Saat Nilai Tukar Petani Sumbar Turun, Peternakan dan Tanaman Pangan Justru Menguat
Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sumatera Barat pada November 2025 tercatat sebesar 125,75.
Penulis: Rahmadisuardi | Editor: Rahmadi
Peningkatan ini disebabkan oleh naiknya harga hasil ternak yang diterima petani, terutama pada kelompok unggas dan hasil ternak.
Indeks harga yang diterima petani peternakan naik sebesar 1,64 persen. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya harga unggas sebesar 0,46 persen dan hasil-hasil ternak yang naik cukup signifikan sebesar 2,49 persen.
Meski terdapat penurunan pada harga ternak besar dan ternak kecil, kenaikan pada kelompok lain mampu mendorong kinerja subsektor peternakan secara keseluruhan.
Baca juga: Pemko Bukittinggi Bantu 262 Pelajar Terdampak Bencana di Sumbar, Beri Uang Hingga Perbaikan Rumah
Namun, peningkatan pada dua subsektor ini belum mampu menahan penurunan NTP secara agregat. Tekanan utama masih datang dari subsektor hortikultura dan tanaman perkebunan rakyat.
NTP hortikultura turun 2,43 persen menjadi 146,88, sementara NTP tanaman perkebunan rakyat turun 2,32 persen menjadi 148,66.
Penurunan NTP hortikultura dipicu oleh anjloknya harga jual sayur-sayuran dan tanaman obat-obatan.
Harga sayur-sayuran tercatat turun 3,02 persen, sedangkan tanaman obat-obatan mengalami penurunan lebih dalam hingga 5,30 persen. Kondisi ini berdampak langsung pada pendapatan petani hortikultura.
Sementara itu, subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami tekanan akibat turunnya indeks harga yang diterima petani sebesar 2,97 persen.
Penurunan harga komoditas perkebunan menjadi faktor utama yang menekan daya tukar petani di subsektor ini.
Baca juga: Majelis Taklim Masjid Al Maghfirah Lubuk Buaya Koto Tangah Kota Padang Bantu Korban Bencana Longsor
Di sisi lain, indeks harga yang dibayar petani pada November 2025 tercatat mengalami penurunan sebesar 0,67 persen.
Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh turunnya Indeks Konsumsi Rumah Tangga petani, khususnya pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 1,24 persen.
Meski demikian, penurunan biaya konsumsi tersebut belum cukup untuk mengimbangi penurunan harga jual hasil pertanian secara keseluruhan.
BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Sumatera Barat pada November 2025 sebesar 130,64 atau turun 0,31 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan NTUP mengindikasikan adanya tekanan terhadap keuntungan usaha pertanian, meskipun nilainya masih berada di atas angka 100.
Baca juga: Kunci Jawaban PAI Kelas 9 Halaman 63 Kurikulum Merdeka: Etika Pergaulan dalam Islam
Kondisi NTP November 2025 menggambarkan adanya ketimpangan kinerja antar subsektor pertanian di Sumatera Barat.
Saat sebagian petani menghadapi tekanan akibat turunnya harga jual, petani tanaman pangan dan peternakan justru merasakan penguatan daya beli.
Perbedaan ini menunjukkan pentingnya stabilitas harga komoditas pertanian untuk menjaga kesejahteraan petani secara merata di seluruh subsektor.(*)
| Pertamax Rp17.000 per Liter di Sumbar, Ekonom Unand Sebut Travel dan Wisata Paling Terdampak |
|
|---|
| Pertamax Naik Jadi Rp 17.000, Pengamat FEB UNP Prediksi Konsumen Migrasi ke Pertalite Meningkat |
|
|---|
| Harga Pertamax Rp17.000 per Liter, Konsumen di Padang Kaget tapi Belum Banyak yang Beralih |
|
|---|
| Harga Pertamax Naik Jadi Rp17.000 Per Liter, Warga Padang Kaget dan Mulai Lirik Pertalite |
|
|---|
| Pertamax Naik Rp17.000 per Liter di Sumbar, Harga Pertalite dan Biosolar Tetap Normal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/petani-membajak-sawah-di-nanggalo-padang-2272025.jpg)