Banjir Lahar Dingin Gunung Marapi

Warga Nagari Koto Tuo Agam tidak Sangka akan Datang Banjir Bandang, Riswan: Semua Berlangsung Cepat

Banjir bandang yang datang secara tiba-tiba membuat warga Nagari Koto Tuo, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pasrah.

Penulis: Panji Rahmat | Editor: Rizka Desri Yusfita
TRIBUNPADANG.COM/RAHMAT PANJI
Sejumlah anak-anak tampak hati-hati berjalan melewati jalan yang masih dipenuhi sisa lumpur pasca banjir bandang Agam, Sabtu (11/5/2024). Sementara itu warga bersama petugas gabungan mulai membersikan material sisa banjir. 

TRIBUNPADANG.COM, AGAM - Banjir bandang yang datang secara tiba-tiba membuat warga Nagari Koto Tuo, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pasrah.

Mereka tidak menyangka banjir akan datang sehingga tidak ada persiapan sama sekali.

"Semua berlangsung sangat cepat, bunyi batu bergesekan dan suara air bergemuruh."

"Akhirnya rumah, kendaraan, warung dan sekolah hilang," ujar Riswan mengenang malam mengerikan saat banjir besar itu terjadi.

Baca juga: Riswan Kenang Malam Mengerikan: Rumah, Sekolah, dan Kendaraan Hilang Disapu Banjir Bandang di Agam

Menurut Riswan, banjir terjadi sekira pukul 22.15 WIB, Sabtu (11/5/2024).

Kedatangan banjir tidak pernah terbayangkan oleh warga setempat.

Sebab, sejak lahar dingin gunung Marapi mengganas, daerah tempat mereka tinggal memang tidak pernah terdampak.

Bahkan, beberapa warga tidak ingat betul kapan terakhir banjir serupa ini terjadi.

Beberapa dari warga menyebut tahun 2010, tapi tidak semuanya sepakat itu disebut banjir besar.

Baca juga: Pengakuan Korban Banjir Bandang Agam, Martis: Pemerintah Sempat ke Sini, Lihat-Lihat Jauh Saja

Melihat banjir yang terjadi kali ini, masyarakat menganggapnya galodo, karena kedatangannya yang tidak disangka dan sangat besar.

Riswan menyebut banjir ini membawa kayu setinggi 2 meter hingga 8 meter dan bebatuan yang sangat besar, sekira ukuran mobil dan motor.

"Airnya juga sangat amat besar, sehingga banyak bangunan hilang tak tersisa terdampak banjir ini," ujarnya ditemui, masih menggunakan sepatu boot dan bercucuran keringat.

Ia mengungkapkan satu sekolah nyaris tak tersisa di IV Koto Agam.

Rumah makan, warung dan rumah warga juga hilang entah kemana puingnya.

Baca juga: Pilu Martis Korban Banjir Bandang Agam: Mobil Hanyut, Warung Tak Bersisa Disapu Banjir

Semua itu terjadi dalam waktu singkat, kondisi warga juga pasrah, karena memang tidak ada yang memprediksi galodo bisa terjadi malam itu.

"Kendaraan yang terparkir di luar rumah, turut disapu oleh banjir besar ini," ujarnya.

Menurutnya, kalau menaksir kerugian, mungkin bisa mencapai miliaran rupiah untuk nagari Koto Tuo saja.

Sekarang masyarakat setempat bersama BPBD, SAR, TNI dan Polri hanya bisa bahu membahu membersikan material banjir dan menyemangati masing-masing.(*)

Sumber: Tribun Padang
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved