Pertumbuhan Ekonomi Sumbar

Arah Pembangunan Ekonomi Sumbar Harus Bersifat Integratif

kondisi ini mengindikasikan belum stabilnya ekspansi kapasitas produksi baru, yang berpotensi menghambat pertumbuhan ke depan

Tayang:
Penulis: Muhammad Iqbal | Editor: afrizal
TribunPadang.com
PERTUMBUHAN EKONOMI SUMBAR - Pakar Ekonomi Unand Prof. Dr. Syafruddin Karimi menilai pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat 5,02 persen masih rapuh jika tidak dijaga melalui penguatan variabel-variabel utama yang menopang struktur ekonomi daerah. 

Ringkasan Berita:
  • Dari sektor eksternal, ekspor Sumbar tumbuh kuat 15,24 persen, tetapi impor meningkat lebih tinggi, yakni 20,14 persen
  • Ketimpangan ini, menunjukkan adanya potensi "kebocoran" ekonomi, artinya peningkatan aktivitas ekonomi tidak sepenuhnya dinikmati oleh produksi domestik
  • Pertanian tidak hanya dipertahankan sebagai sektor primer, tetapi didorong menjadi sumber nilai tambah melalui keterkaitan dengan industri pangan, perdagangan modern, hingga sektor pariwisata

TRIBUNPADANG.COM - Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat sebesar 5,02 persen (y-on-y) pada triwulan I 2026 yang dirilis BPS bukan sekadar angka optimistis, tetapi juga sinyal peringatan dini bagi pemerintah daerah agar tidak lengah menjaga momentum.

Ekonom Universitas Andalas, Syafrudin Karimi menilai capaian tersebut masih rapuh jika tidak dijaga melalui penguatan variabel-variabel utama yang menopang struktur ekonomi daerah.

Menurut Syafrudin Karimi, konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi 51,84 persen terhadap PDRB.

Baca juga: Pengangguran Sumbar Turun: Ini Bentuk Survival Employment, Bukan Produktivitas Meningkat

"Artinya, setiap gejolak daya beli masyarakat akan langsung berdampak pada laju pertumbuhan. Jika inflasi meningkat atau pendapatan riil melemah, pertumbuhan di atas 5 persen akan sulit dipertahankan," kata dia saat dihubungi TribunPadang.com, Selasa (5/5/2026).

Sementara, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menunjukkan sinyal yang perlu diwaspadai.

Belum Stabil dan Tidak Seimbang

Bagi Syafrudin Karimi, secara tahunan memang tumbuh 7,64 persen, namun secara triwulanan justru terkontraksi 3,72 persen.

"Jadi, kondisi ini mengindikasikan belum stabilnya ekspansi kapasitas produksi baru, yang berpotensi menghambat pertumbuhan ke depan," jelasnya.

Dari sektor eksternal, ekspor Sumbar tumbuh kuat 15,24 persen, tetapi impor meningkat lebih tinggi, yakni 20,14 persen.

Ketimpangan ini, menunjukkan adanya potensi "kebocoran" ekonomi, artinya peningkatan aktivitas ekonomi tidak sepenuhnya dinikmati oleh produksi domestik.

Baca juga: Ekonom Unand Ingatkan Kerentanan Besar di Balik Pertumbuhan Ekonomi Sumbar 5,02 Persen

Sedangkan sektor konstruksi yang seharusnya menjadi penggerak investasi justru mengalami kontraksi 2,05 persen secara q-to-q.

Berbanding terbalik, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh signifikan 9,27 persen, menandakan pemulihan aktivitas logistik.

"Ketidakseimbangan ini perlu segera diatasi agar rantai investasi dan distribusi berjalan selaras," ujarnya.

Pertanian Tetap Menjadi Fondasi

Ia menyarankan, di tengah geliat sektor pariwisata yang melonjak, pertanian tetap menjadi fondasi utama ekonomi Sumbar dengan kontribusi 22,03 persen.

Hal ini mempertegas bahwa transformasi ekonomi tidak bisa dilakukan secara ekstrem dengan meninggalkan sektor agraris.

Syafrudin Karimi menegaskan, arah pembangunan ekonomi Sumbar harus bersifat integratif. 

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved