Berita Populer Padang

4 Berita Populer Padang: Gudang Ikan Hangus Terbakar dan Kasus Pelecehan Anak di Pasir Jambak

Kekhawatiran keluarga semakin besar karena hingga kini terduga pelaku disebut masih bebas berkeliaran di sekitar rumah korban.

Editor: Rezi Azwar
TribunPadang.com/Damkar Padang
KEBAKARAN RUMAH- Petugas Damkar Kota Padang berupaya memadamkan api yang melahap sebuah rumah dua lantai di kawasan permukiman kawasan Padang Barat, Kota Padang, Senin (19/1/2026). Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerugian materi diperkirakan cukup besar. 

Namun, bagi warga Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Ramadan tahun 2026 ini terasa mencekam dan penuh ketidakpastian.

Sisa-sisa amukan banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 lalu rupanya belum beranjak.

Luka itu masih menganga, seiring dengan hilangnya harta benda dan mata pencaharian warga yang tersapu air bah.

Senin (19/1/2026), suasana di Lambung Bukik masih menyisakan kepedihan. Salah satu warga terdampak, Rumina (52), hanya bisa terduduk lesu saat menceritakan kembali horor mencekam itu.

Baca juga: Sawah Berubah Jadi Sungai, Korban Banjir Bandang Padang Minta Solusi Usaha ke Pemerintah

Padahal, sebelum bencana melanda, ia sempat melihat pohon durian di sekitar ladangnya berbuah lebat. Harapan untuk memanen pundi-pundi rupiah di depan mata seketika sirna dilibas alam.

"Kurang lebih satu hektare kebun durian dan sawah saya sekarang sudah jadi sungai. Tidak ada lagi tanah, yang ada hanya aliran air dan batu," ujar Rumina dengan nada bergetar.

Kehilangan Rumina bukan sekadar lahan. Ia menceritakan, sebanyak 150 karung padi hasil jerih payahnya selama semusim raib tak berbekas.

Padi-padi itu sebenarnya sudah siap di pondok. Ada yang baru saja selesai dipanen, ada pula yang tinggal menunggu proses lanjut. Namun, banjir bandang tidak memberi ampun.

Rumina masih ingat betul bagaimana penampakan air yang datang saat itu. Warnanya keruh pekat, mengalir deras dengan gelombang yang mengerikan.

Baca juga: Harga 6 Komoditas Pangan Ini Kompak Turun Drastis! Seledri Naik Rp12 Ribu

KORBAN BANJIR BANDANG - Rumina (52), korban banjir di Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang Senin (19/1/2026). Rumina kehilangan lahan sawah dan kebun durian yang kini menjadi tumpukan batu dan kayu.
KORBAN BANJIR BANDANG - Rumina (52), korban banjir di Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang Senin (19/1/2026). Rumina kehilangan lahan sawah dan kebun durian yang kini menjadi tumpukan batu dan kayu. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Tak hanya air, material batang kayu besar ikut hanyut dan melibas apa saja yang dilewatinya. Pondok tempat menyimpan padi miliknya rata dengan tanah dalam hitungan sekejap.

"Air tinggi sekali, warnanya keruh. Batang-batang kayu besar dilibasnya, airnya menggelembung (bergelombang)," kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Kini, menjelang bulan Ramadan yang tinggal hitungan minggu, Rumina dirundung kebingungan luar biasa. Ia mengaku kehilangan arah untuk mencari biaya hidup sehari-hari.

"Tidak tahu lagi apa yang mau diusahakan sebelum Ramadan nanti untuk memenuhi hidup. Usaha sudah tidak ada lagi, sawah sudah hilang," keluhnya pilu.

Ia sangat berharap pemerintah segera turun tangan melakukan perbaikan sawah. Pasalnya, kerusakan yang terjadi sudah sangat parah dan mengubah topografi lahan menjadi aliran sungai.

Baca juga: Terkendala AMDAL dan Izin Hutan, Jembatan Lanai Hilir-Batang Kundur di Pasaman Belum Dibangun

Namun, Rumina menegaskan bahwa warga tak ingin sekadar dikasihani dengan bantuan paket sembako terus-menerus. Ia butuh solusi jangka panjang agar sektor usahanya kembali pulih.

"Harapan saya, pemerintah harus ada solusi kedepannya soal usaha. Tidak mungkin kami bergantung pada bantuan terus-terusan, kami ingin bekerja lagi," tegasnya.

Di tengah cobaan berat itu, Rumina mencoba tetap tegar. Ia meyakini bahwa setiap musibah yang diberikan Tuhan pasti memiliki rahasia dan hikmah yang baik di baliknya.

Nasib serupa dialami oleh warga lainnya, En Candra. Jika Rumina kehilangan sawah, En Candra harus menerima kenyataan pahit rumahnya hancur dihantam banjir bandang.

Hingga saat ini, sisa-sisa lumpur masih terlihat jelas di kediamannya. Kondisi bangunan rumahnya pun memprihatinkan dengan tembok yang sudah bolong di berbagai sisi.

"Setiap ruangan dipenuhi lumpur. Dinding rumah jebol dihantam kayu dan air," ujar En Candra memperlihatkan kondisi rumahnya yang tak lagi layak huni.

4. Sumur Kering Total, Begini Cara Warga Padang Ajukan Bantuan Air Bersih ke BPBD, Siapkan Syarat Ini

KRISIS AIR BERSIH- Sejumlah masyarakat menunggu kedatangan mobil tangki pengangkut air bersih di kawasan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sabtu (17/1/2026).
KRISIS AIR BERSIH- Sejumlah masyarakat menunggu kedatangan mobil tangki pengangkut air bersih di kawasan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sabtu (17/1/2026). (TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman)

Krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kota Padang, khususnya di Kecamatan Pauh dan Kuranji, kian memprihatinkan. 

Warga di Kelurahan Binuang Kampuang Dalam masih bergantung  pada kiriman bantuan truk tangki.

Kondisi sumur warga yang mengering total pascabencana banjir besar November 2025 lalu membuat kebutuhan akan air bersih menjadi urusan hidup dan mati.

Namun, tidak sedikit warga yang masih bingung bagaimana cara mendapatkan bantuan distribusi air tersebut secara resmi.

Pemerintah Kota Padang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memastikan bahwa layanan distribusi air ini tersedia bagi seluruh masyarakat yang terdampak secara kolektif.

Baca juga: Nasib Korban Galodo Padang, Huntap Kapalo Koto Mulai Dibangun Akhir Januari Usai Hunsela Rampung

Bagi masyarakat yang wilayahnya mengalami krisis air serupa, BPBD Kota Padang telah membuka jalur komunikasi khusus. 

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melaporkan kondisi terkini melalui kontak resmi yang telah disediakan.

Warga dapat menghubungi nomor kontak Pusdalops BPBD Kota Padang di 085891522181. 

Layanan ini siaga untuk menerima laporan terkait titik-titik lokasi yang memerlukan suplai air darurat.

Namun, pelaporan tidak bisa dilakukan secara asal. Albanna, selaku Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Padang, menekankan pentingnya akurasi data dalam setiap laporan yang masuk.

Dalam melaporkan kebutuhan air, warga diminta untuk menyertakan alamat yang jelas dan detail.

Baca juga: 23 Tahun SPSC, Wali Kota Padang Ajak Komunitas Jalan Pagi Jaga Kota Tetap Sehat

Hal ini bertujuan agar armada tangki tidak kesulitan menemukan titik distribusi saat melakukan mobilisasi di lapangan.

Selain alamat, warga juga diwajibkan untuk menyediakan data kependudukan berupa Kartu Keluarga (KK). 

Pendataan ini dilakukan agar penyaluran bantuan tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan secara administrasi oleh pemerintah daerah.

Setelah laporan diterima dan diverifikasi, tim BPBD akan menjadwalkan pengiriman. Di lokasi terdampak seperti di RT 04 RW 04 Binuang Kampuang Dalam, warga biasanya sudah berjejer rapi dengan wadah penampungan.

Warga menyiapkan wadah seperti ember, jeriken, atau bak penampungan darurat di pinggir jalan utama. Penyiapan wadah ini penting untuk mempercepat proses pengisian dan distribusi ke seluruh warga yang mengantre.

Baca juga: Edukasi Keselamatan Listrik Sejak Dini, PLN UP3 Padang Sasar Mahasiswa Politeknik Aisyiah Sumbar

Tidak ada batasan jumlah air yang boleh diambil per kepala keluarga. Selama warga memiliki wadah yang cukup, petugas akan membantu mengisi hingga penuh demi memenuhi kebutuhan domestik mereka.

Satu hal yang perlu dicatat oleh masyarakat adalah mengenai skala prioritas pengisian. BPBD Kota Padang menegaskan bahwa mereka tidak melayani pengisian tandon atau tedmon yang berada di dalam rumah atau area privat.

Kebijakan ini diambil untuk menjamin prinsip keadilan. Fokus utama petugas adalah mengisi wadah-wadah yang diletakkan di luar rumah atau di area publik agar akses air dapat dinikmati oleh orang banyak secara merata.

"Kami memprioritaskan kepentingan orang banyak. Pengisian wadah di luar lebih efisien agar seluruh warga dalam satu kawasan bisa mendapatkan jatah yang adil," jelas Albanna.

Saat ini, BPBD mengerahkan dua unit mobil tangki yang bekerja hampir tanpa henti dari pukul 04.00 WIB dini hari. Dalam satu hari, total distribusi air mencapai sekitar 70.000 liter melalui 14 trip pengiriman.(*)

Sumber: Tribun Padang
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved