan normalisasi sungai di kawasan Jembatan Anduring.

Namun, keterbatasan alat berat membuat pemerintah daerah meminta dukungan tambahan alat dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

"Kalau hanya satu alat berat, proses normalisasi bisa memakan waktu lama. Karena itu kita minta dukungan provinsi," katanya.

Baca juga: Cuma Punya Satu, Pemkab Padang Pariaman Minta Tambahan Alat Berat Percepat Normalisasi Lubuk Aur

Selain itu, Pemkab Padang Pariaman juga berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) V untuk mendukung penanganan sungai di kawasan tersebut.

Sebelumnya, kawasan Sungai Lubuk Aur menjadi sorotan setelah seorang lansia bernama Afrizal Yatim (70) terseret arus saat menyeberang pada Minggu (3/5/2026) sore. Korban berhasil diselamatkan warga setempat.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved