Kemiskinan di Sumbar
Beban Pendidikan Lebih Menghimpit Warga Miskin Kota di Sumatera Barat Dibanding di Desa
Data Profil Kemiskinan Provinsi Sumbar September 2025 dikutip dari BPS Sumbar Sabtu (14/2/2026) menunjukkan biaya pendidikan
Penulis: Rahmadisuardi | Editor: Rahmadi
Ringkasan Berita:
- Biaya pendidikan menyumbang 3,06 persen terhadap garis kemiskinan di kota, lebih tinggi dibanding desa yang hanya 1,53 persen.
- Data menunjukkan pengeluaran pendidikan memberi tekanan ekonomi lebih besar bagi warga miskin perkotaan.
- Garis kemiskinan Sumbar pada September 2025 tercatat Rp776.517 per kapita per bulan dan terus naik.
- Jumlah penduduk miskin kota turun, tetapi penduduk miskin desa justru meningkat pada periode yang sama.
TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Beban pendidikan tercatat sebagai salah satu faktor yang menekan penduduk miskin di wilayah perkotaan Sumatera Barat (Sumbar).
Data Profil Kemiskinan Provinsi Sumbar September 2025 dikutip dari BPS Sumbar Sabtu (14/2/2026) menunjukkan biaya pendidikan menyumbang 3,06 persen terhadap garis kemiskinan di kota.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan yang hanya 1,53 persen. Perbedaan ini menunjukkan pengeluaran pendidikan lebih memberi tekanan ekonomi bagi warga miskin perkotaan.
Beban pendidikan masuk dalam kelompok komoditas bukan makanan yang memengaruhi garis kemiskinan.
Di perkotaan, biaya perumahan menyumbang 6,38 persen, bensin 3,14 persen, pendidikan 3,06 persen, dan listrik 2,36 persen.
Baca juga: Cuaca Maritim Sumbar 15-18 Februari 2026, Gelombang Bisa Capai 2,5 Meter
Di perdesaan, kontribusi biaya pendidikan hanya 1,53 persen, lebih rendah dibanding perumahan 5,94 persen, bensin 2,87 persen, dan listrik 1,74 persen.
Struktur ini menunjukkan pola pengeluaran rumah tangga miskin kota dan desa berbeda.
Beban pendidikan di kota muncul seiring meningkatnya kompleksitas pengeluaran rumah tangga. Penduduk miskin perkotaan harus mengalokasikan pengeluaran untuk perumahan, transportasi, dan pendidikan.
Tekanan pengeluaran tersebut menjadi bagian dari komponen bukan makanan yang membentuk garis kemiskinan perkotaan.
Jumlah penduduk miskin di Sumbar pada September 2025 tercatat 312,30 ribu orang atau 5,31 persen dari total penduduk.
Persentase penduduk miskin di perkotaan turun dari 3,91 persen pada Maret 2025 menjadi 3,75 persen pada September 2025.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Gunung Marapi 14-15 Februari, Waspada Hujan Petir di Lereng Lima Kaum dan Pariangan
Sebaliknya, persentase penduduk miskin di perdesaan naik dari 6,93 persen menjadi 7,03 persen pada periode yang sama.
Selama periode Maret 2025 hingga September 2025, jumlah penduduk miskin di perkotaan turun sebanyak 4,27 ribu orang, dari 119,45 ribu orang menjadi 115,18 ribu orang.
Pada periode yang sama, jumlah penduduk miskin di perdesaan naik sebanyak 4,22 ribu orang, dari 192,90 ribu orang menjadi 197,12 ribu orang.
Perubahan ini menunjukkan pergeseran dinamika kemiskinan antara wilayah kota dan desa.
Angka kemiskinan
Angka Kemiskinan di Sumbar
garis kemiskinan Sumbar
pengentasan kemiskinan
BPS Sumbar
| 76 Persen Pendapatan Penduduk Miskin Sumbar Hanya untuk Makan, Harga Beras Jadi Pemicu Utama |
|
|---|
| Garis Kemiskinan Sumbar Naik, Keluarga Berpengeluaran di Bawah Rp4 Juta Kini Masuk Kategori Miskin |
|
|---|
| Rokok Jadi Beban Rakyat Miskin Sumatera Barat, Pengeluaran Lampaui Telur dan Cabai |
|
|---|
| Angka Kemiskinan Sumbar Turun Menjadi 5,31 Persen, Namun Jumlah Warga Miskin di Desa Malah Naik |
|
|---|
| 312 Ribu Warga Sumbar Masih Miskin, Pengeluaran Rokok Kalahkan Telur Ayam dan Daging |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Suasana-belajar-enam-siswa-kelas-satu-SDN-27-Sawahan-Dalam-Padang-Jumat-1972024.jpg)