Banjir Lahar Dingin Gunung Marapi

Bak Diterjang Tsunami, Jhoni Wismar Cerita Seberapa Menakutkan Banjir Bandang Sungai Pua Agam Sumbar

"Airnya sudah seperti tsunami Aceh saja, sangat tinggi dan menakutkan," ujar Jhoni Wismar menceritakan ngerinya banjir bandang yang menghantam Galuang

Penulis: Panji Rahmat | Editor: Rizka Desri Yusfita
TribunPadang.com/Panji Rahmat
Jhoni Wismar bersama saudaranya sedang memisahkan trali besi dari Kunsen jendela, yang merupakan puing dari rumahnya setelah habis dihantam banjir di Galuang, Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat, Selasa (14/5/2024). 

TRIBUNPADANG.COM, AGAM - "Airnya sudah seperti tsunami Aceh saja, sangat tinggi dan menakutkan," ujar Jhoni Wismar menceritakan ngerinya banjir bandang yang menghantam Galuang, Kecamatan Sungai Pua, Agam, Sumbar, Sabtu (11/5/2024) malam.

Beruntung pada malam itu, Jhoni sedang tidak berada di rumah bersama keluarga.

Ia menginap di rumah saudara karena akhir pekan.

Tapi, mendengar banjir sejak pagi ia sudah datang ke lokasi melihat rumahnya, rumah yang kiranya hanya menyisakan pondasi saja.

Baca juga: Hanya Sisa Pondasi, Jhoni Wismar Tetap Kumpulkan Puing Rumah Pasca Banjir Bandang Agam Sumbar

Selasa (14/5/2024) pagi, Jhoni bersama saudaranya sibuk memisahkan trali besi dari Kunsen jendela berwarna cream bergelimang lumpur.

Palu, linggis dan kapak bergantian ia gunakan untuk membuka trali tersebut dan memisahkannya untuk dibawa ke rumah saudaranya.

Kunsen pintu jendela dan tralinya ini hanyut hampir 50 meter dari rumah Jhoni yang sekarang hanya tersisa pondasi batu saja.

"Jendelanya ketemu di sini, jadi saya kumpulkan saja. Soalnya rumah sudah tidak ada lagi," ujarnya.

Kemarin ia juga menemukan sejumlah meja berjarak 5 Kilo dari rumahnya.

Sedangkan peralatan elektronik seperti kulkas, Tv, mesin cuci dan lainnya tidak tahu ada dimana.

Baca juga: Momen-Momen Menggetarkan dari Dahsyatnya Banjir Bandang yang Landa Nagari Parambahan Tanah Datar

Puing rumah semi permanen berukuran 8 X 12 meter sudah tidak terlihat lagi dimana rimbanya.

Semua itu hanyut terbawa oleh air yang hampir setinggi lima meter lebih, bersama batang beringin dan sampah.

"Kerugian entah berapa banyaknya tidak bisa saya perkirakan lagi," ujarnya dengan tatap mata nanar.

Jhoni tidak mengerti harus bagaimana dengan dampak banjir ini, sementara ia hanya bisa tinggal di rumah saudara.

"Pengungsian tidak ada, warga yang rumahnya habis cuma menyelamatkan diri masing-masing," terangnya.

Setelah berjam-jam memisahkan trali dan jendela, Jhoni kembali ke rumah saudaranya, ia tidak melihat lagi kondisi rumahnya.(*)

Sumber: Tribun Padang
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved