Kabupaten Solok

Balada Rantai Distribusi Bawang Merah di Pasar Parayiah Solok

Pasar Parayiah di kawasan terminal Bareh Solok, Kota Solok, Sumatera Barat (Sumbar) adalah mata rantai terakhir sebelum hasil bumi sebelum dijual.

Penulis: Nandito Putra | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Nandito Putra
Suasana di Pasar Parayiah Solok, Sumatera Barat. Pasar ini menjadi terminal tempat berakhirnya sejumlah komoditas pertanian di Solok sebelum didistribusikan ke berbagai daerah, Kamis (6/4/2023) 

TRIBUNPADANG.COM, SOLOK - Pasar Parayiah di kawasan terminal Bareh Solok, Kota Solok, Sumatera Barat (Sumbar)  adalah mata rantai terakhir sebelum hasil bumi yang ditanam petani merambah berbagai pasar di sejumlah daerah.

Ragam jenis rempah dan bumbu masak ada di sini untuk didistribusikan oleh para pemasok ke berbagai daerah seperti Pekanbaru, Medan, Jambi, Padang, Dharmasraya dan kota-kota lain di Sumatera.

Pasar ini didominasi oleh para penjual bawang merah. Mereka bukan penjual bawang biasa. Sekali angkut dari ladang bisa 5 ton. Petani menyebutnya tauke alias tengkulak.

Sore itu, Kamis (6/4/2023), aroma bawang merah menyeruak di udara, saling berebut tempat dengan aroma lain yang tak kalah menyengat: lobak, cengkeh, daun bawang, wortel.

"Kalau untuk ke Jawa tergantung kondisi, seperti bawang merah, kalau stok di Jawa kurang atau gagal panen, ada agen yang bawa ke sana," kata Zumadir kepada Tribunpadang.com, Kamis (6/4/2023).

Baca juga: Ngabuburit di Tugu Ayam Kukuak Balenggek, Unggas Endemik yang Jadi Landmark Kabupaten Solok

Zumadir sudah 8 tahun jadi tengkulak. Saban musim panen ia dengan pikap Mitsubishi hitam akan menadah bawang dari petani di berbagai Nagari penghasil bawang di Kabupaten Solok.

Nagari Alahan Panjang, Koto Anau, Sungai Nanam adalah pemasok bawang merah terbesar di Solok, bahkan Sumatera Barat.

Menjadi tengkulak, kata pria 56 tahun ini, bukan perkara modal belaka. Bila tak pandai membangun jaringan, barang lama lakunya. Salah perhitungan risikonya bisa rugi.

Paling banter dijual murah walaupun tetap di atas modal. "Tetapi sedikitlah untung jadinya, lepas makan saja kalau dijual murah," ujar Zumadir.

"Tapi sekarang," ia menghela napas, "sudah tiga hari belum ada yang angkut ini bawang".

Baca juga: Harga Bawang Merah Turun di Pasar Sijunjung, Diprediksi Naik Jelang Hari Raya Idul Fitri

Di tengah cuaca terik panas, Eliar terlihat terkantuk-kantuk di bawah tenda yang menyerupai payung besar. Atap tenda bewarna oranye menyala itu menyilaukan mata ketika memantulkan sinar matahari.

Kipas angin portabel berbentuk kepala Doraemon yang ia pegang seolah menatap Eliar tanpa bosan.

"Harga bawang sekarang masih stabil," ujar perempuan 43 tahun ini. Hari itu ia membawa 2 ton bawang merah. Tapi yang dipajang di lapak hanya 10 karung.

"Sisanya ada di oto (mobil), ini sedang menunggu yang menjemput dari Dumai," kata Eliar.

Dua pekan pertama Ramadan harga bawang di tingkat konsumen untuk ukuran jumbo atau super, mentok di harga Rp. 28 sampai Rp. 30 ribu/kg.

Baca juga: Kanwil Kemenag Solok Selatan Imbau UMKM Segera Urus Sertifikasi Halal

Halaman
12
Sumber: Tribun Padang
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved