Harga BBM Naik

Imbas Harga Pertamax Naik Jadi Rp17.000 per Hari Ini, Antrean Pertalite di Padang Membludak

Sebaliknya, pada koridor pengisian untuk produk Pertamax maupun Pertamax Turbo, suasana tampak lengang dan sepi dari aktivitas berarti.

Tayang:
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rezi Azwar
TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia
ANTREAN PERTALITE- Kondisi antrean kendaraan yang akan melakukan pengisian BBM jenis Pertalite di SPBU Pertamina Kayu Gadang, kawasan Simpang Kampus, Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang pada Rabu (10/6/2026) sekitar pukul 10.33 WIB. 
Ringkasan Berita:
  • Harga Pertamax naik jadi Rp17.000 di Sumatera Barat per hari ini.
  • Akibat kenaikan ini membuat antrean di jalur pengisian Pertalite menjadi lebih panjang.
  • Hal itu dikarenakan masyarakat yang biasanya membeli Pertamax kini pindah ke Pertalite yang harganya lebih murah.
  • Pengemudi transportasi daring berharap harga Pertalite tidak ikut naik.

 

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - PT Pertamina Patra Niaga kembali memberlakukan kebijakan penyesuaian harga untuk komoditas Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di seluruh wilayah Indonesia.

 Langkah penyesuaian tarif ini berdampak langsung pada fluktuasi harga eceran di tingkat daerah, termasuk di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Berdasarkan amatan berkala dari situs resmi korporasi pertaminapatraniaga.com pada Rabu (10/6/2026), grafik harga sejumlah produk BBM komersial di ranah Minang memperlihatkan lonjakan yang cukup signifikan.

Pembaruan data yang dirilis per tanggal 10 Juni 2026 tersebut menetapkan regulasi tarif baru yang mengagetkan sebagian kalangan konsumen lokal.

Baca juga: Update Harga BBM di Sumbar Per 10 Juni 2026: Pertamax Tembus Rp17.000 per Liter

Salah satu produk nonsubsidi yang menjadi andalan sebagian masyarakat urban, yaitu Pertamax (RON 92), kini telah menyentuh angka nominal Rp17.000 per liter untuk area distribusi Sumatera Barat.

Papan Digital Berubah, Jalur Pertalite Langsung Mengular

antrean spbu kuranji padang 10/6/2026
ANTREAN PERTALITE- Kondisi antrean kendaraan yang akan melakukan pengisian BBM jenis Pertalite di SPBU Pertamina Kayu Gadang, kawasan Simpang Kampus, Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang pada Rabu (10/6/2026) sekitar pukul 10.33 WIB.

Kenaikan harga yang terbilang drastis ini langsung memicu reaksi berantai di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Padang.

Berdasarkan pantauan Reporter TribunPadang.com, Arif Ramanda langsung di lapangan, tepatnya di SPBU Pertamina Kayu Gadang, kawasan Simpang Kampus, Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang pada Rabu (10/6/2026) sekitar pukul 10.33 WIB, penyesuaian harga baru tersebut sudah terpampang jelas.

Angka Rp17.000 terlihat pada papan pengumuman digital maupun manual di gerbang masuk pengisian.

Kondisi ini seketika mengubah lanskap antrean kendaraan di dalam area SPBU secara drastis dalam beberapa jam saja.

Lini pengisian BBM jenis Pertalite penugasan subsidi tampak mengular panjang, didominasi oleh deretan kendaraan roda dua serta barisan mobil pribadi yang memadati jalur khusus.

Baca juga: Cuaca Kota Padang Rabu 10 Juni 2026 Berawan, BMKG Ingatkan Waspada Perubahan Mendadak

Sebaliknya, pada koridor pengisian untuk produk Pertamax maupun Pertamax Turbo, suasana tampak lengang dan sepi dari aktivitas berarti.

Hanya terlihat satu atau dua unit sepeda motor yang merapat di dispenser tersebut, sementara pemilik kendaraan roda empat sama sekali tidak perlu mengantre lama untuk mendapatkan pasokan.

Seorang operator yang bertugas di SPBU Kayu Gadang, Gilang, memberikan konfirmasi resmi mengenai berlakunya tarif baru tersebut.

Menurut penjelasannya, perubahan harga jual Pertamax dari yang semula berada di kisaran Rp12.500 kini resmi melonjak tajam ke angka Rp17.000 per liter sejak pergantian hari tadi malam.

"Penyesuaian harga untuk Pertamax memang sudah mulai diaplikasikan semenjak tadi malam menjadi Rp17.000 per liternya. Dampaknya bisa dilihat sendiri, dari pagi tadi antrean kendaraan di dispenser Pertalite luar biasa padat, terutama sekali untuk antrean jalur kendaraan roda dua," ujar Gilang di sela-sela kesibukannya melayani konsumen.

Siasat Konsumen: Kurangi Literan hingga Putar Haluan ke Subsidi

Semburan keluhan mulai terdengar dari para pemilik kendaraan roda empat yang terbiasa menggunakan bahan bakar berkualitas tinggi.

Andreas, seorang warga Kota Padang yang tengah mengisi tangki mobil pribadinya, mengaku sangat terkejut saat melihat angka nominal rupiah per liter yang tertera pada mesin dispenser digital.

Meskipun merasa terbebani dengan lonjakan harga yang mendadak ini, ia mengaku terpaksa tetap membeli komoditas tersebut demi menjaga performa mesin kendaraannya.

Strategi yang ia terapkan adalah menetapkan nominal anggaran pembelian yang sama, kendati konsekuensinya kuantitas liter BBM yang didapatkan berkurang banyak.

"Saya jujur baru tahu kalau harga minyak Pertamax ini naik hari ini saat mau isi. Akhirnya saya putuskan tetap mengisi dengan nominal seperti biasanya saja, yakni Rp 250 ribu. Walaupun konsekuensinya jelas, jumlah literan BBM yang masuk ke tangki mobil jadi berkurang jauh dari sebelumnya," tutur Andreas.

Baca juga: Breaking News: BNNP Sumbar Musnahkan 145 Kg Ganja di Krematorium HBT Padang, 4 Tersangka Dihadirkan

Fenomena perpindahan konsumsi akibat disparitas harga ini juga dikonfirmasi oleh Wandi, seorang pengendara sepeda motor yang melintas di kawasan Kuranji.

Pria yang biasanya setia mengisi kendaraan roda duanya dengan varian Pertamax ini sekarang memilih memutar kemudi untuk mengantre di lajur Pertalite yang padat merayap.

Bagi Wandi, perbedaan selisih harga yang mencapai ribuan rupiah per liter memaksa dirinya untuk lebih rasional dalam mengelola pengeluaran harian.

Ia rela menyisihkan waktu lebih lama berdiri di bawah terik matahari demi menghemat anggaran bahan bakar yang kian menguras dompet.

"Biasanya saya malas mengantre panjang, makanya selalu langsung masuk ke jalur Pertamax. Tapi kalau harganya sudah naik begini, tentu harus berpikir dua kali dulu. Selagi tidak sedang tergesa-gesa atau mengejar waktu, lebih baik bersabar sedikit ikut antrean Pertalite yang harganya tidak mengalami kenaikan," beber Wandi.

Nasib Solar Angkutan Logistik dan Jeritan Pengendara Ojol

Keresahan akibat spekulasi kenaikan harga komoditas energi ini rupanya tidak hanya dirasakan oleh para pengguna BBM bensin.

Di sudut lain area SPBU, seorang pengemudi armada truk pengangkut pasir bernama Fauzi tampak menyandarkan tubuhnya di kemudi kendaraan setelah terjebak antrean bahan bakar jenis Solar selama berjam-jam.

Mendengar kasak-kusuk mengenai adanya kenaikan harga produk Pertamax di lokasi, ia langsung berinisiatif menanyakan stabilitas harga Solar kepada petugas lapangan.

Beruntung baginya, kebijakan penyesuaian harga kali ini belum menyentuh sektor BBM bersubsidi untuk angkutan logistik masyarakat tersebut.

"Sangat bersyukur hari ini tarif Solar masih terpantau stabil dan tidak ikut-ikutan naik. Tidak bisa saya bayangkan kalau Solar juga ikut naik harganya, sudahlah proses mengantre di SPBU ini memakan waktu satu jam lebih, ditambah beban biaya mahal pula. Pasti ongkos sewa angkutan pasir jadi tidak seimbang dengan modal jalan," keluh Fauzi.

