Berita Populer Padang
3 BERITA POPULER PADANG: Kebakaran Dekat Pasar Raya, Antre Lama BBM dan Untung Dagang Menipis
kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang melonjak tajam memicu gelombang migrasi konsumen
Melihat kobaran api yang sudah membubung tinggi, Anik langsung mengambil langkah seribu untuk menyelamatkan diri tanpa memikirkan hal lain.
Saat itu, ia sudah sangat yakin bahwa rumah kontrakan yang dihuninya juga akan ikut hangus terbakar melihat posisi api yang begitu dekat.
Namun, keajaiban justru menghampiri Anik setelah petugas damkar berhasil mengendalikan situasi di lapangan.
Begitu api berhasil dipadamkan sepenuhnya, ia terkejut sekaligus bersyukur mendapati bangunan kontrakannya ternyata luput dari jilatan api.
Meskipun hawa panas sempat mengepung area tersebut, bangunan kontrakan Anik tetap berdiri utuh.
Seluruh barang-barang berharga yang berada di dalam rumahnya pun dipastikan aman dan tidak mengalami kerusakan sedikit pun.
Baca juga: PLN dan Pemkab Dharmasraya Inventarisasi Data PJU untuk Tingkatkan Akurasi Layanan
Sementara itu penghuni bangunan lain yang terdampak, bernama Rizko.
Pria yang sehari-hari bekerja di pasar ini hanya bisa tertunduk lesu meratapi tempat tinggalnya yang kini sudah rata dengan tanah.
Saat api mulai berkobar hebat, Rizko mengaku sedang berada di tempat kerjanya di kawasan pasar.
Ia langsung bergegas kembali setelah mendapat kabar bahwa area tempat kosnya ikut dilanda kebakaran besar.
Menurut kesaksian Rizko, sebelum api membesar, beberapa warga sempat mendengar suara ledakan yang cukup keras.
Suara ledakan tersebut disinyalir berasal dari arah kos putri yang posisinya tepat berada di samping bangunan kos yang dihuninya.
"Terdengar ledakan dari arah kos putri di sebelah," ungkap Rizko dengan nada lirih saat ditemui di lokasi kejadian, Jumat sore.
Baca juga: Kebakaran di Kampung Jao Padang, 6 Mobil Damkar Dikerahkan, Cuma Satu Armada Bisa Masuk Lewat Gang
Saking cepatnya api menjalar, Rizko mengaku sama sekali tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga miliknya.
Ketika ia tiba di lokasi, seluruh bangunan tempat tinggalnya sudah dikepung oleh kobaran api yang sangat besar.
Praktis, tidak ada harta benda yang bisa diselamatkan dari dalam kamarnya selain pakaian yang saat itu sedang melekat di tubuhnya.
Seluruh fasilitas dan barang pribadi miliknya habis dilalap api tanpa sisa dalam waktu singkat.
"Semua habis terbakar, ada handphone juga di dalam, dan banyak baju-baju yang tidak bisa dibawa keluar," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Baca juga: Cegah Penimbunan BBM Subsidi, Satreskrim Polres Solok Turun Langsung ke SPBU Koto Baru
Saat melihat keganasan api yang meruntuhkan tempat tinggalnya, Rizko mengaku hanya bisa pasrah dan linglung.
Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi melihat kenyataan bahwa seluruh ruang kehidupannya telah hangus menjadi abu.
Berdasarkan pantauan Rizko di sekitar lokasi, dampak kebakaran ini memang tergolong cukup parah.
Setidaknya ada tiga bangunan kos lain di sekitar tempat tinggalnya yang nasibnya sama, yakni ikut terbakar habis dilumat api.
Terkait penyebab pasti dari peristiwa kebakaran hebat ini, pihak berwenang mengaku belum bisa memberikan keterangan karena masih dalam penyelidikan.
Baca juga: PLN UP3 Solok dan Pemkab Dharmasraya Perkuat Sinergi Melalui Inventarisasi Ulang Data PJU
6 Mobil Dikerahkan
Kebakaran melanda kawasan Pasar Raya Padang, tepatnya di Kelurahan Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat pada Jumat (12/6/2026) sore.
Peristiwa yang mengejutkan warga dan pedagang setempat tersebut terjadi di tengah kepadatan aktivitas menjelang akhir pekan.
Berdasarkan pantauan reporter TribunPadang.com, Arif Ramanda di lokasi kejadian pada pukul 17.15 WIB, kobaran api terlihat membubung tinggi dan melahap beberapa bangunan di kawasan padat penduduk tersebut.
Asap hitam pekat berukuran besar tampak menggumpal ke udara, bahkan dapat terlihat dari jarak beberapa kilometer.
Kondisi ini sempat memicu kepanikan luar biasa bagi warga sekitar dan para pedagang yang berada di area Pasar Raya.
Baca juga: Harga Bahan Pokok Naik, Pedagang Lontong Sayur di Padang Pertahankan Harga Meski Untung Menipis
Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang yang menerima laporan langsung bergerak cepat menuju lokasi.
Setidaknya, enam unit armada mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke tempat kejadian perkara (TKP) guna menjinakkan si jago merah.
Namun, upaya petugas di lapangan tidak berjalan mulus begitu saja. Tim pemadam kebakaran menghadapi kendala aksesibilitas yang cukup sulit karena letak bangunan yang terbakar berada di kawasan yang padat.
Dari enam unit mobil damkar yang diterjunkan, hanya ada satu armada berukuran lebih kecil yang berhasil menerobos masuk ke dalam gang.
Hal ini dikarenakan kondisi gang di sekitar lokasi kejadian tergolong sangat sempit dan dipadati warga.
Baca juga: Harga Emas di Padang Melejit Hari Ini, Satu Ameh Tembus Rp 6 Juta di Pasar Raya
Hingga berita ini diturunkan, proses pemadaman dan lokalisir api masih terus berlangsung secara intensif.
Petugas damkar dibantu warga sekitar bahu-makhambu menyemprotkan air ke titik-titik api agar tidak semakin meluas ke bangunan lain.
Kondisi angin yang bertiup cukup kencang di sore hari menjadi tantangan tersendiri bagi petugas.
Mengenai penyebab pasti dari musibah kebakaran ini, pihak berwenang mengaku belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut.
Fokus utama petugas saat ini adalah melakukan pemadaman total dan memastikan api tidak merembet ke pertokoan utama Pasar Raya.
Pihak kepolisian setempat juga sudah berada di lokasi untuk mengamankan jalur evakuasi dan mengatur lalu lintas di sekitar Kampung Jao yang sempat mengalami kemacetan parah akibat banyaknya warga yang berkerumun melihat kejadian tersebut.
2. Curhat Driver Ojol di Padang Soal Pertamax Naik: Rela Antre Panjang, Demi BBM Subsidi Pertalite
Kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang melonjak tajam memicu gelombang migrasi konsumen di Kota Padang, Sumatera Barat.
Masyarakat kini berbondong-bondong beralih ke BBM bersubsidi jenis Pertalite demi menghemat pengeluaran harian.
Diketahui bahwa terjadi penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax pada Rabu (10/6/2026). Harga BBM Pertamax untuk wilayah Sumatera Barat naik menjadi Rp17.000 per liter.
Baca juga: Pemprov Sumbar Tegaskan Pengecekan STNK di SPBU Hanya untuk Kendaraan yang Dicurigai
Antrean BBM Subsidi Ramai daripada Nonsubsidi
Pantauan Reporter TribunPadang.com, Arif Ramanda langsung di lapangan pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 10.52 WIB, pemandangan kontras terlihat jelas di SPBU Pertamina Kayu Gadang, kawasan Simpang Kampus Unand, Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.
Lokasi SPBU yang berjarak sekitar 800 meter dari kantor Pengadilan Agama Padang Kelas 1-A ini, terdapat antrean kendaraan roda dua sangat panjang di jalur pengisian Pertalite.
Baca juga: Antrean Pertalite Mengular di Padang, Warga Terpaksa Beli Pertamax Rp 17.000 per Liter
Antrean yang padat merayap ini didominasi oleh sepeda motor milik masyarakat dari berbagai elemen.
Tidak hanya kendaraan roda dua, antrean jalur Solar subsidi juga terpantau ramai oleh kendaraan bertubuh besar. Antrean truk-truk tersebut bahkan meluber hingga memakan bahu jalan di sekitar area SPBU.
Pemandangan ini berbanding terbalik dengan jalur pengisian Pertamax. Di jalur BBM nonsubsidi tersebut, suasana tampak lengang dan hanya terlihat satu unit sepeda motor serta satu unit mobil yang melakukan pengisian.
Jeritan Pekerja Jalanan: Rela Antre Asal Dapat BBM Subsidi
Berdasarkan pengamatan di jalur antrean Pertalite, konsumen yang rela berdiri lama di bawah terik matahari datang dari berbagai kalangan. Terlihat di antaranya para pengemudi ojek online (ojol), ibu rumah tangga, hingga mahasiswa.
Melonjaknya jumlah kendaraan di jalur Pertalite ini merupakan imbas langsung dari kenaikan harga Pertamax. Diketahui, harga Pertamax telah meroket dari Rp 12.500 menjadi Rp 17.000 per liter sejak beberapa hari yang lalu.
Salah seorang pengemudi ojol yang ikut mengantre, Wahyu, mengaku dirinya memang jarang menggunakan Pertamax dan lebih memilih Pertalite.
Baca juga: Bupati Dharmasraya Tinjau Proyek Sekolah Rakyat di Sungai Kambut, Progres Fisik Capai 74 Persen
Terlebih dengan kondisi saat ini, di mana harga Pertamax dinilai sudah semakin tidak terjangkau bagi dompet pekerja jalanan.
Menurut Wahyu, jika dirinya memaksakan diri untuk tetap mengonsumsi Pertamax dengan harga baru, maka pendapatan dari tarif ojol akan terkuras habis.
Akibatnya, ia tidak akan memiliki sisa uang yang cukup untuk makan atau memenuhi kebutuhan keluarga lainnya.
Senada dengan Wahyu, driver ojol lainnya bernama Budi Arsya juga memilih bersabar dalam antrean Pertalite yang panjang.
Bagi Budi, tidak masalah harga Pertamax melambung tinggi, asalkan pemerintah tidak mengusik harga Pertalite.
Budi mengutarakan bahwa Pertalite yang saat ini dibanderol dengan harga Rp10.000 per liter sudah sangat menolong kelangsungan dapurnya.
Oleh karena itu, ia rela menghabiskan waktu mengantre agak lama asalkan bisa mendapatkan bensin bersubsidi tersebut.
Pengamat: Konsumen Kelas Menengah 'Turun Kelas'
Sebelumnya, Melihat fenomena ini, pengamat ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Padang (FEB UNP), Doni Satria, memberikan analisisnya.
Ia memprediksi kenaikan tajam Pertamax ini akan mengubah total peta konsumsi energi di tingkat tapak.
Doni menyatakan bahwa selisih harga yang kian melebar jauh antara Pertalite dan Pertamax otomatis memaksa konsumen untuk berpikir lebih realistis.
Baca juga: Bahan Baku Naik, Warung Makan Mahasiswa di Padang Terpaksa Naikkan Harga Rp1.000 per Porsi
Golongan masyarakat kelas menengah yang selama ini menjadi pelanggan setia Pertamax diperkirakan bakal turun kelas dan ikut mengantre di jalur subsidi.
Menurut Doni, fenomena eksodus massal konsumen ini secara otomatis memicu lonjakan permintaan yang luar biasa terhadap Pertalite.
Dampaknya, pemandangan antrean kendaraan yang mengular di berbagai SPBU kini berpotensi menjadi rutinitas baru yang menjemukan bagi warga Kota Padang.
Kerugian Waktu Produktif yang Terbuang
Lebih lanjut, Doni menyoroti dampak sosiologis dan ekonomi makro dari fenomena ini. Ia menegaskan bahwa antrean panjang di SPBU bukan sekadar masalah gangguan visual atau kenyamanan pengendara, melainkan sebuah kerugian ekonomi yang nyata bagi daerah.
Masyarakat urban sering kali tidak menyadari bahwa waktu produktif yang mereka habiskan untuk berdiri atau duduk di atas motor saat mengantre sebenarnya memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi.
“Antre itu adalah biaya. Ketika seseorang harus menghabiskan waktu hingga satu jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar, maka ada waktu produktif yang terbuang sia-sia, begitu pula dengan energi kendaraan yang tetap menyala selama proses antrean," ujar Doni.
Baca juga: Konsumen di Pasar Raya Padang Tak Masalah Harga Bahan Pokok Naik Asalkan Upah Ikut Naik
Kerugian berupa hilangnya waktu produktif dan terbuangnya energi kendaraan tersebut pada akhirnya menumpuk.
Hal ini dinilai memicu pembengkakan biaya operasional hidup masyarakat secara keseluruhan, yang sebenarnya bertolak belakang dengan niat awal mereka untuk berhemat.
Doni menambahkan, situasi yang dihadapi masyarakat saat ini kian pelik lantaran tekanan ekonomi sebenarnya sudah dirasakan jauh sebelum penyesuaian harga Pertamax diberlakukan resmi oleh pemerintah.
Inflasi pada sejumlah komoditas bahan pokok sudah terjadi lebih awal di pasar-pasar tradisional.
Faktor eksternal global, seperti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS serta ketegangan geopolitik yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah, ditengarai menjadi hulu dari segala persoalan ini karena sukses menekan stabilitas harga domestik terlebih dahulu.
"Jadi, kondisi di lapangan menunjukkan harga-harga barang sudah merangkak naik bahkan sebelum harga Pertamax resmi disesuaikan. Kenaikan BBM nonsubsidi ini seolah menjadi beban tambahan di atas beban ekonomi yang sudah bertubi-tubi dipikul masyarakat," pungkas Doni.
3. Harga Bahan Pokok Naik, Pedagang Lontong Sayur di Padang Pertahankan Harga Meski Untung Menipis
Kenaikan harga sejumlah bahan pokok turut dirasakan para pedagang makanan di Kota Padang, Sumatera Barat.
Kondisi tersebut membuat keuntungan pedagang semakin menipis meski harga jual makanan masih dipertahankan.
Salah seorang pedagang lontong sayur di Pasar Raya Padang, Siti Aisyah, mengaku saat ini harus menghadapi kenaikan harga berbagai bahan baku yang digunakan untuk berjualan setiap hari.
Menurutnya, hampir seluruh kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga, mulai dari sayuran, kacang-kacangan, minyak goreng hingga beras.
Siti mencontohkan harga kangkung yang biasa dibelinya seharga Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per ikat kini naik menjadi sekitar Rp 10.000 per ikat.
Baca juga: Harga Emas di Padang Melejit Hari Ini, Satu Ameh Tembus Rp 6 Juta di Pasar Raya
Kangkung tersebut digunakan sebagai salah satu bahan untuk membuat lontong pical yang dijualnya.
"Semuanya bahan pokok mahal, mulai dari sayur, kacang, minyak goreng, beras, kerupuk merah, mi, hingga kangkung," kata Siti Aisyah kepada TribunPadang.com, Jumat (12/6/2026).
Kenaikan harga bahan baku tersebut, menurutnya, berdampak langsung terhadap keuntungan yang diperoleh dari hasil berjualan.
"Tentu keuntungan semakin tipis saat berjualan karena semuanya mahal," ujarnya.
Untuk tetap bertahan, Siti mengaku harus lebih cermat saat berbelanja kebutuhan dagangan di pasar.
"Tentunya saat belanja harus pandai-pandai. Karena keuntungan semakin tipis akibat harga bahan pokok naik," katanya.
Baca juga: Harga Bahan Pokok Naik, Penjual Soto di Padang Ogah Naikkan Harga, tapi Pembeli Tetap Sepi
Meski biaya produksi terus meningkat, Siti memilih tidak menaikkan harga lontong sayur yang dijualnya.
Ia khawatir pelanggan akan beralih ke tempat lain apabila harga dinaikkan.
"Tentu saat ini harus sabar. Karena kalau harga dinaikkan, takut pelanggan mencari tempat yang lain," jelasnya.
Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan pokok sehingga pedagang kecil tetap bisa memperoleh keuntungan yang layak.
"Tentu kami berharap harga bahan pokok kembali normal agar kami bisa mendapatkan keuntungan. Kalau saat ini hanya capek berjualan, untungnya tipis," ujarnya.
Pantauan TribunPadang.com di warung lontong sayur milik Siti pada pukul 12.27 hingga 12.50 WIB tidak terlihat adanya pembeli yang datang.
Baca juga: Penjualan TV di Pasar Raya Padang Masih Sepi Meski Piala Dunia 2026 Sudah Bergulir
Sementara itu, di meja dagangannya masih tampak sekitar setengah porsi lontong sayur yang belum terjual.
Di sela menunggu pelanggan, Siti terlihat duduk bersama anaknya sambil berbincang dengan pedagang lain di sekitar lokasi.
Pedagang Soto Tak Naikkan Harga
Kenaikan harga sejumlah bahan pokok dikeluhkan para pedagang makanan di Kota Padang, Sumatera Barat.
Kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh pedagang semakin menipis, terlebih di tengah kondisi pembeli yang dinilai masih sepi.
Pantauan reporter TribunPadang.com, Muhammad Afdal Afrianto, pada pukul 12.27 WIB terlihat aktivitas jual beli di warung soto milik Asna masih terbilang sepi.
Hanya terlihat seorang pelanggan yang sedang menikmati makanan di warung tersebut.
Di sela menunggu pembeli, Asna tampak menawarkan dagangannya kepada warga yang melintas di depan lapaknya dengan harapan dapat menarik lebih banyak pelanggan.
Baca juga: Penjualan TV di Pasar Raya Padang Masih Sepi Meski Piala Dunia 2026 Sudah Bergulir
Salah seorang penjual soto di Pasar Raya Padang, Asna, mengaku saat ini harus menghadapi kenaikan harga berbagai bahan kebutuhan pokok yang digunakan untuk berdagang.
Diketahui bahwa Pasar Raya Padang berada di dalam kawasan Kelurahan Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang.
Menurutnya, hampir seluruh bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat soto mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir.
"Semua bahan pokok saat ini mengalami kenaikan. Sementara pembeli juga sepi," kata Asna saat ditemui TribunPadang.com, Jumat (12/6/2026).
Baca juga: Harga Plastik di Padang Meroket, Beli Nasi Minta Lauk Dipisah Kini Kena Biaya Tambahan Rp1.000
Meski biaya produksi meningkat, Asna mengaku belum menaikkan harga jual soto yang ia tawarkan kepada pelanggan.
"Soto tidak ada kami naikkan harganya. Harganya masih normal," ujarnya.
Keputusan untuk mempertahankan harga jual tersebut berdampak pada menurunnya keuntungan yang ia peroleh setiap hari.
"Karena harga tidak saya naikkan, tentu keuntungan yang saya peroleh jadi tipis," katanya.
Asna menjelaskan, kenaikan harga terjadi pada sejumlah komoditas penting, mulai dari beras, minyak goreng, cabai hingga telur.
Meski demikian, ia memastikan porsi dan cita rasa soto yang dijualnya tetap dipertahankan agar pelanggan tidak kecewa.
"Meski harga bahan naik, porsi dan rasa soto tidak ada yang berubah. Kalau diubah, nanti orang tidak mau membeli," jelasnya.(*)
Populer Padang hari ini
populer Padang
BERITA POPULER PADANG
Kebakaran di Kota Padang
Kebakaran di Padang
Kampung Jao
Antrean BBM
harga pertamax naik
pertamax naik
Pedagang Lontong
| 4 Berita Populer Padang: Pasar Raya Direvitalisasi, Harga Elektronik & Warung Makan Naik, Emas Turun |
|
|---|
| 3 Berita Populer Padang: Macet Sitinjau Lauik, Dampak Gas Elpiji 3 Kg Langka dan Harga Pertamax Naik |
|
|---|
| 4 Berita Populer Padang: Dapur Hotel Truntum Terbakar, Pelemahan Rupiah Pengaruhi Harga Bahan Pokok |
|
|---|
| 4 Berita Populer Padang: TNI Pindahkan Lapangan Tembak Usai Insiden Peluru Nyasar dan Jadwal SPMB |
|
|---|
| 3 Berita Populer Padang: Evakuasi Pemulung Pingsan dari Bawah Jembatan hingga Penyaluran Air Bersih |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Kebakaran-melanda-kawadaya-Padang-tepatnya-di-dan.jpg)