Merajut Asa Usai Empat Kali Dihantam Banjir Bandang Padang
Asa sang anak ucap Asnidar hanya satu, dapat menghadirkan rumah ternyaman bagi dirinya dan keluarga tercinta.
Penulis: Muhammad Iqbal | Editor: Rahmadi
Pembersihan tak bisa dilakukan secara cepat, sebab material yang terbawa oleh banjir cukup banyak. Tanah, kayu, batu bahkan lumpur tak enggan masuk ke rumah milik Asnidar yang sudah jebol sebelumnya.
Baca juga: Prakiraan Cuaca 7 Kota Sumbar Hari Ini: Padang dan Bukittinggi Berpotensi Hujan Ringan
Kurang lebih, semua anggota keluarga melakukan pembersihan selama tiga jam. Sedang asik membersikan itulah, banjir susulan kembali datang.
Tim SAR di lokasi ketika itu, langsung meminta Asnidar beserta keluarga ke tempat yang lebih tinggi. Tepatnya berada di depan rumah Asnidar, sebuah batang durian menjadi tempat pelarian sementara saat banjir susulan di Pasar Lalang.
Kondisinya cukup tinggi, sehingga banjir tidak dapat menjangkau.
"Tidak lama setelah membersihkan rumah, air datang lagi, rumah kembali penuh. Tim SAR langsung mengevakuasi kami ke bawah batang durian di depan rumah, tempatnya cukup tinggi," sebut Asnidar sembari tersandar di kursi.
Di tempat evakuasi sementara itu, lagi-lagi hatinya hancur saat melihat lemari yang sebelumnya sempat terseret dan bersandar di dinding rumahnya hanyut terbawa arus banjir. Tak hanya lemari, barang-barang perabotan lainnya juga tak luput dari derasnya arus banjir di Pasar Lalang Jumat siang itu.
Asnidar histeris dan menangis, warga langsung menahannya untuk tetap kuat dan tegar. Tak sekedar memegang, warga ikut menguatkan hati Asnidar yang hancur melihat kondisi rumahnya.
Baca juga: Truk Rusak di Panorama 1 Sitinjau Lauik Padang Hambat Jalan, Lalu Lintas Masih Lancar Rabu Pagi
"Warga meminta saya bersabar dengan cobaan ini, bahkan mengatakan ada hikmahnya, saya menjawab, bagaimana sabar, sudah hanyut semuanya, sama apa anak saya sekolah, tidak ada baju satu helai pun selamat," ujarnya dengan hati yang masih hancur mengingat momen itu.
31 Januari 2026, petaka serupa kembali datang dan lagi-lagi tembok rumah Asnidar kembali hancur. Hatinya kembali hancur, hendak pasrah namun hidup tetap harus berjalan.
Hingga kejadian terakhir itu, bencana sudah sepenuhnya mereda sampai pertengahan April 2026. Terhitung dua bulan lebih pasca bencana susulan, Asnidar bersama keluarga sudah mulai merajut asa secara perlahan.
Tanggul Sungai Jebol dan Kehidupan Harus Berjalan
Tingginya curah hujan sejak November 2025 hingga Januari 2026 lalu, membuat debit air Sungai Batang Kuranji dan material yang terbawa dari hulu tak mampu menahan amarah. Tanggul penahan jebol dan materialnya merebak ke permukiman dan lahan pertanian warga di Pasar Lalang.
Salah satunya rumah Asnidar, hanya berjarak kurang lebih sekitar 20 kilometer dari sungai. Ketika bencana terjadi, kerasnya tembok dan mampu menahan dahsyatnya banjir bandang di daerah tersebut.
Baca juga: Hulu Batang Kuranji Rusak, Revitalisasi Sungai Bukan Solusi
Material tanah, kayu dan batu besar menutupi lahan pertanian warga, barang-barang perabotan hanyut dan menyisakan luka bagi masyarakat Pasar Lalang.
“Penyebabnya tanggul jebol, awalnya hujan beberapa hari, debit air membesar, ternyata membawa material dari hulu dan menghantam rumah dan lahan warga di sini,” kenang Asnidar.
Kini, tanggul sementara menggunakan batu bronjong sudah dibangun pemerintah pada Februari 2026 lalu. Meski begitu, perasaan harap-harap cemas Asnidar tak mampu ia sembunyikan.
| Hulu Batang Kuranji Rusak, Revitalisasi Sungai Bukan Solusi |
|
|---|
| Hadiri APEKSI 2026, Wawako Padang Apresiasi Expo Banda Aceh Perkuat Kolaborasi Antarkota |
|
|---|
| Akar Masalah Kekeruhan Batang Kuranji Padang: Antara Kerusakan Lahan dan Ancaman Bencana Susulan |
|
|---|
| Jadwal Bioskop Padang Selasa 21 April 2026: Ada Suzzana dan Project Hail Mary |
|
|---|
| Lima Bulan Pasca Galodo Sungai Batang Kuranji Padang Masih Keruh, Deforestasi Sekitar Hulu? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Penampakan-rumdd-lalu.jpg)