Kondisi serupa mengenai lonjakan kepadatan kendaraan juga terpantau di SPBU Pisang, Kecamatan Pauh, Kota Padang.

Di lokasi ini, antrean BBM penugasan Pertalite juga didapati mengular hingga mendekati pintu masuk area stasiun pengisian akibat membludaknya jumlah kendaraan konsumen roda dua.

Baca juga: Harga MinyaKita Melonjak Rp18.000 di Pasar Pagi Lubuk Lintah Padang, Pedagang: Modal Juga Naik

Pada jalur pengisian BBM nonsubsidi Pertamax di SPBU Pisang tersebut, pemandangan lengang terlihat sangat kentara.

Hanya ada dua unit kendaraan roda dua yang melakukan pengisian ulang tanpa perlu menunggu giliran, berbanding terbalik dengan pemandangan di sisi jalur subsidi.

Seorang pengemudi transportasi daring (Ojek Online/Ojol) bernama Fuadi, memberikan tanggapan berupa senyuman kecut saat dimintai keterangan seputar penyesuaian tarif energi ini.

Baginya, kehadiran Pertalite dengan harga yang masih terjangkau saat ini merupakan satu-satunya penyelamat kelangsungan profesinya di jalanan.

"Kenaikan tarif ini terasa sangat tiba-tiba sekali bagi kami masyarakat kecil, apalagi angka lompatannya langsung besar. Untung masih ada Pertalite yang jadi penolong harian kami, tidak mungkin dengan pendapatan ojol saat ini kami memaksakan diri membeli BBM non-subsidi dengan harga setinggi itu," kata Fuadi menjelaskan.

Ia menaruh harapan besar kepada pemerintah dan pihak manajemen Pertamina agar tidak menyentuh harga jual BBM jenis penugasan dalam waktu dekat.

Fuadi mengkhawatirkan jika komoditas Pertalite ikut mengalami skema penyesuaian harga, maka efek domino berupa kenaikan harga barang pokok akan menyengsarakan masyarakat luas.

Kekhawatiran Ibu Rumah Tangga dan Kondisi SPBU Jalur By Pass

Senada dengan opini di atas, seorang ibu rumah tangga bernama Asnida yang juga sedang ikut mengantre di barisan Pertalite mengutarakan keluhannya.

Menurutnya, nominal Rp17.000 per liter menuntut pengeluaran biaya transportasi yang terlalu dalam dan berpotensi memotong pos anggaran belanja domestik lainnya.

Baca juga: Beras di Padang Stabil Meski Rupiah Tembus Rp18.078 per Dolar AS, Pedagang Belum Naikkan Harga

"Kalau dipaksakan untuk terus mengisi tangki motor dengan Pertamax, taruhannya tentu bisa mengurangi jatah uang dapur rumah tangga. Makanya lebih baik saya bersabar mengikuti antrean panjang Pertalite ini, atau kalau memang darurat sekali ya terpaksa beli eceran di pinggir jalan saja," ucap Asnida terus terang.

Pantauan visual di titik lain, yakni pada SPBU yang beroperasi di wilayah Kelurahan Tanjung Saba Pitameh, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang sekitar pukul 11.15 WIB, memperlihatkan atmosfer mobilitas yang sejenis.

Gelombang kendaraan truk serta mobil pribadi tampak memadati area pengisian untuk BBM jenis Solar dan Pertalite secara masif.

Dicko, salah seorang pemuda pemilik kendaraan roda dua yang ditemui di SPBU Tanjung Saba Pitameh, mengonfirmasi dirinya sempat berbelok arah akibat perubahan tarif ini.

Pada awalnya ia berniat langsung menuju jalur pengisian BBM non-subsidi guna menghemat waktu perjalanannya hari itu.

Namun langkah tersebut diurungkan seketika setelah matanya menangkap informasi perubahan tarif baru yang tertera jelas pada plang pengisian.

Mengetahui harga jual per liternya telah bertengger di angka Rp17.000, ia langsung memutuskan mengubah haluan motornya masuk ke barisan antrean panjang penikmat Pertalite.(*)

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved