Kemiskinan di Sumbar
Rokok Jadi Beban Rakyat Miskin Sumatera Barat, Pengeluaran Lampaui Telur dan Cabai
BPS Sumatera Barat (Sumbar) merilis data terbaru menunjukkan angka kemiskinan di Sumbar pada September 2025 mencapai 312,30 ribu
Penulis: Rahmadisuardi | Editor: Rahmadi
Ringkasan Berita:
- Rumah dan warung di Kuranji Padang terbakar siang tadi.
- Api pertama terlihat saksi dari atap rumah, langsung dilaporkan ke Damkar Padang.
- Lima armada dengan 70 personel dikerahkan, api berhasil dipadamkan dalam 11 menit.
- Bagian dinding dan plafon rusak ringan, luas area terdampak 50 meter persegi.
- Tidak ada korban jiwa, 15 orang terdampak kebakaran.
TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) merilis data terbaru menunjukkan angka kemiskinan di Sumbar pada September 2025 mencapai 312,30 ribu orang atau 5,31 persen.
Meski jumlah total penduduk miskin berkurang tipis sebanyak 0,05 ribu orang dibanding Maret 2025, terjadi ketimpangan tajam antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Data mengungkap bahwa kemiskinan justru meningkat di wilayah perdesaan, dari 6,93 persen pada Maret 2025 naik menjadi 7,03 persen pada September 2025.
Sebaliknya, angka kemiskinan di perkotaan turun dari 3,91 persen ke angka 3,75 persen. Secara kuantitas, penduduk miskin di desa bertambah 4,22 ribu orang dalam kurun waktu enam bulan.
Salah satu faktor utama yang menjerat kemiskinan di Sumatera Barat adalah konsumsi komoditas makanan yang menyumbang 76,36 persen terhadap Garis Kemiskinan.
Baca juga: Rumah dan Warung di Kuranji Padang Terbakar, Petugas Sempat Kesulitan Akses Sempit
Menariknya, rokok kretek filter konsisten menempati posisi kedua sebagai komoditas yang paling banyak menguras pendapatan penduduk miskin, tepat berada di bawah beras.
Sumbangan rokok kretek filter terhadap kemiskinan di Sumatera Barat mencapai 12,38 persen di perkotaan dan 12,25 persen di perdesaan.
Nilai pengeluaran untuk rokok ini jauh lebih tinggi dibandingkan pengeluaran untuk kebutuhan nutrisi penting seperti cabai merah (6,53 persen), telur ayam ras (4,19 persen), maupun daging ayam ras (3,46 persen).
Kenaikan Garis Kemiskinan sebesar 6,40 persen menjadi Rp776.517 per kapita per bulan memperberat beban ekonomi masyarakat.
Di daerah perdesaan, kenaikan Garis Kemiskinan bahkan mencapai 6,55 persen, lebih tinggi dibanding kenaikan di perkotaan yang berada di angka 6,28 persen.
Baca juga: Kebakaran Speedboat Batang Arau Padang, Tiga Unit Hangus dengan Kerugian Rp 1,5 Miliar
Struktur pengeluaran ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat, terutama tingginya belanja rokok, memiliki andil besar dalam menentukan profil kemiskinan di Sumatera Barat.
Komoditas non-makanan seperti biaya perumahan, bensin, dan pendidikan turut memberi andil, namun tetap tidak sebesar dampak dari konsumsi rokok dan beras.(*)
| 76 Persen Pendapatan Penduduk Miskin Sumbar Hanya untuk Makan, Harga Beras Jadi Pemicu Utama |
|
|---|
| Beban Pendidikan Lebih Menghimpit Warga Miskin Kota di Sumatera Barat Dibanding di Desa |
|
|---|
| Garis Kemiskinan Sumbar Naik, Keluarga Berpengeluaran di Bawah Rp4 Juta Kini Masuk Kategori Miskin |
|
|---|
| Angka Kemiskinan Sumbar Turun Menjadi 5,31 Persen, Namun Jumlah Warga Miskin di Desa Malah Naik |
|
|---|
| 312 Ribu Warga Sumbar Masih Miskin, Pengeluaran Rokok Kalahkan Telur Ayam dan Daging |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/312-ribu-warga-Sumbar-masih-masddontribusi-rokok-terdkotaand.jpg)