Opini

Perilaku Digital Lansia

Di era digital saat ini, perkembangan teknologi telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk cara kita berinteraksi, bekerja, dan mengakses infor

Editor: Rahmadi
Kompas.com
Ilustrasi lansia - Salah satu tantangan besar yang dihadapi lansia di era digital adalah kurangnya pemahaman tentang cara kerja algoritma media sosial. 

Oleh Annisa Anindya, penulis Dosen Ilmu Komunikasi Unand

Salah satu alasan mengapa lansia rentan terhadap penipuan digital adalah karena mereka termasuk kategori "digital immigrant," yaitu individu yang lahir sebelum teknologi digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di era digital saat ini, perkembangan teknologi telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk cara kita berinteraksi, bekerja, dan mengakses informasi. Namun, bagi kelompok lanjut usia (lansia), perubahan ini justru membawa tantangan tersendiri. Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2023, sekitar 52 persen lansia di atas usia 60 tahun telah menggunakan internet, terutama untuk aktivitas komunikasi dasar seperti melalui WhatsApp dan Facebook. Meski jumlah pengguna internet lansia meningkat, pola konsumsi informasi mereka cenderung pasif dan kurang kritis. Banyak lansia masih menganggap internet sebagai tempat yang aman, terutama jika mereka belum pernah menjadi korban kejahatan siber. Mereka cenderung merasa nyaman membagikan informasi pribadi seperti nomor telepon atau kartu kredit secara online, tanpa menyadari risikonya. Beberapa dari mereka juga tidak menyadari bahaya menggunakan jaringan Wi-Fi publik untuk transaksi keuangan atau mengunduh aplikasi dari sumber yang tidak terpercaya. Minimnya kesadaran terhadap risiko digital ini membuat lansia menjadi target yang mudah bagi pelaku kejahatan siber

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui karakteristik lansia yang tumbuh di era media tradisional seperti cetak, radio, dan televisi, yang pada masanya memiliki pengawasan editorial ketat sehingga konten yang disajikan lebih bisa dipercaya. Namun, dalam dunia digital, konsumsi informasi telah berpindah ke internet, di mana siapa pun dapat menjadi sumber informasi. Lansia, yang tidak terbiasa dengan mekanisme verifikasi informasi digital, sering kali kesulitan membedakan mana informasi yang akurat dan mana yang merupakan hoaks atau penipuan.

Baca juga: Opini : Meracik Bahasa dalam Komunikasi

Lansia sebagai "Digital Immigrant"

Salah satu alasan mengapa lansia rentan terhadap penipuan digital adalah karena mereka termasuk kategori "digital immigrant," yaitu individu yang lahir sebelum teknologi digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Lansia membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dibandingkan generasi muda yang disebut "digital native" dan telah terbiasa dengan teknologi sejak kecil. Imigran digital umumnya tidak memiliki pemahaman mendalam tentang dunia digital, membuat mereka kesulitan mengoperasikan perangkat dan memahami risiko keamanan di dunia maya.

Serangan dunia maya yang umum menargetkan lansia adalah phishing dan scamming. Pelaku penipuan sering kali memanfaatkan kepercayaan lansia terhadap otoritas. Mereka bisa menyamar sebagai petugas bank, rumah sakit, atau instansi resmi lainnya, meminta data pribadi seperti nomor rekening atau kartu kredit. Lansia yang tidak menyadari risiko ini kerap kali dengan mudah memberikan informasi sensitif kepada penipu.

Trik Penipuan yang Menargetkan Emosi Lansia

Salah satu kasus penipuan yang sering terjadi di Indonesia adalah modus "mama minta pulsa," di mana pelaku mengaku sebagai anggota keluarga yang membutuhkan bantuan mendesak. Modus ini sangat efektif karena memanfaatkan emosi dan kekhawatiran korban, yang umumnya lansia. Ketidakmampuan lansia untuk memverifikasi informasi secara cepat membuka peluang bagi penipu untuk mengambil keuntungan.

Selain itu, penipuan melalui telepon atau email dengan modus serupa juga umum terjadi. Pelaku menyamar sebagai teman dekat atau kerabat yang memerlukan bantuan finansial. Lansia yang terdesak oleh rasa tanggung jawab atau kekhawatiran sering kali memberikan bantuan tanpa memeriksa kebenaran informasi yang diterima.

Baca juga: Opini : Peran Pragmatik dalam Komunikasi Sehari-hari

Peran Algoritma dan Keamanan di Media Sosial

Salah satu tantangan besar yang dihadapi lansia di era digital adalah kurangnya pemahaman tentang cara kerja algoritma media sosial. Algoritma dirancang untuk menampilkan konten yang viral atau sensasional, sering kali mengabaikan keakuratan informasi. Lansia, yang kurang memahami konsep ini, cenderung menganggap konten yang muncul di beranda media sosial sebagai fakta, padahal bisa jadi informasi tersebut palsu atau bersifat menipu. Konten yang diulang-ulang oleh algoritma dapat memperkuat kepercayaan lansia terhadap informasi yang salah, membuat mereka semakin rentan terhadap penipuan.

Selain itu, pengaturan privasi di media sosial juga menjadi masalah bagi lansia. Banyak dari mereka tidak memahami pentingnya melindungi informasi pribadi atau bagaimana cara melakukannya. Pengaturan privasi yang tidak aman membuka celah bagi pihak ketiga untuk mengakses data pribadi, yang kemudian dapat digunakan untuk penipuan berbasis identitas atau tindakan kejahatan lainnya. Keterbatasan pengetahuan lansia tentang pengaturan privasi akun di media sosial juga meningkatkan risiko kejahatan siber. Banyak lansia tidak memahami pentingnya melindungi informasi pribadi mereka atau bahkan bagaimana melakukannya. Dengan pengaturan yang tidak aman, informasi pribadi mereka dapat dengan mudah diakses oleh pihak ketiga, yang bisa memanfaatkannya untuk penipuan berbasis identitas. Tanpa kesadaran ini, lansia mungkin tidak menyadari bahwa informasi mereka bisa digunakan untuk membuat akun palsu atau bahkan melakukan transaksi finansial atas nama mereka.

Untuk melindungi lansia dari kejahatan siber, edukasi menjadi kunci utama. Pemerintah, komunitas, dan keluarga harus mengambil peran aktif dalam mengedukasi lansia tentang cara mengenali penipuan digital dan menjaga keamanan informasi pribadi mereka. Lansia perlu diajari untuk selalu skeptis terhadap permintaan informasi yang tidak biasa dan memverifikasi keabsahan sumber sebelum membagikan data pribadi. Pengawasan yang ketat serta peningkatan literasi digital bagi lansia akan sangat membantu dalam mengurangi risiko penipuan digital yang terus meningkat di era ini.(*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved