Saat Nilai Tukar Petani Sumbar Turun, Peternakan dan Tanaman Pangan Justru Menguat
Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sumatera Barat pada November 2025 tercatat sebesar 125,75.
Penulis: Rahmadisuardi | Editor: Rahmadi
Ringkasan Berita:
- NTP Sumbar November 2025 turun 0,49 persen, mencerminkan melemahnya daya tukar petani
- Di tengah tekanan tersebut, subsektor peternakan dan tanaman pangan justru mencatat kenaikan NTP
- Harga padi, palawija, serta hasil ternak menjadi penopang utama penguatan dua subsektor ini
- Hortikultura dan perkebunan rakyat masih menjadi pemberat akibat turunnya harga jual
- Kontras kinerja subsektor ini membuka gambaran ketimpangan kondisi petani di Sumbar
TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sumatera Barat pada November 2025 tercatat sebesar 125,75.
Angka ini mengalami penurunan 0,49 persen dibandingkan Oktober 2025 yang berada di level 126,37.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat menunjukkan, penurunan tersebut terjadi di tengah kondisi yang kontras antar subsektor pertanian, di mana peternakan dan tanaman pangan justru mencatat penguatan.
Dicuplik dari BPS Sumbar, Selasa (16/12/2025), penurunan NTP secara umum disebabkan oleh turunnya Indeks Harga yang Diterima Petani yang lebih besar dibandingkan penurunan Indeks Harga yang Dibayar Petani.
Pada November 2025, indeks harga yang diterima petani turun 1,15 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani hanya turun 0,67 persen.
Baca juga: PLN UID Sumatera Barat Gelar Apel Siaga Nataru 2025, Periode Krusial bagi Sistem Kelistrikan
Kondisi ini membuat daya tukar hasil pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi petani melemah.
NTP menjadi salah satu indikator utama untuk melihat kemampuan daya beli petani di perdesaan.
Meskipun NTP Sumbar masih berada di atas angka 100, penurunan yang terjadi menunjukkan adanya tekanan pada pendapatan petani akibat fluktuasi harga komoditas pertanian.
Di tengah tekanan tersebut, subsektor tanaman pangan justru mencatat peningkatan kinerja. NTP subsektor tanaman pangan pada November 2025 naik sebesar 2,05 persen, dari 103,88 menjadi 106,01.
Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga jual hasil pertanian, khususnya padi dan palawija, serta turunnya biaya yang harus dikeluarkan petani.
BPS mencatat, indeks harga yang diterima petani tanaman pangan naik sebesar 1,16 persen. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya harga padi sebesar 0,80 persen dan palawija sebesar 2,92 persen.
Baca juga: Jadwal Kapal KMP Ambu Ambu Desember 2025: Berangkat dari Tuapejat ke Padang Malam Ini
Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani tanaman pangan justru turun sebesar 0,87 persen, sehingga memberikan ruang bagi peningkatan daya beli petani di subsektor ini.
Selain tanaman pangan, subsektor peternakan juga menunjukkan tren positif. NTP peternakan pada November 2025 tercatat sebesar 104,33 atau naik 1,52 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
| Pertamax Rp17.000 per Liter di Sumbar, Ekonom Unand Sebut Travel dan Wisata Paling Terdampak |
|
|---|
| Pertamax Naik Jadi Rp 17.000, Pengamat FEB UNP Prediksi Konsumen Migrasi ke Pertalite Meningkat |
|
|---|
| Harga Pertamax Rp17.000 per Liter, Konsumen di Padang Kaget tapi Belum Banyak yang Beralih |
|
|---|
| Harga Pertamax Naik Jadi Rp17.000 Per Liter, Warga Padang Kaget dan Mulai Lirik Pertalite |
|
|---|
| Pertamax Naik Rp17.000 per Liter di Sumbar, Harga Pertalite dan Biosolar Tetap Normal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/petani-membajak-sawah-di-nanggalo-padang-2272025.jpg)